Monday, 2 October 2017

PERANG BADAR

Perang Badar merupakan perang besar pertama dalam sejarah Islam. Terjadi pada tahun 624 M, dimana kaum Muslim melawan pasukan Quraisy yang jumlahnya tiga kali lebihh banyak. Waktu itu pasukan Musllim yang bersenjatakan hanya 8 pedang, meiliki pasukan berjumlah 313 orang, 70 ekor unta, 2 ekor kuda, itu berarti bahwa mereka harus berjalan selama perang. Jika pun ingin berkendara, harus ada tiga atau sampai empat orang duduk di atas satu unta. Sementara pihak pasukan Quraisy terdiri atas 1000 pasukan bersenjata lengkap, 700 ekor unta dan 100 ekor kuda.
Sebelum terjadi pertempuran ini, kaum Muslim dan penduduk Mekah sudah terlibat dalam beberapa kali konfllik bersenjata skala kecil antara akhir tahun 623 M sampai dengan awal 624 M dan konflik bersenjata tersebut mencapai puncak pada Perang Badar.
Genderang peperangan sebenarnya sudah ditabuh sejak Muhammad mengumandangkan risalah dakwah di Mekah. Kaum Quraisy tidak terima dengan ajaran yang dibawa Muhammad, hingga mulai menyerang bahkan mengatakan menghalalkan darah kaum Muslimin dan harta bendanya. Khususnya kaum Muhajirin.
Latar Belakang
Pada awal peperangan, Jazirah Arab dihuni oleh suku-suku yang berbicara dalam bahasa Arab. Beberapa di antaranya adalah suku Badui, bangsa Nomad pengembala yang terdiri dari berbagai macam suku. Beberapa adalah suku petani yang tinggal di oasis daerah utara atau daerah yang lebih subur di bagian selatan (sekarang Yaman dan Oman). Mayoritas bangsa Arab menganut kepercayaan politeisme. Beberapa suku juga memeluk agama Yahudi, Nasrani (termasuk paham Nestoriani), dan Zoroastrianisme.
Nabi Muhammad lahir di Mekah sekitar tahun 570 dari keluar Bani Hasyim dari suku Quraisy. Ketika berumur 40 tahun, ia mengalami pengalaman spiritual yaitu menerima wahyu ketika sedang menyepi di suatu gua, yakni Gua Hira di luar kota Mekah. Ia mulai berdakwah kepada keluarganya dan setelah itu baru berdakwah kepada umum. Dakwahnya ada yang diterima dengan baik tapi lebih banyak yang ditentang.
Pada periode ini, Muhammad dilindungi oleh pamannya Abu Thalib. Ketika pamannya meninggal dunia sekitar tahun 619, kepemimpinan Bani Hasyim diteruskan kepada salah seorang musuh Muhammad, yaitu Amr bin Hisyam atau Abu Jahal, yang mengilangkan perlindungan kepada Muhammad serta meningkatkan penganiayaan terhadap komunitas Muslim.

Pada tahun 622 dengan semakin meningkatnya kekerasan terbuka yang dilakukan kaum Quraisy kepada kaum Muslim di Mekah, Muhammad dan banyak pengikutnya hijrah ke Madinah. Hal ini menandai dimulainya kedudukan Muhammad sebagai pemimpin suatu kelompok dan agama.
Ghazawat
Setelah kejadian hijrah, ketegangan antara kelompok masyarakat di Mekah dan Madinah semakin memuncak dan pertikaian terjadi pada tahun 623 ketika kaum Muslim memulai beberapa serangan (sering disebut Ghazawat adalah penyerangan sekaligus pengambilan barang jarahan yang dilakukan suku Badui terhadap suku lawan atau pedagang kaya yang melintas di sekitar daerahnya.
Kaum muslim mempunyai posisi yang bagus untuk melakukan hal ini, karena Madinah terletak di antara rute utama perdagangan Mekah. Meskipun kebanyakan kaum Muslim berasal dari kaum Quraisy juga, mereka yakin akan haknya untuk menjarah dari para pedagang Quraisy Mekah tesebut karena telah mengeluarkan mereka dari Suku dan kaumnya sendiri, sebuah penghinaan dalam kebudayaan Arab yang sangat menjunjung tinggi kehormatan.
Selain itu, di Arabia saat itu sudah menjadi suatu kebiasaan bagi suku-suku yang miskin untuk menyerang suku-suku yang kaya. Hal ini berarti paluang bagi komunitas Muslim untuk mendapatkan bagi mereka kebebasan secara ekonomi di Madinah, meskipun secara politik belum aman. Kaum Quraisy Mekah jelas-jelas mempunyai pandangan lain terhadap hal tersebut, karena mereka melihat kaum Muslim sebagai penjahat dan juga ancaman terhadap lingkungan dan kewibawaan mereka.
Pada akhir tahun 623 dan awal tahun 624, aksi ghazawat kaum Muslim semakin sering terjadi di mana-mana. Pada bulan September 623, Muhammad memimpin sendiri 200 orang kaum Muslim melakukan serangan yang gagal terhadap rombangan besar kafilah Mekah. Tak lama setelah itu, kaum Quraisy Mekah melakukan serangan balasan ke Madinah, meskipun tujuan sebenarnya hanyalah untuk mencuri ternak kaum Muslim.

