Sunday, 1 October 2017

PERANG SALIB



Perang Salib merupakan perang untuk memperebutkan Yerusalem. Perang ini kemudian meluas menjadi konflilk antar agama paling dahsyat sepanjang sejarah. Dimulai sejak kaum Kristiani yang direstui Paus atas nama agama Kristen berusaha merebut kembali wilayah Yerusalem dan “Tanah Suci” dari kekuasaan Islam. Perang ini berlangsung selama beberapa periode dari abad ke-9 hingga abad ke-16 M. Perang Salib pertama dilancarkan pada tahun 1095 oleh Paus Urban II dan berakhir pada tahun 1291.
                                                           Salahudin al-Ayyubi


Richard The Lion Heart

Perang ini mencuatkan nama Salahuddin al-Ayyubi dan Richard “The Lion Heart” sebagai pahlawan di kedua belah pihak. Perang ini sedikit banyak memberikan pengaruh dalam mengantarkan Eropa menuju jaman Renaisans. Hingga saat ini, istilah Perang Salib masih dipakai untuk menunjukkan konflik antar agama yang berlangsung hingga saat ini.

Benih-Benih Permusuhan
Menurut beberapa ahli sejarah, Perang Salib berawal dari benih-benih permusuhan kaum Kristiani terhadap umat Islam, setelah Dinasti Saljuk dapat merebut Baitul Maqdis pada tahun 471 H. Kaum Kristiani merasa kesulitan dalam melakukan ziarah ke tanah sucinya. Hal ini ditunjukkan dengan adanya rombongan peziarah di bawah pimpinan Mitaz pada tahun 1064M. Yang memimpin 7.000 peziarah bersenjata lengkap, lantaran termakan isu bahwa penguasa Yerusalem (waktu itu Bani Saljuk) telah melakukan penganiayaan terhadap para peziarah yang beragama Kristen. Hal inilah yang membuat para peziarah menjadi cemas sehingga mereka wajib mempersenjatai diri ketika berziarah.
Maka untuk memperoleh kembali keleluasaannya, Paus Urbanus berseru kepada kaum Kristiani di Eropa untuk melakukan perang suci, yaitu memerangi kaum Muslimin di Palestina secara berulang-ulang dengan tujuan membersihkan tanah suci mereka (Yerusalem). Perang ini kemudian dikenal dengan Perang Salib. Adapun perang salib dapat dibagi menjadi beberapa periodisasi.
                          Restu dewan gereja besar peranannya  dalam terjadinya "Perang Salib"

1.       Perang Salib I (1094-1144)
Kondisi darurat di Byzantium memaksa Kaisar Alexius I meminta pertolongan kepada Paus Urbanus II untuk membantu Kekaisaran Byzantium dari serangan tentara Seljuk. Sebelumya, pada 1071, kekaisaran Byzantium dikalahkan oleh pasukan Seljuk yang dipimpin oleh Sultan Alp Arselan di Manzikert. Saat itu kekuatan Islam yang diperkirakan hanya berjumlah 15.999 prajurit berhasil mengalahkan 40.000 tentara Romawi. Kekalahan tersebut mengakibatkan hampir seluruh wilayah Asia Kecil (sekarang Turki) dikuasai Islam.

Pada 1903 dan 1904 kaisar Byzantium kembali mengirim surat kepada Paus Urbanus II di Romawi Barat. Saat konsili (pertemuan) yang diadakan di kota Clermony-Ferrand (Prancis Tengah), Paus Urbanus II mendengungkan pidato dengan berapi-api, ia mengimbau kedapa orang-orang Kristen Barat agar membantu Byzantium. Konon karena begitu hikmatnya pidato Paus saat itu, sampai-sampai orang yang mendengar pidato Paus berseru “Deus lo volt”, yang artinya Allah menghendaki.
                   Paus Urbanus II ketika mendengungkan pidato "Deus lo Volt

