IBNU BATUTAH (Pengembara Muslim Terbesar Dan Tak Terkalahkan)

October 05, 2017 0 Comments


Ibnu Batutah dikenal sebagai muslim penjelajah terbesar sepanjang sejarah. Minimnya transportasi tak menghalanginya untuk bertamasya dan berziarah. Namun, ia harus kuat dan tabah dalam menjalaninya. Saat itu, ia telah menempuh perjalanan berjarak 75.000mil; rekor yang tak ada duanya. Ia sudah melintasi batas dari Jazirah Arabia hingga Asia, bahkan Eropa. Para ahli sejarah meyejajarkan namanya dengan Marcopolo, Hsien Tsieng, Drake dan Magellan yang dikenal sebagai para penakluk dunia.
Ibnu Batutah lahir pada 24 Februari 1304 M di daerah Tangiers, Maroko, Afrika Utara. Ia masih keturunan suku Barbar di Lawata. Nama lengkapnya adalah Abu Abdillah Muhammad ibn Abdillah al-Lawati at-Tanji. Ia dibesarkan dalam keluarga yang cerdik dan pandai. Keuarganya dikenal sebagai pemasok ahli jurisprudensi dan banyak yang menjadi qadhi( hakim). Saat kecil, ia banyak belajar fiqh dan sastra. Ia termasuk orang yang tekun, cerdas dan berwawasan luas.
Pada 14 Juni 1325, Ibnu Batutah pergi meninggalkan Tangiers untuk menunaikan ibadah haji. Sewaktu itu, ia berusia 21 tahun. Ia menyeberangi Tunisia dan hampir seluruh perjalanannya ditempuh dengan jalan kaki. Tentunya, ini rekor tersendiri baginya. Medan yang dilaluinya begitu sulit. Transportasi pu berbelit. Tak banyak yang bisa diandalkan. Tanpa tekad yang kuat, tak mungkin perjalanan itu ditempuh.
Ibnu Batutah tiba di Alexandria, Mesir pada 15 April 1326. Di sana, ia menghadap Sultan Alexandria. Karena perjalanan yang ditempuhnya begitu jauh, Sultan Alexandria memberinya uang untuk bekal perjalanan. Ia pergi ke mekah melalui Kairo, Aidhab, sampai Laut Merah. Namun, rute itu banyak penyamunnya. Ia pun kembali ke Kairo dan meneruskan perjalanannya lewat Gaza, Palestina, Hamah, Aleppo dan Damaskus. Akhirnya, ia sampai di Mekah pada Oktober 1326.
Selama menunaikan ibadah haji, Ibnu Batutah bertemu dengan kaum muslim dari berbagai penjuru dunia. Ia melihat berbagai suku yang berbeda, beragam bahasa yang tidak sama, serta variasi budaya yang beraneka. Hal itu cukup menakjubkannya. Ia tak puas hanya melihat sekilas. Akhirnya, ia pun memutuskan untuk menimba pengalaman ke mancanegara dan untuk itu, ia membatalkan keinginannya untuk pulang, meskipun ia dihunjam rindu yang tak kepalang.
A.   Sang Penjelajah Dunia
Mengawali penjelajahannya, Ibnu Batutah menyeberangi Gurun Pasir Arabia dan sampailah ia di Persia (Irak dan Iran). Dari sana, ia sekali lagi pergi ke Damaskus, menuju Mosul dan kembali lagi ke Mekah. Ia pun menunaikan ibadah haji yang kedua kali. Bahkan, ia sempat bermukim di sana selama 3 tahun (1328-1330).
Dari Mekah, Ibnu Batutah berlayar ke Somalia menuju pantai-pantai Afrika Timur, termasuk Zeila dan Mambasa. Kemudian, ia meneruskan perjalanannya ke Oman, Hormuz (Teluk Persia) dan Pulau Dahrain. Ia pun menyempatkan diri untuk pergi ke Mekah dan menunaikan ibadah haji yang ketiga kali pada 1332.
Setelah beristirahat sebentar, Ibnu batutah kembali mengarungi samudra melewati Laut Merah, Nubia, Nil Hulu, Kairo, Syria dan tiba di Lhadhiqiya. Sesudah itu, ia kemabali berlayar menaiki kapal Genoa ke Alaya (Candelor) di Pantai Selatan Asia Kecil. Tak lama berselang, Ibnu Batutah melanjutkan perjalanan darat di Jazirah Anatolia sampai akhirnya tiba di Sanub (Sinope), sebuah pelabuhan di Laut Hitam. Lalu, ia naik sebuah kapal Yunani menuju Caffa dan menyeberangi Laut Azow sampai stepa-stepa di Rusia Selatan. Bahkan, konon, ia sampai di Istana Sultan Muhammad Uzbeq Khan di Serai.
Tak berhenti di sana, Ibnu Batutah melanjutkan perjalanan ke utara menuju Balghar di Siberia untuk merasakan pendeknya malam musim panas dan ia ingin melanjutkan perjalanan ke “Tanah Gelap” (Rusia paling utara). Namun, hal ini ururng dilakukanya karena iklim yang teramat dingin. Ibnu Batutah kembali ke Balghar dan ia diminta mengawal Permaisuri Sultan Uzbeg Khan, Khantun Pylon, ke Konstantinopel (Byzantium). Di sana, ia menyempatkan diri menghadap Kaisar Byzantium, Audranicas III (1328-1341).