Pada bulan Januari 624, kaum Muslim menyerang kafilah dagang Mekah di dekat daerah Nakhlah, hanya 40 kilometer di luar kota Mekah, membunuh seorang penjaga dan akhirnya benar-benar membangkitkan dendam di kalangan kaum Quraisy mekah. Terlebih lagi dari sudut pandang kaum Quraisy mekah, penyerangan itu terjadi pada bulan Rajab, bulan yang dianggap suci oleh penduduk Mekah. Menurut tradisi mereka, dalam bulan ini peperangan dilarang dan gencatan senjata seharusnya dijalankan. Berdasarkan latar-belakang inilah akhirnya pertempuran Badar terjadi.
Prediksi Abu Sufyan
Waktu itu Abu Sufyan terkenal sebagai seorang yang begitu ambisius dan cerdik. Ia selalu memperhitungkan segala macam kemungkinan dan risiko yang dapat terjadi. Ia tahu benar apa yang telah dilakukan penduduk Quraisy terhadap kaum Muslimin selama ini. Ia pun begitu menyadari akan kekuatan umat Islam yang semakin hari semakin mengalami peningkatan dan perkembangan.
Abu Sufyan mengorek informasi dari setiap rombongan orang yang ditemuinya sebagai bukti kekhawatirannya atas  perdagangannya berikut harta orang-orang Quraisy yang dibawanya. Hingga akhirnya ia mendengar kabar dari beberapa orang yang ditemuinya bahwa Muhammad telah memobilisasi pasukannya untuk mencegat rombongan yang sedang membawa harta perdagangan.
Mendengar hal ini, ia pun segera berhati-hati dan mengambil jalur perjalanan yang lain serasa mengirim utusan kepada penduduk Quraisy yang ada di Mekah untuk meminta bantuan. Segera saja kaum Quraisy Mekah mempersiapkan pasukan sejumlah 900-1.000 orang untuk melindungi kelompok dagang tersebut. Banyak bangsawan kaum Quraisy Mekah yang turut bergabung. Termasuk di antaranya Amr bin Hisyam, Walid bin Utbah, Syaibah bin Rabi’ah dan Umayyah bin Khalaf.

                      
Dalam Perang Badar tersebut, Muhammad memimpin pasukannya sendiri dan membawa banyak panglima utamanya, termasuk pamannya Hamzah dan para calon khalifah di masa depan, yaitu Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar Bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib.
Perang Badar sendiri diambil dari nama tempat berlangsungnya perang, yaitu sumur Badar yang terletak di lereng yang landai di bagian timur suatu lembah yang bernama Yalyal. Bagian barat lembah dipagari oleh bukit besar bernama Aqanqal.
Pertempuran diawali dengan majunya pemimpin-pemimpin kedua pasukan untuk berperang tanding. Tiga orang Anshar maju dari barisan Muslin, akan tetapi diteriaki agar mundur oleh pasukan Mekah, yang tidak ingin menciptakan dendam yang tidak perlu dan menyatakan bahwa mereka hanya ingin bertarung melawan Muslim Quraisy. Karena itu, kaum Muslimin kemudian mengirimkan Ali, Ubaidah bin al-Harits dan Hamzah. Para pemimpin Muslim berhasil menewaskan pemimpin. Pemimpin Mekah dalam pertarungan tiga lawan tiga, meskipun Ubaidah mendapat luka yang mematikan.
Selanjutnya kedua pasukan mulai melepaskan anak panah ke arah lawannya. Dua orang Muslim dan beberapa orang Quraisy yang tidak jelas jumlahnya tewas. Sebelum pertempuran berlangsung, Muhammad telah memberikan perintah kepada kaum Muslim agar menyerang dengan senjata-senjata jarak jauh mereka dan bertarung melawan kaum Quraisy dengan senjata-senjata jarak pendek hanya setelah mendekat.
Setelah itu ia memberikan perintah untuk maju menyerbu, sambil melemparkan segenggam kerikil ke arah pasukan Mekah. Suatu tindakan yang mungkin merupakan suatu kebiasaan masyarakat Arab dan berseru “kebingungan melanda mereka”. Pasukan muslim berseru “Ya Manshur, amit!!” dan mendesak barisan-barisan pasukan Quraisy.
Bagi kaum Muslim, pertempuran ini sangatlah berarti karena merupakan bukti pertama bahwa mereka sesungguhnya berpeluang untuk mengalahkan musuh mereka di Mekah. Mekah saat itu merupakan salah satu kota terkaya dan terkuat di Arabia jaman jahiliyah. Kemenangan kaum Muslim juga memperlihatkan kepada suku-suku Arab lainnya bahwa suatu kekuatan baru telah bangkit di Arabia, serta memperkokoh otoritas Muhammad sebagai pemimpin atas berbagai golongan masyarakat Madinah yang sebelumnya sering bertikai.
Akhirnya Perang Badar berakhir dengan kemenangan mutlak kaum muslimin. Banyak kaum Quraisy yang tewas, sementara sisanya lari bercerai-berai. Salah satu yang tewas dari pihak Quraisy adalah Amr bin Hisyam alias Abu Jahal. Perang Badar juga menjadi titik balik perkembangan Islam dari segi militer. Kemenangan kaum Muslimin ini pun bergema di seluruh Semenanjung Arab.
Imam Bukhari memberikan keterangan bahwa dari phak Mekah 70 orang tewas dan 70 orang tertawan. Hal ini berarti 15%-16% pasukan Quraisy telah menjadi korban. Kecuali bila ternyata jumlah pasukan Mekah yang terlibat di Badar jauh lebih sedikit. Korban  pasukan Muslim umumnya dinyataka sebanyak empat belas orang tewas yaitu sekitar 4% dari jumlah mereka yang terlibat peperangan.
                                           Perang Badar dalam Film