Periode pertama Perang Salib disebut sebagai periode penaklukan. Jalinan kerja sama antar Kaisar Alexius I dan Paus Urbanus II, berhasil membangkitkan semangat umat Kristen. Terlebih setelah pidato Paus Urbanus II yang intinya kewajiban untuk melakukan Perang Salib bagi umat Kristiani sehingga terbentuk kaum Salibin.
Harus diketahui, bahwa sebenarnya terjadi pertentangan antara gereja Katolik Barat dengan gereja Orthodox Timur. Meski begitu, seruan dari Paus bukan saja untuk mempertahankan kekaisaran Byzantium tetapi juga untuk kembali Yerusalem. Sejak Seljuk menguasai Yerusalem (setelah mengalahkan dinasti Islam lainnya, Fathimiyah) pada 1078, umat Kristen tidak lagi bebas untuk beribadah.
Setelah pasukan Salib gelombang pertama bersiap. Mereka pun bergegas melalui sungai Rhein dan Donau menuju arah tenggara dengan tujuan Yerusalem. Pasukan ini dikenal kejam,, di perjalanan mereka juga membunuh orang-orang Yahudi. Mereka berhasil mengusir bala tentara Islam dari wilayah Eropa Timur. Namun, sesaat setelah menyeberang ke Asia Kecil, pasukan ini dikalahkan oleh pasukan Seljuk. Sisa-sisa tentara Salib lalu kembali dan bergabung dengan kelompok kesatria Salib lain dari Inggris, Prancis dan Italia Selatan (Normandia) di Konstantinopel pada 1097.
                                     Ilustrasi kekejaman Perang Salib

Tindakan keji orang-orang Eropa Barat ini megejutkan kaisar Byzantium sendiri. Akhirnya kaisar mengikat perjanjian dengan para ksatria Salib bahwa mereka harus taat kepada kaisar Byzantium selama berada di wilayah Eropa Timur. Paska kesepakatan, pasukan Salib bergegas menuju Yerusalem. Para ksatria Salib secara iman dan gereja terikat pada Paus di gereja Roma, namun secara wilayah tunduk pada kekaisaran Byzantium. Jadi, di Eropa ada dua golongan, yakni golongan orang-orang Eropa Barat yang mengabdi pada Roma dan golongan orang-orang yang mengabdi pada kekaisaran Byzantium.
Seperti yang sudah dijelaskan di awal, bahwa kekaisaran Byzantium (Gereja Ortodoks Timur) sebenarnya memiliki hubungan yang baik dengan orang-orang Islam Arab. Hanya saja setelah Seljuk berhasil mengalahkan dinasti Fathimiyah, hubungan antara Islam dan Kristen tidak seharmonis dulu.
Setelah melewati beberapa pertempuran di Asia kecil, pasukan Salib tiba di Yerusalem pada bulan Juni 1099. Pengepungan terjadi beberapa minggu hingga akhirnya mereka berhasil menguasai Yerusalem, namun tidak berhasil menduduki Damsyik dan Aleppo. Banyak rakyat beragama Islam dan Yahudi dibunuh. Para pemimpim tentara Salib kemudian mendirikan kerajaan Yerusalem (1099-1187) dan membuat basis di tiga negara, yakni Antiokhia, Edessa dan Tripoli. Sesuai kesepakatan dengan kaisar Byzantium, secara resmi, (wilayah) kerajaan Yerusalem berada di bawah Byzantium, sedangkan iman dan gereja berada di bawah Paus di Roma.
                                            Pengepungan Yerusalem

Rupanya perubahan perlahan terjadi setelah orang-orang Eropa Barat menetap di wilayah timur, mereka mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan timur (Arab-Turki). Keseimbangan dan keharmonisasi pelan-pelan timbul di antara orang-orang Kristen dengan orang-orang Islam. Bahkan Raja Yerusalem yang pertama, Baldwin I mengganti pakaianya dengan pakaian ala timur. Ia juga memelihara janggut dan makan sambil duduk di atas permadani di lantai.
Jika terjadi peristiwa yang tidak diinginkan, hal itu mungkin dilakukan oleh pendatang baru dari Eropa Barat yang masih fanatik. Pernah seseorang amir Arab sedang melakukan ibadah shalat di masjid Al- Aqsa ia diserang oleh sorang prajurit, namun sekelompok orang kristen yang sudah lama menetap di sana segera menangkap dan mengusir si prajurit tersebut. Lalu mereka meminta maaf pada sang amir sambil menerangkan bahwa orang itu baru saja datang dari Eropa Barat.

2.       Perang Salib II (1144-1193)
      Perang Salib kedua diumumkan oleh Paus Eugenius III dan merupakan Perang Salib
             pertama yang dipimpin oleh raja-raja Eropa yaitu Louis VII dari Prancis

