Thursday, 19 October 2017

Part 2 : Pasukan Liar Mengepung Istana Negara


Menjelang Akhir 1965, operasi militer terhadap sisa-sisa Gerakan 30 September bisa dikatakan sudah selesai. Hanya penyelesaian politik terhadap peristiwa tersebut yang belum dilaksanakan oleh Presiden Soekarno: PKI belum dibubarkan.
Pada saat yang sama, krisis ekonomi semakin parah. Laju inflasi mencapai 650 persen. Pada 13 Desember 1965, pemerintah melakukan devaluasi, uang bernilai Rp1.000 turun menajdi Rp1. Sementara itu, harga-harga membubung. Akibatnya, demokrasi merebak dimana-mana, termasuk yang dilakukan oleh mahasiswa dan pelajar yang tergabung dalam KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) dan KAPI (Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia).
Aksi-aksi demontrasi terus berlangsung dan semakin meningkat. Demonstrasi besar-besaran secara serempak melanda berbagai tempat. Suasana kacau-balau hiruk-pikuk, lalu lintas macet, kegiatan produktif berhenti. Di Jakarta, selama 60 hari, dengan dipelopori para mahasiswa Universitas Indonesia, seluruh jalanan Ibukota dipenuhi demostran. Mereka menyampaikan Tri Tuntutan Rakyat (Tritura), yaitu bubarkan PKI, retool Kabinet Dwikora dan turunkan harga.
Presiden Soekarno tetap pada pendiriannya sebagai presiden. Dalam pidatonya pada Pelantikan Para Menteri Baru Kabinet Dwikora di Istana Merdeka, Jakarta, 24 Februari 1966, dia berkata,
Barangkali, ada baiknya ini kali saya tegaskan sekali lagi, salah anggapan seseorang atau golongan bahwa saya, apalagi sebagai Pemimpin Besar Revolusi, tetapi juga sebagai persoon, bisa dan mau dijungkrak-jungkrakkan, didorong-dorong, dituntut-tuntut. Dalam bahasa Inggris, I know my job, I know my job!... tidak perduli dari mana itu! Tidak dari PKI, tidak dari KAMI, malahan pernah saya berkata, hier sta ik, di sini aku berdiri, inilah Bung Karno, inilah Perdana Menteri, inillah Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata, inilah Pemimpin Besar Rovolusi! Saya tidak akan mundur setapak, tidak akan mundur, kataku di Bogor tempo hari! Ini pimpinanku! Saya menghendaki agar supaya pimpinanku itu diikuti jikalau memang aku ini masih diaggap Pemimpin Besar Revolusi.”
Di sisi lain, sejak terjadinya peristiwa G 30 S, muncul perbedaan pendapat antara Presiden Soekarno dengan Menteri/Panglima Angkatan Darat Letjen Soeharto. Perbedaan pendapat berfokus pada cara mengatasi krisis nasional yang semakin memuncak setelah terjadinya G 30 S. Soeharto berpendapat bahwa pergolakan rakyat tidak akan reda selama PKI tidak dibubarkan. Sedangkan, Soekarno menyatakan bahwa dia tidak mungkin membubarkan PKI karena hal ini bertentangan dengan doktrin Nasakom (nasionalisme, agama dan komunis)
Perbedaan pendapat ini selalu muncul dalam pertemuan-pertemuan berikutnya di antara keduanya. Setelah Soeharto mengangkat dirinya sebagai pimpinan Angkatan Darat, memang muncul dualisme kebijakan di tingkat elit. Di satu pihak kebijakan Presiden Soekarno dan pihak lain kebijakan Angkatan Darat via Soeharto.