Sumber-sumber tidak menceritakan mengenai jumlah korban luka-luka dari kedua belah pihak dan besarnya selisih jumlah korban keseluruhan antara kedua belah pihak. Hal ini menimbulkan dugaan bahwa pertempuran berlangsung dengan sangat singkat dan sebagian besar pasukan Mekah terbunuh ketika sedang bergerak mundur.
Dampak Lanjutan
Pertempuran Badar sangatlah berpengaruh atas munculnya dua orang tokoh yang akan menentukan arah masa depan Jazirah Arabia di abad selanjutnya. Tokoh pertama adalah Muhammad, yang dalam semalam statusnya berubah dari seorang buangan dari Mekah, menjadi salah seorang pemimpin utama.
                            Gunung Badar, tempat terjadinya Perang Badar

Menurut Karen Armstrong, selama bertahun-tahun Muhammad telah menjadi sasaran pencemohan dan penghinaan, tetapi setelah keberhasilan yang hebat dan tak terduga itu, semua orang di Arabia mau tak mau harus menanggapinya secara serius.
Marshall Hodgson menambahkan bahwa peristiwa di Badar memaksa suku-suku arab lainnya untuk mengaggap umat Muslim sebagai salah satu penantang dan pewaris potensial terhadap kewibawaan dan peranan politik yang dimiliki oleh kaum Quraisy.
Kemenangan di Badar juga membuat Muhammad dapat memperkuat posisinya sendiri di Madinah. Segera setelah itu, ia mengeluarkan Bani Qainuqa’ dari Madinah, yaitu salah satu suku Yahudi yang sering mengancam kedudukan politiknya. Pada saat yang sama, Abdullah bin Ubay, seorang Muslim pemimpin Bani Khazraj dan penetang Muhammad, menemukan bahwa posisi politiknya di Madinah benar-benar melemah. Selanjutnya, ia hanya mampu memberikan penentangan dengan pengaruh terbatas kepas Muhammad.
Tokoh lain yang mendapat keberuntungan besar atas terjadinya Pertempuran Badar adalah Abu Sufyan. Kematian Amr bin Hisyam, serta banyak bangsawan Quraisy lainnya telah memberikan Abu sufyan peluang, yang hampir seperti direncanakan, untuk menjadi pemimpin bagi kaum Quraisy
Sebagai akibatnya, saat pasukan Muhammad bergerak memasuki Mekah 6 tahun kemudian, Abu Sufyan menjadi tokoh yang membantu merundingkan penyerahannya secara damai. Abu Sufyan akhirnya menjadi pejabat berpangkat tinggi dalam Kekhalifahan Islam dan anaknya Muawiyah kemudian melanjutkan dengan mendirikan kekhalifahan Umayyah



Perkembangan agama Rasulullah berkembang pesat hingga bumi Nusantara

No comments:

Post a Comment

Kontroversi Seputar Kepemimpinan Soeharto

Soeharto memang penuh kontroversi. Dari mulai penyerahan Supersemar atau Surat Perintah 11 Maret di tahun 1966 sampai kemudian memang...