Dari Byzantium, Ibnu Batutah kembali ke Serai untuk pamit kepada Uzbeg Khan. Lalu, ia menuju Bukhara, Persia Utara, Afghanistan dan akhirnya tiba di Kabul. Setelah itu, pria Maroko ini menyusuri Sungai Sind dan ia sampai di Bakkar. Kemudian, ia berjalan melewati kota Uja (Uch), pusat dagang di tepi Sungai Indus dan sampai di Multan. Dari Multan, ia melanjutkan perjalanan ke Delhi. Jaraknya cukup jauh dan bisa ditempuh kira-kira 40 hari perjalanan.
Sebelum tiba di Delhi, Ibnu Batutah sempat singgah di Ajudhan (Pakpattan), sebuah kota kecil tempat mukim Syekh Fariduddin yang Shalih. Ia menghadap Syekh Fariduddin. Di sana, untuk pertama kalinya, ia melihat “Sati”.
Sesampainya di Delhi, Ibnu Batutah ditunjuk menjadi qadhi negara oleh Sultan Muhammad Tughlaq. Ia tinggal selama 8 tahun di Delhi. Kemudian, ia dilantik oleh Sultan Muhammad untuk menjadi Duta Besar di Kerajaan Cina. Namun, kemalangan menimpanya. Dalam perjalanan, ia dirampok oleh para penyamun di Jalali, dekat Aligarh. Hartanya dirampas dan ia pun di tawan.
Berkat pertolongan orang misterius, Ibnu Batutah bebas dari hukuman dan kembali berlayar menuju Calicut. Tetapi derita kembali menerpanya. Semua barang bawaannya musnah karena kapalnya tenggelam. Oleh karena itu, ia tidak kembali ke Delhi. Ia melanjutkan perjalanan ke Maladewa.
Pada tahun 1344, Ibnu Batutah mengunjungi Sri Lanka. Lalu, ia berlayar ke timur. Sekitar 43 hari kemudian, tibalah ia di Chittagong, Dacca dan Sumatra. Di Sumatra, ia tinggal selama 15 hari sebagai tamu sultan. Dari Sumatra, ia kembali berlayar menuju Malaya dan mendarat di Amoy, Cina. Dari sini, putra Tangiers itu memutuskan membalik perjalanannya. Ia melewati Sumatra, Malabar, India, Oman dan Persia serta menyeberangi Padang Pasir Palmyra sampai Damaskus. Dari sana, ia kembali bersimpuh di depan Ka’bah untuk keempat kalinya pada tahun 1348.
Setelah menunaikan haji ini, Ibnu Batutah melanjutkan perjalanannya melewati Jerusalem, Gaza, kairo dan Tunisia. Lalu, ia naik perahu menuju Maroko. Ia sempat mengunjungi Dardinia dan tiba di Fez, ibu kota Maroko pada 8 November 1349. Sebelum benar-benar menetap di Maroko, Ibnu Batutah menjelajah lagi. Tercatat, ia melakukan perjalanan dua kali. Pertama, ia menyeberangi Gurun Pasir Sahara di Afrika tengah hingga mencapai Timbuktu. Kedua, ia menyambangi Eropa, terutama Spanyol, Romawi Timur, serta Rusia Selatan. Ia kembali ke Fez pada tahun 1354, dan ia menetap di sana.
B.    Merenda Pengalaman lewat tulisan
Perjalanan panjang yang ditempuh oleh Ibnu Batutah memang mengesankan. Banyak hal yang ia alami. Ragam kehidupan pun ia selami. Diperkirakan, jarak yang ia tempuh sejauh 75.000 mil telah melampaui rekor perjalanan Marcopolo, sepanjang kelananya, ia telah mengunjungi hampir seluruh negara musllim di tiga benua, yakni Asia, Afrika dan Eropa. Sering kali ia bertemu dengan para pemimpin negara-negara  itu. Sungguh, banyak pengalaman menariknya yang asyik untuk disimak.