Dalam masalah ini Letkol Ali Ebram, orang yang mengaku mengetik naskah Supersemar, berkata,
“Soeharto pernah dipanggil Bung Karno. Itu setelah G 30 S, sebelum SP 11 Maret. Harto itu dipanggil karena protes. Bung Karno ‘kan menunjuk Pranoto Reksosamudra jadi caretaker. Saya yang disuruh memanggil di jalan Agus Salim. Soeharto datang. Waktu itu di Istana Merdeka hanya ada 4 orang, Bapak, Bu Dewi, Mangil dan Soeharto. Saya sendiri, yang waktu itu tidak dinas, berdiri agak jauh. Begitu menghadap Bung Karno bilang, “To, kamu masih keras kepala ya? Masih dagang? Jangan terlalu keras kepala!.” Dimarahi dia. Bung Karno lalu bilang, “To saya sudah lelah jadi presiden. Kamu yang jadi presiden ya! Harto langsung melesot di lantai, di kaki Bung Karno, “jangan, Pak jangan.” Bung karno itu menguji Soeharto.”
Peristiwa lahirnya Supersemar dan rangkaian kejadian sesudahnya merupakan bagian dari pertikaian politik di antara Presiden Soekarno dan Letjen Soeharto. Puncak pertikaian itu terjadi pada 11 Maret 1966 ketika dilangsungkan Sidang Kabinet Dwikora Yang Disempurnakan. Sidang diboikot, para mahasiswa melakukan pengempesan ban mobil di jalan-jalan menuju ke istana.
Namun demikian, upaya penekanan terhadap Soekarno sudah berlangsung sejak sebelumnya. Pada 9 Maret 1966 malam, Hasjim Ning dan M. Dasaad diminta oleh Asisten VII Men/ Pangad Mayjen Alamsjah Ratu Perwiranegara untuk membujuk Presiden Soekarno agar menyerahkan kekuasaan kepada Letjen Soeharto. Pada malam itu juga, keduanya mendapat surat perintah yang ditandatangani oleh Soeharto yang menyatakan bahwa mereka adalah penghubung antara Presiden Soekarno dan Men/Pangad Letjen Soeharto.
Hasjim Ning dan M. Dasaad berhasil bertemu dengan Presiden Soekarno pada 10 Maret 1966 di Istana Bogor. Hasjim Ning menyampaikan pesan tersebut, tetapi Bung Karno menolak. Dengan amarah, Bung Karno berkata, “kamu juga sudah pro Soeharto.”
Benarkah tekanan sudah dilakukan oleh kelompok Letjen Soeharto sebelum 11 Maret 1966?
Untuk membaca kemungkinannya, mari kita lihat pengakuan frans Seda dimuat dalam majalah Tempo edisi 15 Maret 1986:
“Malamnya (10 Maret), saya bertemu dengan Ali Murtopu. Kami membicarakan soal instruksi presiden kepada para panglima lalu soal pengebirian parpol dan Barisan Soekarno. Akhirnya, Soeharto mengatur strategi, bahwa untuk menghadapi sidang kabinet 11 Maret mesti ada gerakan. Soeharto memutuskan agar ada demonstrasi mahasiswa dan untuk melindungi para mahasiswa itu, perlu didukung pasukan tanpa tanda pangkat dan sombol lainnya. Menurut pak Harto waktu itu, pasukan itu akan membuat panik presiden dan menteri-menterinnya. Karenanya Soeharto tak perlu hadir pada sidang kabinet itu. Nyatanya yang tidak hadir Cuma Men/Pangad Letjen Soeharto dan saya sebagai menteri perkebunan dan benar, sidang Kabinet 11 Maret itu kacau, serta berakhir, karena presiden meninggalkan istana menuju Bogor.”
Pengakuan Frans Seda itu sejalan dengan pengakuan Kepala Staf Kostrad Mayjen Kemal Idris. Pada 9 Maret 1969, Wakil Men/Pangad Jenderal Panggabean, Jenderal Sumitro, Musrsyid, Menteri Pertanian Soetjipto, kepala Logistik Angkatan Darat Hartono, Jenderal Umar Wirahadikusumah dan Mayjen Kemal Idris mengadakan rapat khusus di markas Kostrad. Mereka membicarakan tentang Pangdam V/Jaya Brigjen Amirmachmud yang kurang responsif karena menghalangi gerakan mahasiswa.