Imbas dari keberhasilan pasukan Eropa pada Perang Salib I adalah didirikannya kerajaan Yerusalem, kerajaan Antiokhia, kota Edessa dan kota Tripoli. Jatuhnya Edessa pada 1145 ke penguasa Islam kembali membuat Eropa Barat mengirim bala pasukan Salib. Seorang Rahib termasyhur pada zaman itu, bernama Bernard dari Clairvaux menyerukan kepada orang-orang Kristen di Eropa Barat untuk kembali berperang.
Pasukan Salib gelombang dua ini adalah pasukan pertama yang dipimpin oleh raja-raja, antara lain Louis VII (Raja Prancis) dan Konrad III (Kaisar Jerman). Bangsawan-bangsawan Eropa lain ikut terlibat.
Dalam perang Salib edisi kedua ini, hubungan antara pasukan Salib dengan Byzantium mulai renggang karena Louis VII menentang kesepakatan dengan Byzantium. Misi ke Timur pasukan Salib adalah untuk melindungi orang Kristen Barat yang datang menetap di Palestina. Pada 1148 Kondrad III jatuh sakit dan tentaranya bergabung dengan pasukan Prancis di Yerusalem. Louis VII melakukan penyerangan guna berusaha merebut Damsyik dan Askalon dari tangan penguasa Islam, namun tidak berhasil. Peperangan besar kemudian mengalami masa jeda hingga munculnya Salahudin bin Ayyub
Peta Perang Salib
3.       Perang Salib III (1193-1291)

Pada tahun 1171 Sultan Mesir, Salahuddin dari Dinasti Ayyubiyah berhasil mempersatukan Mesir dan Suriah. Ia kemudian memusatkan kekuatan ke Yerusalem dan berhasil menguasai kota tersebut pada 1187. Pasukannya lalu menyebar ke utara dan merebut semua ibu kota dari negara-negara tentara Salib.
Perang Salib pada periode ini dikenal juga dengan perangnya para raja. Pimpinan tentara Salib adalah Kaisar Jerman Friedrich Barbarossa (jenggot Merah), Raja Inggris Richard The Lion Heart (Hati Singa), dan Raja Prancis Philip II August (Agung). Tentara Salib berhasil merebut kota Akko di Palestina. Richard the Lion Heart berhasil mengikat perjanjian dengan Saladin. Di mana dalam perjanjian tersebut, orang-orang Kristen diperbolehkan tinggal di daerah pesisir antara Tyrus dan Jaffa dan Yerusalem boleh dikunjungi peziarah secara bebas.
                                                   Raja Philip II August

Namun tentara Salib kali ini rupanya memiliki kepentingan sendiri-sendiri, tidak lain adalah untuk memperluas daerah jajahan. Perselisihan kerap terjadi di antara para pemimpin perang Salib. Sesudah Kaisar Friedrich mati tenggelam dan Richard tertawan, Raja Philip II malah bergegas kembali ke Prancis untuk menyerang Inggris.
Periode ini lebih dikenal dengan periode perang saudara kecil-kecilan. Hal ini disebabkan karena tujuan untuk membebaskan Baitul Maqdis seolah-olah dilupakan, ternyata tentara Sallibin mengubah haluan menuju Konstantinopel.
Meskipun demikian ada hikmah yang sangat besar, yang kelak menjadi inspirasi kelahiran Renaisance di Barat.
4.       Perang Salib IV (1202-1206)
Tentara Salib berpendapat bahwa jalan untuk merebut kembali Baitul Maqdis adalah harus dikuasai terlebih dahulu keluarga Bani Ayyub di Mesir yang menjadi pusat persatuan Islam ketika itu. Oleh karena itu kaum Salibi memusatkan perhatian dan kekuatannya untuk menguasai Mesir.
                           Pertempuran dalam rangka penaklukan Yerusalem

Akan tetapi Perang Sallib IV ini dilakukan atas kerja sama dengan Venesia dan bekas kaisar Yunani. Tentara Salib menguasai Konstantinopel (1204 M) dan mengganti kekuasaan Byzantium dengan kekuasaan latin di sana. Pada waktu itu Mesir diperintah oleh Sultan Salib, maka dikuatkanlah perjanjian dengan orang-orang Kristen pada tahu 1203-1204 M dan 1210-1211 M. Isi perjanjian itu adalah mempermudah orang Kristen berziarah ke Baitul Maqdis dan menghilangkan permusuhan antara kedua belah pihak.
5.       Perang Salib V (1217-1221)
Perang Salib V adalah upaya merebut kembali Yerusalem dan seluruh wilayah Tanah Suci lainnya dengan pertama-tama menaklukan Dinasti Ayyubiyyah yang kuat di Mesir. Mereka bekerja sama dengan pasukan Seljuk dan berhasil menduduki Damietta di pantai Mesir pada 1219. Namun selang dua tahun, pasukan Salib menyerah setelah mendapat serangan dari Sultan Mesir, Al-Kamil. Al-Kamil sepakat untuk mengadakan perjanjian perdamaian delapan tahun dengan Mesir.
Pada masa ini pewaris tahta Yerusalem raja Frederich II bertikai dengan Paus. Kaisar memilliki pengetahuan tentang Islam, ia menguasai bahasa Arab sehingga oleh para pendukung Paus ia dilukiskan sebagai seorang murtad. Ia pun berhasil merebut kembali Yerusalem tanpa pertempuran. Frederich II berhasil membuat perjanjian dengan Sultan Mesir Al-Kamil dan mendapat kekuasaan di Bethlehem dan Nazareth. Saat ia dinobatkan menjadi raja Yerusalem. Para wakil gereja dari Roma tidak hadir.
Kaisar Frederich II berhasil menaklukan Yerusalem tanpa terjadi peperangan
                                           namun dengan perjanjian damai