Di antaranya adalah perjalanan Ibnu Batutah ke daerah Kabul, Afghanistan. Di pegunungan Hindu Kush. Ia bertemu dengan seorang yang konon berusia 350 tahun. Lebih aneh lagi, menurut penuturan orang itu, gigi barunya tumbuh setiap seratus tahun.
Di daerah Sind, Ibnu Batutah juga menyaksikan hal yang menakjubkan. Ia melihat seekor badak untuk pertama kalinya di sana. Ia juga bertemu dengan suku Samira yang mendiami daerah Janani. Menurutnya, mereka tidak pernah makan bersama orang lain. Mereka juga tidak mau menikah dengan orang-orang di luar suku mereka.
Di Siwasitan, masih di daerah Sind, Ibnu Batutah juga menyaksikan pemandangan unik. Kota itu terletak di tengah gurun pasir yang luas. Tak ada tanaman yang tumbuh di sana, kecuali labu. Makanan penduduk daerah itu adalah sorgum dan kacang polong yang dibuat roti. Di Ajudhan, utuk pertama kalinya, Ibnu Batutah menyaksikan “Sati”. Sewaktu itu, ia sedang erkunjung ke rumah Syekh Fariduddin. Tetapi, tiba-tiba banyak orang bergegas keluar. Ia pun bertanya-tanya dalam hatinya mengenai apa yang terjadi saat itu. Ternyata, ada seorang Hindu yang baru saja meninggal. Maka, dipersiapkanlah api untuk membakar jenazahnya dan yang lebih mencengangkan, sang istri pun turut membakar diri bersama jenazah suaminya. Ia sempat menyaksikannya. Ia juga melihat kaum Hindu yang mandi di sungai “Suci” Gangga.
Perjalanannya menuju Sumatra juga memukau bagi Ibnu Batutah. Ia menceritakan bahwa dalam perjalanan itu, ia dan kawan-kawannya merasakan laju angin yang segar. Laju angin tersebut membawa kapal yang mereka tumpangi menyeberangi Lautan Cina. Hingga tiba-tiba, mereka dikejutkan oleh angin kencang yang mengguncang kapal. Seketika, cuaca berubah gelap. Hujan pun turun lebat. Hal ini berlangsung terus-menerus. Selama 10 hari, mereka tidak dapat melihat matahari.
Kapal terus berlayar hingga memasuki sebuah lautan yang tak dikenal. Para penumpang pun resah. Mereka ingin kembali ke Cina. Namun, karena cuaca yang tidak bersahabat dan tersesat di daerah asing, mereka pun pasrah. Selama 42 hari, mereka terapung di atas lautan tanpa arah. Keesokan harinya, saat fajar menyingsing, mereka terkejut. Ada gunung besar di depan mereka. Gunung itu berjarak 20 mil dari kapal yang mereka tumpangi. Maka, semua penumpang pun berdoa dan memohon kepada Allah Swt agar dijauhkan dari berbagai macam malapetaka.