“Panggil saja Amirmachmud itu,” ujar Kemal Idris.
Kemudian, Amirmachmud datang. Dia lalu menjelaskan keberatannya. “Saya tidak setuju penempatan pasukan tanpa inisial mengepung istana. Saya tahu RPKAD. Kalau Bung Karno bertanya, bagaimana saya harus menjawab,” kata Amirmachmud.
“Amir, jangan takut, kalau saya jadi presiden, setiap detik kamu bisa datang,” ujar Kemal berkelakar.
Menurut Kemal, mungkin Amirmachmud takut dicopot atau ingin mengetahui apa yang ada dalam pikiran Bung Karno. Amirmachmud takut Bung Karno tidak percaya lagi kepadanya, padahal kalau dia selalu dekat dengan Bung Karno, dia bakal mendapat informasi-informasi yang berguna untuk Angkatan Darat.
Ketika pertemuan sedang berlangsung, Kemal Idris keluar ruangan menemui stafnya untuk memberi informasi tentang masalah yang sedang dibicarakan. Namun, dia kaget begitu kembali ke ruangan karena acara telah selesai. Da lalu mengantarkan para tamu peserta pertemuan itu sampai ke depan pintu. Dia segera kembali ke ruangan bersama Umar Wirahadikusumah dan menanyakan keputusan rapat.
“Kamu harus menarik semua pasukan yang ditempatkan di sekeliling istana,” Jelas Umar.
“Kenapa begitu,” Kemal kaget mendengarnya.
“itu kehendak Amir.”
“Tidak bisa,” jawab Kemal tegas. “Dengan alasan apa menarik pasukan itu kembali? Itu adalah perintah saya sebagai pimpinan. Jika itu saya lakukan, bagaimana pandangan anak buah atas kepemimpinan saya? Pimpinan saja bisa dengan mudah mengubah ketetapan, bagaimana anak buah.”
Pada waktu itu Umar Wirahadikusumah adalah komandan seluruh pasukan, Amirmachmud mengurus teritorial dan Kemal Idris mengurus pasukan. Umar memerintahkan untuk menarik kembali pasukan atas perintah M. Panggabean. Namun, Kemal tetap menolak hingga Umar pun marah.
“Kamu jangan jadi avonturir. Saya akan lapor ke Pak Harto. Kamu atau saya yang keluar,” kata Umar dengan nada emosi.
“Silahkan,” jawab Kemal.
“Umar,” kata Kemal setelah marahnya reda. “kalau something goes wrong, saya yang digantung. Bukan kamu, dengan izin saya kamu bisa bilang he is insubordinate.”
“oke,” jawab Umar.
Membaca cerita ini jelas sekali Amirmachmud tak berdaya berhadapan dengan Kemal Idris. Umar wirahadikusumah yang bertindak atas nama M. Panggabean pun menyerah. Jadi, Kemal Idris adalah sosok yang memegang peranan penting dalam menempatkan pasukan yang mengepung Istana Negara pada 11 Maret 1966.
Bagaimana kisah 11 Maret 1966 itu berlangsung?
Menjelang berlangsungnya Sidang Kabinet Dwikora Yang Disempurnakan, Men/Pangad Letjen Soeharto tidak tampak hadir. Dia dikabarkan sedang sakit. Pada waktu itu juga tersebar desas-desus bahwa Jenderal Soeharto akan dicopot dan banyak perwira tinggi akan diajukan ke Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub).
Pertanyaannya, apakah Soehrato waktu itu memang sakit? Soeharto dalam biografinya seperti dikutip A. Pambudi berkata,
Saya ingat minggu-minggu itu penuh dengan pertemuan dan pembicaraan hangat. Udara politik masih tetap panas dan meresahkan. Tanggal 10 Maret, pukul 02:00 dinihari, pimpinan mahasiswa saya undang ke Kostrad. Saya bicara dengan mereka. Pada kesempatan itu hadir dan bicara pula Subchan ZE. Kerja berat terus-menerus sampai larut malam seperti itu menyebabkan saya sakit tenggorokan sehingga saya tidak bisa hadir pada sidang kabinet di istana tanggal 11 Maret pagi-pagi.”