6.       Perang Salib VI (1228-1229)
Perang Salib VI dipimpin oleh Frederick II dari Hobiens Taufen, Kaisar Jerman dan Raja Italia. Ia kemudian menjadi raja muda Yerusalem lantaran berhasil menguasai Yerusalem tidak dengan perang tapi dengan perjanjian damai selama 10 tahun dengan Sultan Al-Malikul Kamil, keponakan Shalahudin al-Ayyubi. Namun 14 tahun kemudian yakni 1244 kekuasaan diambil alih Sultan Al-Malikul Shaleh Najamuddin Ayyub beserta Kallam dan Damsyik.
                                                       Pasukan Salib

7.       Perang Salib VII (1248-1254)
Peperangan ini dipimpin oleh Raja Louis IX dari Prancis pada tahun 1248. Namun, pada tahun 1249 tentara Salib berhasil menguaasai Damietta (Damyat). Di masa inilah pemimpin angakatan perang Islam, Malikul Shaleh meninggal kemudian digantikan putranya Malikul Asraff Muzafaruddin Musa. Ketika Louis IX gagal merebut Antiock yang dikuasai Sultan Malik Zahir Bay Bars pada tahun 1267/1268, lalu hendak merebut Tunis, ia beserta pembesar-pembesar pengiringnya ditawan oleh pasukan Islam pada 6 April 1250 dalam satu pertempuran di Perairan Mesir. Setelah membayar uang tebusan, mereka pun dibebaskan oleh tentara Islam dan kembali ke Negerinya.
         Louis IX dibebaskan tentara Islam setelah ditawan dalam kekalahannya 
                                           perang di wilayah berair Mesir

8.       Perang Salib VIII (1270-1272)
Dalam Perang Sallib VIII tanggal 25 Agustus 1270 ini Louis IX telah terbunuh. Akhirnya pada tahun 1492, Raja Ferdinad dan Ratu Isabella sukses mengusir umat Islam di Granada, Andalusia. Riwayat lain juga menjelaskan bahwa Perang Salib VIII ini tidak sempat terbentuk karena kota terakhir yakni Aere yang diduduki tentara Salib justru berhasil dikuasai oleh Malikul Asyraf (putra Malikul Shaleh).
Dengan demikian terkuburlah Perang Salib oleh Perang Sabil. Tetapi meskipun perang konvensional dan frontal itu sudah berakhir secara formal, namun sesungguhnya perang jenis lain yang kualitasnya lebih canggih terus saja berlangsung seiring dengan kemajuan jaman.
Yang menarik untuk dikaji adalah Yerusalem bagi banyak ahli sejarah dilihat sebagai faktor yang cukup dominan dalam penggagasan Perang Salib. Meski begitu, faktor ini kelihatannya cukup sepele dan sederhana jika melihat upaya pengamanan peziarah yang dikedepankan dalam menggagas perang salib tersebut. Terutama jika dibandingkan dengan perngorbanan daya dan dana yang dibutuhkan untuk ekspedisi militer pada waktu itu.
Tidak dapat disangkal bahwa kelam dari peristiwa tragedi kemanusiaan yang berkepanjangan ini telah memberi kontribusi yang signifikan dalam kelanjutan hubungan dan perjumpaan pengikut kedua agama besar ini di dunia. Perang Salib yang berlangsung lebih kurang dua abad membawa akibat yang sangat berarti bagi perjalanan sejarah dunia. Antara lain, Perang Salib menjadi penghubung bagi bangsa Eropa mengenali Dunia Islam secara lebih dekat, sehingga kontak hubungan antara Barat Timur semakin dekat.
Selain itu, kemajuan illmu pengetahuan dan tata kehidupan masyarakat Timur yang maju menjadi daya dorong pertumbuhan intelektual bangsa Barat yakni Eropa sehingga mempunyai andil yang sangat besar dalam melahirkan era Renaisans di Eropa.

              



Masjid di Cordoba, Spanyol yang pernah beralih fungsi sebagai gereja setelah Perang Salib

No comments:

Post a Comment

Kontroversi Seputar Kepemimpinan Soeharto

Soeharto memang penuh kontroversi. Dari mulai penyerahan Supersemar atau Surat Perintah 11 Maret di tahun 1966 sampai kemudian memang...