Tuesday, 24 October 2017

BUNG KARNO DI ANTARA MARILYN MONROE DAN JOAN CRAWFORD


Bung Karno adalah pecinta keindahan. Dalam bahasa yang terus terang kepada Cindy Adams, penulis biografinya, dia mengatakan, di antara yang termasuk keindahan itu adalah kecantikan seorang wanita. Memang, ia juga mengatakan bahwa setiap memandang hamparan sawah, lanskap taman yang indah, serta hijaunya tekstur pegunungan, ia spontan menarik napas panjang mengagumi dan mensyukuri nikmat Tuhan.
Perasaan yang kurang lebih sama ketika ia memandang “keindahan” pada diri seorang wanita. Tak ayal, pers Barat pernah menjadikan Bung Karno bulan-bulanan. Ia dituding sebagai hidung belang tak bisa memalinngkan muka dari wanita cantik.
Apa pun stigmanya, Bung Karno adalah laki-laki normal dengan sikap yang spontan (jujur). Lebih dari itu, dalam banyak literatur, Bung Karno diakui banyak wanita, sebagai “gentleman”. Tak heran bila ia laksana magnet bagi kebanyakan kaum Hawa. Anda bisa maknakan sendiri, bagaimana kehebatan seorang Bung Karno, buka saja dari sisi dia sebagai negarawan, tetapi sebagai laki-laki, sehingga begitu banyak istri dan begitu banyak wanita memujanya.
Mugkinkankah aktris jelita Marilyn Monroe dan Joan Crawford termasuk dua diantara sederet selebriti Hollywood pengagum Bung Karno? Inilah yang menarik. Ilustrasi foto pada judul ini menampakkan keintiman Bung Karno dan Marilyn Monroe. Menampakkan keintima yang sama pula dengan Joan Crawford.
Bahkan, “kedekatan” Bung Karno dan Monroe sempat menimbulkan spekulasi adanya affair di antara dua legenda itu. Dalam buku Goddes The Secret Life of Marilyn Monroe, yang ditulis Anthony Summers misalnya, ada bagian yang menceritakan affair Bung Karno-Monroe. Antara lain pengakuan sutradara Joseph Logan dalam buku itu. “Saya pikir mereka berdua melakukan pertemuan lanjutan setelah pesta itu,” kenang Logan yang memperkenalkan Marilyn Monroe kepada Soekarno.
Pertemuan yang dimaksud terjadi bulan Mei 1956, saat Presiden Soekarno mengajak putranya, Guntur, melakukan kunjungan kenegaraan hampir tiga pekan ke Negeri Paman Sam. Mulai dari pantai timur hingga pantai barat, ia datangi tempat-tempat bersejarah dan menarik, termasuk ke Hollywood. Di pusat industri film dunia itu, Soekarno tak bisa menyembunyikan antusiasmenya untuk bertemu Marilyn Monroe, aktris berambut pirang bernama asli Norma Jean baker yang sedang berada di puncak karier.
Pertemuan Marilyn dan Soekarno bisa terwujud atas jasa Joshua Logan, sutradara film “Bus Stop” yang diperani Marilyn. Waktu itu dia sedang sibuk syuting ketika Soekarno datang dan hanya bertemu sekitar 200 pekerja film di sana. Namun malam harinnya, Eric Allen Johnston, Presiden Motion Picture Association of America (MPAA) mengadakan pesta untuk menghormati Soekarno dan rombongannya di the Beverly Hills Hotel, Hollywood. Sebenarnya marilyn tak dijadwalkan datang ke pesta. Tetapi, diajak Joshua Logan. “Saya ingin kau menemui sahabat saya nanti malam,” bujuk Logan kepada Marilyn. Tanpa ragu Marilyn mengiyakan permintaan Logan.
                                                  Bung Karno dan Marilyn Monroe

Benar, Marilyn Monroe datang ke pesta yang khusus diadakan untuk menghormati Bung Karno itu. Dia mengenakan gaun gelap berleher panjang. Seketika kehadirannya membuat atmosfer pesta lebih hidup. Bahkan beberapa aktor ternama sudah hadir terlebih dahulu, termasuk Gregory Peck, George Murphy (kelak menjadi senator) dan Ronald Reagan (25 tahun kemudian jadi presiden AS).
Segera setelah mengetahui kedatangan Marilyn, Bung Karno segera menghampiri. Mereka bertemu dalam suasana akrab hampir selama 45 menit. Moment itu tak disia-siakan oleh para fotografer Amerika dan Indonesia. Dalam kesempatan itu, marilyn dengan basa-basi mengatakan dia menyesal tak di undang ke pesta itu. Namun Soekarno tak perduli dia diundang atau tidak, asalkan sudah bertemu dengannya. “Tujuan saya datang ke Amerika antara lain untuk menemuimu,” kata Soekarno.

Sebaliknya, Marilyn sendiri kurang begitu mengenal Soekarno sebelumnya, hingga dia menyapa dengan sebutan “Pangeran Soekarno” Sebelum meninggalkan pers, Marilyn berpose cukup lama dengan Soekarno di depan puluhan kamera. Bahkan aktris yang menjadi penghias sampul perdana majalah khusus pria Playboy setahun sebelumnya itu, sempat membubuhkan tanda tangan kepada beberapa anggota rombongan Soekarno, setelah dia berpamitan dan meninnggalkan Soekarno di pesta. Itulah perjumpaan mereka pertama sekaligus terakhir.
Setidaknya, versi itulah yang paling valid. Ihwal gosip affair antar keduanya atau tudingan adanya pertemuan pasca pesta malam itu, semua tak lebih menjadi semcam urban legend daripada fakta sejarah.
Sama seperti pertemuan Bung Karno dengan Joan Crawford yang tampak begitu akrab. Bintang film senior (hanya setahun lebih muda dari Bung Karno) itu, terbilang bintang dikagumi. Ada banyak film Crawford, sejak era “film bisu” hingga film bersuara, begitu mengesankan Bung Karno. Alhasil, saat ia berkunjung ke Amerika, ia tidak sia-siakan kesempatan untuk menjumpainya. Tidak terlalu sulit buat Bung Karno bertemu bintang Hollywood mana pun, mengingat ia memang berkawan baik dengan raja Hollywood, Eric Allen Johnston.
                                                    Joan Crawford dan Bung Karno

Bahkan, kegemaran Bung Karno berkawan dengan para selebriti, tidak hanya terbatas di Amerika, tetapi juga di setiap negara yang dikunjunginya. Alhasil, Bung Karno pun menjalin hubungan yang rapat dengan sejumlah seebriti Italia, prancis, Denmarks, Kanada dan lain-lain. Persahabatannya, tidak melulu dengan kalangan aktor ddan aktris, tetapi juga dengan musisi dan komposer.

Jangan terlalu heran. Sebab, sejak sekolah HBS, dalam usia belasan tahun di Surabaya, dia sudah memuja aktor-aktris mancanegara. Bahkan ia mengoleksi bungkus-bungkus rokok dengan hiasan sampul bintang-bintang film terkenal dunia. Selain itu, referensi Bung Karno tentang film, musik dan seni-budaya dunia pada umumnya, tidak kalah dalam dengan pengetahuannya ihwal politik dan aneka isme

No comments:

Post a Comment

Kontroversi Seputar Kepemimpinan Soeharto

Soeharto memang penuh kontroversi. Dari mulai penyerahan Supersemar atau Surat Perintah 11 Maret di tahun 1966 sampai kemudian memang...