Ternyata, Allah Swt mengabulkan doa mereka. Angin berhenti secara perlahan, tetapi pasti. Suasana pun kembali tenang. Anehnya, mereka melihat gunung itu meninggi dan terbang ke angkaasa. Sehingga, matahari yang sebelumnya berembunyi di balik gunung tersebut tampak kembali. Setelah diteliti, ternyata gunung-gunung itu adalah burung ar-ruhk.
“Seandainya burung tersebut melihat kita, maka ia aka melahap dan memangsa kita,” tutur mereka.
Akhirnya, mereka pun tiba di Sumatera setelah dua bulan terapung di atas laut yang mengerikan.
Di Sumatera, khususnya di Samudra Pasai, Ibnu Batutah disambut oleh Amir (Panglima) Daulasah, Qadhi Syarif Amir Sayyir asy-Syirazi, Tajuddin al-Asbahani dan beberapa ahli fiqh atas perintah Sultan Mahmud Malik Zahir (1326-1345).
Menurut Ibnu Batutah, Sultan Mahmud adalah penganut madzhab Syafi’i yang giat menyelenggarakan pengajian, pembahasan dan muzakarah keagamaan.
“Sultan Mahmud sangat rendah hati dan ia berangkat ke masjid untuk menunaikan shalat Jum’at dengan berjalan kaki.. selesai shalat, ia dan rombongannya biasa berkeliling kota melihat keadaan rakyatnya,” ujar Ibnu Batutah.
Karena terpikat, Sultan Abu Enan dari Maroko meminta Ibnu Batutah untuk mendiktekan perjalanannya kepada juru tulis, Ibnu Jauzi. Selanjutnya, Ibnu Jauzi menulisnya secara terperinci dan menyentuh. Hasil transkip ii selesai pada 13 Desember 1355. Kemudia, tulisan tersebut dibukukan dan diberi judul Tuhfat an-Nazzar fi Ghara’ih al-Amsar wa Aja’ih al-Asfar (hadiah bagi para pengamat yang meneliti keajaiban-keajaiban kota dan keanehan-keanehan perjalanan). Buku ini dikenal dengan sebutan Rihlat Inu Batutah atau Rihla (perjalanan).
Tulisan tersebut begitu memukau banyak pengamat di seluruh dunia. Buku itu pun diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Di antaranya ialah bahasa Inggris, Prancis, Latin, Portugis, Jerman dan Persia. Ini tidaklah mengherankan karena buku perjalanan Ibnu Batutah merupakan buku pengetahuan. Setiap detail cerita adalah rujukan peradaban. Meskipun ada sejumlah sejarawan yang meragukan kebenaran perjalanan Ibnu Batutah, sebagian besar mengapresiasinya. Mereka menilai bahwa cerita Ibnu Batutah benar adanya dan jujur, walaupun tampak sederhana.

Pada tahun 1377 M, Ibnu Batutah meninggal dunia. Namun, ia dikenang sepanjang masa. Selama 24 tahun mengelana, ia telah mengarungi Asia, Afrika dan Eropa. Ia adalah penjelajah terbesar sebelum mesin uap ditemukan. Ia sudah menggoreskan tinta emas peradaban. Dengan tekad baja, ia menaklukan dunia.

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard.

0 Comments: