PEMBANTAIAN MASSAL DI PABRIK GULA REJOSARI

August 15, 2018 0 Comments


Pada pukul 03:00 dini hari tanggal 18 September 1948, tangsi Polisi Gorang Gareng diserang beribu-ribu laskar FDR/PKI. Mereka membawa senjata pistol, tetapi ada pula yang hanya bersenjatakan kelewang dan bumbu runcing. Orang-orang PKI ini menangkap para polisi dan melucuti, termasuk Kepala Polisi setempat, Doerjat. Orang-orang yang telah ditangkap dan dilucuti ini kemudian digirng beramai-ramai ke kawasan Pabrik Gula Rejosari di Gorang Gareng. Pada tanggal 18 September 1948, Doerjat bersama yang lain dibunuh PKI.
M.Ng. Sudibyo, Bupati Magetan, mengalami nasib yang sama dengan Doerjat. Pada hari Sabtu Wage, bersamaan dengan Musso merebut Madiun, di pendapa Kabupaten Magetan diselenggarakan rapat pleno Dewan Desa yang dihadiri oleh semua wakil rakyat. Anggota Dewan Desa itu berasal dari wakil berbagai partai dan lembaga-lembaga fungsional. Hadir dalam rapat itu M.Ng. Sudibyo, Bupati Magetan, Patih R. Soekardono, Kepala Panitera R. Moerti, Wedana, bahkan Komandan KDM.
Rapat Dewan Desa tersebut berlangsung sangat panas, sebab FDR/PKI melontarkan gagasan yang benar-benar tidak dapat diterima oleh semua pihak. Dalam rapat pleno FDR/PKI bersikeras menghendaki agar Bupati M.Ng. Sudibyo bersama anggota Dewan Desa yang hadir menetapkan peraturan bahwa tanah bengkok yang diberikan sebagai upah utnuk para pamong desa dibagi-bagikan kepada rakyat. Bupati M. Ng Sudibyo menolak keras gagasan tersebut sebab masalah pembagian tanah bengkok adalah aturan pemerintah pusat sebagai imbalan atas jerih payah para aparat desa mengatur pemerintahan desa. Gagasan FDR/PKI tersebut tentu akan memicu keributan. Sikap Bupati ini mendapat dukungan dari wakil-wakil rakyat di masing-masing Dewan Desa.
Karena merasa mendapat hambatan untuk mencapai cita-citanya, maka FDR/PKI mengulur-ulur waktu rapat hingga malam hari. Menurut kesaksian Suwarno, salah seorang peserta rapat, FDR/PKI sengaja mengulur-ngulur waktu rapat hingga malam hari. Mengingat suasana yang demikian, Bupati M. Ng. Sudibyo mengutus Suwarno dan Soeharno mengantarkan surat ke Residen Madiun dengan maksud minta bantuan memecahkan persoalan tersebut. Jarak Magetan-Madiun 23 km ditempuh dengan sepeda oleh keduanya. Tetapi, bukan hal mudah untuk memasuki kota Madiun, karena FDR/PKI telah menutup kota Madiun dengan jalan menghalang-halangi orang masuk kota ini. Waktu itu, hubungan kota Madiun dengan kota-kota lain putus sama sekali karena kawat-kawat telepon diputus dan tiang-tiang di pinggir jalan dirobohkan oleh orang-orang FDR/PKI.
Sementara itu, suasana di Magetan mencekam, orang-orang yang ada di pendapa, kecuali orang-orang FDR/PKI, digirng ke penjara Magetan. Tangan Bupati M. Ng. Sudibyo ditelikung ke belakang dan diikat dari tali bambu sehinngga tidak dapat bergerak. Dari penjara Magetan para tawanan diangkut dengan gerbong lori ke loji pabrik gula Rejosari Gorang Gareng. Bupati dengan rombongannya juga diangkut dengan tangan maasih terikat tali bambu. Kedatangan Bupati M.Ng. Sudibyo di pabrik gula Rejosari itu disaksikan Sudirno yang waktu itu baru berumur 14 tahun.
Pembantaian di loji pabrik gula Rejosari dilakukan tanggal 28 September 1948 oleh algojo-algojo FDR/PKI. Malam hari, sebelum dibunuh mereka disuruh berpuasa dan setelah pukul 09:00 sampai pukul 11:00 mereka yang berada dikamar-kamar loji diberondong dengan tembakan dari luar melalui celah ruji-ruji jendela. Seluruh kamar dibanjiri darah segar yang menggenang hampir setinggi mata kaki. Namun naasib baik berpihak pada KH. Rochib dan salah satu kawannya yang menghuni salah satu kamar di loji tersebut. Keduanya bisa selamat dari pembunuhan karena setiap ada tembakan KH. Rochib berlindung di tembok pinggirnya. Sebelum ditangkap dan dibawa ke Rejosari, KH. Rochib adalah seorang guru agama di Bangsri. Dia bersama sekitar 300 orang lainnya ditangkap di Bangsri dan disekap di loji pabrik gula Rejosari. Dalam sekapan itu, 5 atau 6 orang ditangannya digandeng menjadi satu sehingga apabila salah satu dari mereka akan buang air kecil atau besar, mereka bersama-sama harus mengikutinya.
Untunglah siang harinya pasukan Siliwangi tiba di Gorang Gareng sehingga pembunuhan berhenti dan orang-orang FDR/PKI melarikan diri. Tentara Siliwangi segera menjebol pintu loji dan membantu merawat orang-orang yang telah dibunuh.

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard.

0 Comments: