Wednesday, 27 September 2017

PERANG NAPOLEON


Perang Napoleon adalah serangkaian perang yang terjadi selama napoleon Bonaparte memerintah Prancis tahun 1799-1815 dan berdampak luas di Eropa. Napoleon yang berhasil merebut kekuasaan Prancis melalui sebuah kudeta 19 Brumaire menata ulang sistem kemiliteran di Prancis dan secara mengejutkan berhasil memperluas kekuasaan Prancis dan secara mengejutkan berhasil memperluas kekuasaan Prancis hingga menguasai hampir seluruh wilayah Eropa. Beberapa sumber sejarah (terutama di Inggris) menanamkan peperangan ini dengan nama Perang Prancis Raya.
Perang ini terjadi khususnya di Benua Eropa, tetapi juga di beberapa tempat di benua lainnya dan merupakan kelanjutan dari perang yang dipacu oleh Revolusi Prancis di tahun 1789. Melalui tokoh sentralnya, Napoleon Bonaparte, kekuatan Prancis dengan cepat berkembang menaklukan sebagian besar Eropa, tapi juga cepat ambruknya setelah mengalami kekalahan telak dari Rusia di tahun 1812.
Berawal dari Revolusi Prancis yang telah membuat ancaman nyata bagi kerajaan-kerajaan lain di Benua Eropa dan menjadi persoalan yang lebih serius dengan ditangkapnya Raja Louis XVI pada tahun 1792 serta hukuman mati terhadapnya tahun 1793.
Usaha pertama untuk memerangi Republik Prancis dimulai pada tahun 1792 ketika Austria, kerajaan Sardinia, kerajaan Napoli, Prusia, Spanyol dan kerajaan Britania Raya membentuk koalisi pertama (tercatat ada tujuh koalisi selama peperangan melawan Prancis).
        Penyerbuan penjara Bastille, tanda dimulainya revolusi Prancis yang berdarah-darah

Dengan ditetapkan Undang-Undang Prancis yang baru, termasuk wajib militer secara serentak (levee en masse), pembaharuan sistem militer dan perang secara total, memberi kontribusi yang nyata bagi kemenangan Prancis atas koalisi pertama. Perang berakhir ketika Austria dipaksa oleh Napoleon menerima syarat-syarat dalam perjanjian Campo Formio. Kerajaan Britania Raya menjadi satu-satunya kerajaan yang tersisa dari koalisi pertama yang anti-Prancis sampai dengan tahun 1797.
Di tahun 1798, Napoleon memimpin penyerbuan Prancis ke Mesir. Langkah ini ternyata merupakan malapetaka. Di darat, umumnya pasukan Napoleon berhasil, tetapi Angkatan Laut Inggris di bawah pimpinan Lord Nelson dengan mantap mengobrak-abrik armada Prancis. Di tahun 1799 Napoleon meninggalkan pasukannya di Mesir dan pulang ke Prancis.

    Mendapat penolakan keras dari rakyat Mesir, Napoleon mulai menggunakan
               retorika Islam sebagai bagian dari strateginya memerintah rakyat Mesir

Di tahun 1802, di Amiens, Napoleon menandatangani perjanjian damai dengan Inggris. Ini memberi angin lega kepada Prancis yang dalam tempo sepuluh tahun terus-menerus berada dalam suasana perang. Tetapi, di tahun berikutnya perjanjian damai itu putus dan peperangan lama dengan Inggris dan sekutunya pun dimulai lagi.
Meskipun pasukan napoleon berulang kali memenangkan pertempuran di daratan, Inggris tidak bisa dikalahkan kalau saja armada lautnya tak terlumpuhkan. Malang bagi Napoleon, dalam pertempuran yang musykil di Trafalgar pada tahun 1805, armada laut Inggris merebut kemenangan besar. Karena itu, pengawasan dan keampuhan Inggris di lautan tidaklah perlu diragukan lagi. Meskipun kemenangan besar Napoleon (di Austerlitz melawan Austria dan Rusia) terjadi enam minggu sesudah Trafalgar, hal ini sama sekali tidak bisa menghapus kepahitan kekalahan di sektor armada laut.
            Setelah Napoleon memegang kekuasaan Prancis, ia membangun kembali
           angkatan perangnya dan meluaskan kekuasaannya hingga ke seluruh Benua Eropa

Di tahun 1808 Napoleon berbuat kesalahan lagi dengan melibatkan Prancis ke dalam peperangan yang panjang dan tak menentu ujung pangkalnya di Semenanjung Iberia, tempat tentara Prancis tertancap tak bergerak selama bertahun-tahun.Tetapi, kekeliruan terbesar Napoleon adalah serangannya terhadap Rusia. Di tahun 1807, Napoleon bertemu muka dengan Czar dan dalam perjanjian Tilsit mereka bersepakat menggalang persahabatan abadi. Tetapi, kesepakatan dan persekutuan itu lambat laun rusak. Di tahun 1812 bulan Juni, napoleon memimpin tentara raksasa menginjak-injak bumi Rusia.
Hasil dari perbuatan ini sudah lama diketahui. Tentara Rusia umumnya menghindar dari pertempuran langsung berhadapan dengan tentara Napoleon, karena itu Napoleon dapat maju dengan cepat. Di bulan September, napoleon menduduki Moskow. Tetapi, orang Rusia membumihanguskan kota itu dan sebagian besar rata dengan tanah. Sesudah menunggu lima minggu di Moskow (dengan harapan sia-sia Rusia akan menawarkan perdamaian). Napoleon akhirnya memutuskan mundur, tetapi keputusan ini sudah terlambat.
                                      Peta kekuasaan Napoleon di Benua Eropa

Gabungan antara pukulan tentara Rusia dengan musim dingin yang kejam, tak memadainya suplai pasukan Prancis mengakibatkan gerakan mundur itu menjadi gerakan mundur yang morat-marit. Kurang dari 10% tentara raksasa Prancis bisa keluar dari bumi Rusia dalam keadaan hidup. Negara-negara Eropa lain seperti Austria dan Prusia, sadar benar mereka punya kesempatan baik menghajar Prancis. Mereka menggabungkan semua kekuatan menghadapi Napoleon dan pada saat pertempuran di Leipzig bulan Oktober 1813, Napoleon kembali mendapat pukulan pahit. Tahun berikutnya dia berhenti dan dibuang ke Pulau Ilba, sebuah pulau kecil di lepas pantai Italia.
                                         Pasukan Artileri Napoleon Bonaparte

Pada tahun 1815, dia melarikan diri dari Pulau Elba, kembali ke Prancis disambut baik dan kembali berkuasa. Kekuatan-kekuatan Eropa segera memklumkan perang dan 100 hari setelah ia kembali menduduki tahta kekuasaan. Napoleon mengalami kekalahan yang mematikan di Waterloo. Namun demikian, kekaisaran Prancis sebenarnya sudah mencapai puncak kejayaannya pada tahun 1810 dengan wilayah kekuasaan yang begitu luas. Wilayah-wilayah di bawah kekaisaran Prancis adalah sebagai berikut :
1.       Kerajaan Spanyol (dibawah pimpinan Joseph Bonaparte, saudara laki-laki Napoleon)
2.       Kerajaan Westphalia (Jerome Bonaparte, saudara laki-laki Napoleon)
3.       Kerajaan napoli (Joachim Murat, suami dari Caroline, saudara perempuan Napoleon)
4.       Kerajaan Lucca dan Piombino (saudara perempuan napoleon, Elisa Bonaparte dan suaminya Felice Bacciocchi) dan lainnya bekas musuh Napoleon sebelumnya, Prusia dan Austria.
Pertempuran Waterloo
                                         Battle of Waterloo, pertempuran terakhir napoleon

Pertempuran Waterloo terjadi pada tanggal 18 Juni 1815 dan merupakan pertempuran terakhir Napoleon. Kekalahan dalam perang ini menjadi penutup sejarahnya sebagai kaisar Prancis. Pertempuran ini juga dicacat dalam sejarah sebagai penutup dari 100 hari sejak larinya Napoleon dari Pulau Elba. Setelah kekalahan ini Napoleon menyerah total, sehingga Dinasti Bourbon kembali berkuasa di Prancis. Sementara itu wilayah kekaisaran Spanyol satu persatu daerah jajahannya mulai lepas akibat invasi Prancis yang mengakibatkan lemahnya Spanyol sehingga memicu timbul revolusi Amerika Latin.

Sesudah Waterloo, Napoleon dipenjara oleh orang Inggris di St. Helena, sebuah pulau kecil selatan Samudera Atlantik. Di sinilah dia menghembuskan nafasnya yang terakhir tahun 1821 akibat serangan kanker.

Pengaruh Perang Napoleon

Perang ini membuat perubahan besar pada sistem militer di Eropa terutama artileri dan organisasi militer, dimana pada masa inilah pertama kalinya diadakan wajib militer secara resmi sehingga jumlah tentara berlipat ganda. Inggris akhirnya muncul sebagai negara super power di dunia dan tidak dapat dibantah lagi bahwa Angkatan Laut Inggris menjadi yang terkuat di Dunia. Demikian juga mereka menjadi negara maju dibidang ekonomi dan industri.
Hampir semua negara Eropa, cita-cita dari Revolusi Prancis (seperti demokrasi, hak dan persamaan dalam bidang hukum, dan lain-lain) mulai diadopsi. Hal ini mengakibatkan sulitnya para raja di Eropa mengembalikan hukum lama mereka dan terpaksa tetap memegang hukum-hukum yang diterapkan oleh Napoleon. Bahkan hingga hari ini beberapa dari hukum tersebut masih dipakai, misalnya di banyak negara Eropa, hukum sipilnya jelas-jelas mengadopsi kode Napoleon.
Paham nasionalisme yang relatif baru saat itu dengan cepat berkembang di Eropa dan nantinya banyak memengaruhi jalannya sejarah di sana. Mulai dari berdirinya negara baru atau berakhirnya suatu negara. Peta politik di Eropa berubah drastis setelah era napoleon, tidak lagi berbasis aristrokat atau monarki mutlak tetapi berdasarkan kerakyatan. Era Napoleon telah menyebarkan benih bagi berdirinya negara Jerman dan Italia dengan bergabungnya negara-negara bagian kecil dan juga kerajaan.

Ide lain yang diadopsi dari napoleon (walaupun dia sendiri gagal mewujudkannya) adalah harapannya untuk mewujudkan Eropa yang bersatu. Ide ini digulirkan lagi setelah berakhirnya Perang Dunia II, dimana saat ini sudah diwujudkan dengan adanya mata uang tungga Uni Eropa, Euro.
Napoleon unggul dalam perang darat, tapi babak belur di perang laut melawan Inggris Raya

No comments:

Post a Comment

Kontroversi Seputar Kepemimpinan Soeharto

Soeharto memang penuh kontroversi. Dari mulai penyerahan Supersemar atau Surat Perintah 11 Maret di tahun 1966 sampai kemudian memang...