Namun, ihwal sakitnya Soeharto itu dibantah oleh Soebandrio. Menurutnya, Soeharto tidak sakit karena pada sore harinya memimpin rapat di markas Kostrad. Alasan sakit yang dikemukakan Soeharto, kata Soebandrio, adalah cara untuk menghindarkan diri dari penugasan oleh Presiden Soekarno agar Soeharto menghadapi demontrasi mahasiswa dan pasukan liar yang ada di depan Istana Merdeka. Padahal, mahasiswa dan tentara ini adalah bagian dari skenario Soeharto.
Ihwal ketidakhadiran Soeharto nyatanya berhubungan dengan rangkaian peristiwa berikutnya yang terjadi pada hari itu.
Menurut Amirmachmud, pagi-pagi sekali pada 11 Maret 1966, selaku Panglima Kodam V/Jaya, dia mendapat telepon dari Ajudan Senior Presiden Brigjen Sabur dari Istana Bogor yang menanyakan apakah rencana sidang kabinet bisa diteruskan atau tidak. Amirmachmud menjawab bahwa keamanan dapat dikendalikan dan sidang kabinet dapat dilangsungkan.
Atas jaminan dari Pangdam V/Jaya itulah Presiden Soekarno beserta anggota-anggota Presidium Kabinet tiba di Jakarta dengan menggunakan helikopter. Soekarno tiba sekitar pukul 09:00 pagi naik helikopter diiringi oleh para wakil perdana menteri, yaitu Soebandrio, J. Leimena dan Chaerul Saleh. Mereka lalu duduk di beranda belakang istana sambil menunggu protokol istana mempersiapkan semua yang hadir.
Begitu protokol memberi tahu bahwa semua menteri telah hadir, Presiden Soekarno dan ketiga wakil perdana menteri berjalan ke ruang depan istana. Amirmachmud kemudian pamit hendak melakukan tugasnya mengawasi situasi keamanan di luar istana tapi oleh Soekarno diminta untuk hadir dalam rapat. Sempat terjadi dialog antara Presiden Soekarno dan Brigjen Amirmachmud.
“Mir, bagaimana situasi keamanan, Jij (Anda) punya tanggung jawab?” tanya Bung Karno begiru menginjakkan kakinya di istana.
“laporan : keamanan baik, Situasi dapat dikendalikan. Tidak terjadi apapun!’ jawab Amirmachmud dengan sikap militer,
Yang kemudian diteruskan, “Permisi, Pak. Saya akan mengamati situasi di luar istana.”
“Nee, Jangan, Jij harus ikut masuk,” kata Soekarno.
“ah, tidak pak. Saya bukan menteri,” tolak Amirmachmud malu-malu.
Akhirnya, Amir mengikuti jalannya Sidang Kabinet. Justru dengan keikutsertaannya itu pula, dia kemudian memberi kesaksian,
“Sesudah sidang kabinet berjalan kurang lebih 10 menit, saya menerima nota pertama dari Sabur (pada waktu itu Bung Karno sedang bicara) yang intinya meminta saya agar keluar sebentar, karena di luar ada pasukan liar. Saya memberi kode kepada Sabur dengan menggoyangkan tangan yang artinya tidak akan terjadi apa-apa.”
Rupanya, Brigjen Sabur sebagai Komandan Resimen Cakrabirawa tidak puas. Sekitar 5 menit kemudian, dia mengirim nota lagi kepada Brigjen Amirmachmud yang isinya sama, tapi dengan disertai kata-kata sangat. Amirmachmud tetap tidak bersedia keluar dari ruang sidang. Brigjen Sabur tidak sabar atau malah terlalu takut dan karena tak mau ambil risiko dia menyampaikan sebuah nota langsung kepada Presiden Soekarno.
Bagaimana Amirmachmud menyikapi reaksi Sabur yang berlebihan itu?
Menurut seorang mantan menteri yang turut hadir dalam Sidang Kabinet, Amirmachmud datang menghampiri dirinya. Menteri Penerangan Achmadi dan Menteri Pertahanan Keamanan Sarbini. Amirmachmud lantas duduk dan mengomel. Dia berkata, “pak, saya protes. Sabur itu tidak berhak tentang keamanan di Jakarta. Kalau dia melapor keamanan istana boleh, lapor ke presiden bahwa Jakarta tidak aman dan meminta Bung Karno meninggalkan istana, saya tidak setuju.’
Sarbini kemudian bertanya sebaiknya bagaimana. Amirmachmud usul, nanti sore dia akan menghadap presiden untuk menerangkan situasi itu. Kata sang mantan menteri, “Kepada Pak Sarbini, Amirmachmud memohon agar Pak Soeharto sebagai Men/Pangad dan Kaskoti (Kepala Staf Komando Operasi Tertinggi) diikutkan dalam mengamankan Ibukota. Pak Sarbini setuju. Nah, dari usul Amirmachmud itulah Supersemar sebenarnya lahir.”
Setelah berbicara dengan Dr. Soebandrio, Presiden Soekarno lalu menskors sidang dan menyerahkan pimpinan sidang pada Wakil Perdana Menteri II Dr. J. Leimana. Soekarno berkata kepada Leimana, “Saya serahkan pimpinan ke you.”
Soekarno lalu berdiri langsung berjalan ke luar ruangan, disusul Soebandrio dan Chaerul Saleh. Sejarah akhirnya mencatat: itulah sidang kabinet terakhir yang dipimpin oleh Presiden Soekarno.
Pengakuan menarik muncul dari Letkol Ali Ebram. Dia berkata,
“Bung Karno mendadak meninggalkan istana karena ada pasukan liar yang menyerbu. Bung Karno memutuskan untuk terbang ke Istana Bogor. Ketika mesin heli mulai menderu, saya segera menyusul berangkat ke Bogor  dengan menggunakan mobil. Sebenarnya (pasukan itu) bukan liar, hanya mereka tak pakai tanda-tanda pengenal. Tapi, banyak yang tahu itu pasukan kostrad.
Kemal Idris tahu benar. Maka ketika bertemu, saya bilang, “Hai Jenderal, anda kok pakaiannya baru sekarang?” dia marah-marah dengan saya, ‘kamu dodol, nek ngomong nyakiti ati.’
“Lho pakaiannya baru kok sakit,’ saya bilang begitu.
‘Ya, ngerti aku maksudmu,’katanya.”
Dalam kesaksian Mangil Martowidjojo, kepergian Presiden Soekarno itu berlangsung demikian,
Waktu sidang kabinet tersebut berlangsung, Istana Negara dikepung oleh pasukan Para Komando. Sidang Kabinet hanya berlangsung kurang lebih 10 menit kemudian Presiden Soekarno bersama dua pembantu dekatnya bergegas ke Bogor dengan helikopter.”
Mangil berkata lagi,
“Dari Istana Negara Bapak Presiden Soekarno berjalan kaki menuju ke Istana Merdeka, lalu terus ke helikopter disertai oleh Jenderal Amirmachmud dan saya sendiri. Di dalam perjalanan di dekat koepel (sekolah taman kanak-kanak Istana Presiden), antara Istana Negara dan Istana Merdeka, Bapak Presiden Soekarno bertanya kepada Jenderal Amirmachmud “Mir, ada apa lagi ini?” dan dijawab oleh Amirmachmud, “Ini tentara liar tidak banyak, hanya kira-kira 50 orang, sebaiknya Bapak pergi ke Istana Bogor saja.”
Lanjut Mangil,
“Melihat banyaknya pasukan atau tentara yang dikatakan liar itu, Bapak Presiden tenang-tenang saja. Menurut perkiraan Jenderal M. Sabur, tentara yang dikatakan liar itu jumlahnya cukup banyak, tidak kurang dari satu batalion dan waktu helikopter terbang ke atas, kelihatan sekali banyaknya tentara yang dikatakan liar itu dari dalam helikopter.”
Pengerahan tentara liar itu ternyata berkaitan dengan rapat Staf Umum Angkatan Darat (SUAD) yang diselenggarakan beberapa hari menjelang Sidang Kabinet. Menurut Jenderal Soemitro, pada 4 Maret 1966, Men/Pangad Letjen Soeharto meminta izin kepada Presiden Soekarno untuk menangkap sejumlah menteri yang dinilainya terlibat Gerakan 30 September. Akan tetapi, Soekarno menolak permintaan Soeharto. Karena penolakan itu, Soeharto dalam rapat SUAD memutuskan untuk memisahkan Soekarno dari “durna-durna”-nya, seperti soebandrio. Menurut Soemitro, perintah itu akan dilaksanakan pada saat dilangsungkan sidang kabinet di Istana Merdeka, 11 Maret 1966. Penangkapan para “durna” akan dilakukan oleh Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD). Sejak beberapa bulan sebelumnya, para petinggi Angkatan Darat memang dibuat gerah oleh ulah Soebandrio yang mengisukan adanya Dewan Jenderal yang akan melakukan kudeta.
Menurut Kemal Idris,
Menjelang 11 Maret adalah hari tegang bagi Kostrad dan RPKAD. Hari-hari itu adalah hari-hari konsinyiring. Salah satu tugas kami itu ialah melaksanakan perintah Pak Harto untuk menangkap Dr. Soebandrio hidup-hidup. Perintah itu kami laksanakan bersama Kolonel Sarwo Edhie, komandan RPKAD, yang juga menjadi wakil saya dalam memegang semua pasukan Angkatan Darat yang berada di Jakarta dan sekitarnya. Yang diketahui oleh banyak orang mengenai “pasukan liar” itu adalah bahwa ada di sekitar istana pada tanggal 11 Maret 19966, padahal beberapa hari sebelumnya mereka sudah ada di sana. Itu tadi, untuk menangkap Soebandrio. Selain itu juga untuk melindungi para mahasiswa yang berdemonstrasi.”
Bandingkan dengan pengakuan Komandan RPKAD Sarwo Edhie Wibowo,
Sebagai ABRI, jelas kami tak bisa ikut demonstrasi meski tuntutan mahasiswa itu kita rasakan juga sebagai kebenaran. Lalu ABRI harus berbuat apa? Akhirnya kami mengambil jalan tengah, ialah yang paling bijaksana. Kami putuskan untuk mengamati pasukan-pasukan yang menjaga istana, agar mereka tidak seenaknya menembaki para pelajar dan mahasiswa yang berdemonstrasi. Caranya kami memperlihatkan diri di situ tanpa tanda pangkat, tanpa tanda pengenal kesatuan dan senjata yang dibawa tidak diacungkan, tapi dihadapkan ke bawah. Sekedar jalan-jalan di sekitar istana. Perintahnya: jangan terlalu dekat agar tidak memancing insiden, tapi cukup dekat supaya bisa menjadi semacam warning agar pihak sana tidak sembarangan main tembak kepada rakyat. Ini hasil persetujuan antara RPKAD dan Kastaf Rostrad, Kemal Idris.
Menurut Sarwo Edhi, Pada 11 Maret 1966, pasukan itu, sesuai dengan instruksi, bergerak di sekitar istana. Berita tentang adanya pasukan itu sampai ke istana lewat seorang perwira Cakrabirawa yang mengenal seorang perwira RPKAD yang berada di sekitar RRI Merdeka Barat. Perwira Cakra ini kenal perwira RPKAD yang tidak memakai tanda-tanda itu.
“Lho, kok kalian di sini?”
“Tugas,” jawab perwira RKAD.
Ketika ditanya tugasnya, sang perwira RPKAD menyuruh orang Cakra itu untuk bertanya kepada komandan si perwira RPKAD. Namun, orang Cakra itu tidak bertanya kepada komandan RPKAD, tetapi melapor ke istana.
Namun, semula rencana tidak berjalan lancar sebagaimana yang mereka inginkan. Dalam hal ini, kita bisa mengikuti kesaksian Kemal Idris yang mengaku bahwa pada 10 Maret 1966 dia datangi oleh Jenderal M. Panggabean di Kostrad. Mereka lalu berbincang membicarakan keadaan. Waktu itu Kemal mengatakan, “Pak Panggabean ada baiknya memanggil Amirmachmud. Dia tak ikut main seperti kehendak kita. Ternyata dia tidak mau. Takut kehilangan kontak dengan Soekarno.”
Kemal Idris juga mengatakan,
“Amir juga menuduh saya mengepung istana dengan pasukan tanpa identitas. Saya mengepung istana itu karena perintah dari Soeharto. Untuk menangkap Soebandrio yang sedang di istana. Umar Wirahadikusumah juga meminta saya menarik pasukan yang mengepung istana. Saya bilang, “Tidak mau, karena perintah keluar perintah ditarik, perintah keluar perintah ditarik.” Bagaimana anggapan bawahan kepada kita berdua. Leadership kita ke mana?”
Lanjutnya,
“Bayangkan kalau saya tarik kembali perintah itu, apakah akan terjadi 11 Maret? Secara tak langsung saya juga punya peran. Bukan hanya 3 jenderal atau Soeharto saja. Kalau saya menarik pasukan, apa Bung Karno akan lari ke Bogor? Apakah Soeharto akan menulis surat kepada Soekarno? Apakah Supersemar akan keluar? Apa Soeharto bisa berkuasa? Barangkali kan enggak. Barangkali saja Soeharto sekarang masih hidup.
Demikianlah, laporan tentang munculnya “pasukan liar” telah mengguncangkan Presiden Soekarno. Dia sepertinya menduga bahwa pasukan itu dikerahkan oleh pihak Angkatan Darat yang menentangnya. Tampaknya, jaminan keamanan dari Brigjen Amirmachmud tak sesuai dengan kenyataan yang sesungguhnya.
Mengapa hal itu terjadi? Apakah Amirmachmud menipu Soekarno atau justru karena Amirmachmud menipu Soekarno atau justru karena Amirmachmud tak berdaya menghadapi tekanan Kemal Idris?
Sesuai pengakuan Frans Seda, Sarwo Edhie Wibowo dan Kemal Idris, tujuan mengepung istana, melalui disusupkannya anggota RPKAD dan Kostrad dalam demonstrasi pemuda dan mahasiswa, adalah untuk mengacaukan Sidang Kabinet dan kemudian menangkap Dr. Soebandrio. Mereka akan memanfaatkan situasi kacau itu untuk melancarkan jalan sesuai skenario yang sudah disusun, yaitu mengarahkan agar Presiden Soekarno menyerahkan kekuasaan kepada Letjen Soeharto. Artinya, pengepungan istana pada 11 Maret 1966 oleh pasukan liar sangat berkaitan dengan rencana untuk lahirnya Supersemar.
Dalam hal inilah Supersemar bisa dipahami sebagai surat perintah yang lahir bukan atas kemauan atau prakarsa Presiden Soekarno. Surat itu diberikan di bawah tekanan, seperti terlihat dari rangkaian peristiwa di atas.

Sebetulnya, banyak faktor yang terjadi sebelum 11 Maret 1966 yang semuanya menjadikan semacam “tekanan” terhadap Presiden Soekarno. Puncak dari tekanan itu datang  dari Mayjen Basuki Rachmat, Brigjen Amirmachmud dan Brigjen M. Jusuf yang menemui Presiden Soekarno di Istana Bogor. Bila tidak ada demonstrasi dari mahasiswa dan pasukan tak dikenal yang mengepung Istana Negara, mungkin saja Supersemar belum atau tidak akan terjadi.

No comments:

Post a Comment

Kontroversi Seputar Kepemimpinan Soeharto

Soeharto memang penuh kontroversi. Dari mulai penyerahan Supersemar atau Surat Perintah 11 Maret di tahun 1966 sampai kemudian memang...