Monday, 2 October 2017

EKSPANSI MONGOL

Pad awal hingga pertengahan abad ke-13, bangsa Mongol di bawah kepemimpinan Jengis Khan melakukan ekspansi besar-besaran di lebih separuh daratan Asia dan Eropa Timur. Hampir lebih dari satu dasawarsa, Jengis Khan bersama pasukannya menebarkan teror mengerikan. Tanpa pandang bulu, mereka menyerbu, merusak, menghancurkan, membunuh, memperkosa wanita muda dan tua, menjarah harta dan akhirnya pergi meninggalkan korban begitu saja.
Jengis Khan berhasil menguasai Tiongkok, mengalahka Rusia, menghancurkan kekaisaran Persia, mencaplok Polandia dan Hongaria, serta meluluh-lantakkan Baghdad sebagai pusat kekhalifahan Islam pada masa itu.
Penyebab Ekspansi
Awalnya bangsa Mongol menyerbu Cina Utara yang dikuasai bangsa Kin. Alasan penyerbuan cukup kuat, bangsa Kin sering menyerang Mongol (Tartar) karena menganggap mereka bangsa biadab. Dalam serangan itu sudah banyak pemimpin Mongol diibunuh dengan kejam. Ratusan tahun orang Mongol menyimpan dendam itu.
                         Pasukan Jengis Khan berusha menerobos tembok raksasa China

Dalam serbuan yang dipimpin Jengis Khan, tentara Mongol dengan mudah dapat menundukkan Cina Utara. Penduduk dan pemimpin mereka dibunuh kecuali orang cerdik pandai, seniman, perajin, sastrawan, guru, ahli bahasa, rohaniawan, dokter, ahli sejarah dan pakar strategi perang. Keberadaan mereka sangat penting untuk melatih dan mendidik orang Mongol sehingga menjadi bangsa yang beradab.
Setelah itu mereka ke Selatan, yaitu Tiongkok dan Beijing. Setelah menaklukan sebagian besar wilayah bangsa tersebut, pada tahun 1214 mereka mendirikan Dinasti Yuan, sebagai simbol keberhasilan ekspansinya menundukkan kawasan Asia Timur Laut. Belum cukup sampai di situ, pada tahun 1219, denga angkuh Jengis Khan beserta pasukannya melebarkan daerah jajahannya menerjang bangsa-bangsa barat Eropa. Tepatnya ke wilayah-wilayah yang belum pernah mendengar tentang penaklukan-penaklukan yang dilakukannya.
                                  Jengis Khan sedang berpidato kepada pasukannya

Dunia pun gempar. Setelah melewati tahap-tahap penaklukan tersebut, Jengis Khan dan pasukannya telah mencapai kekuatan tak tertandingi. Mereka berhasil menciptakan kekaisaran berdampingan terbesar yang belum pernah disaksikan dunia. Hal inilah yang membuatnya ditakuti di seluruh Eurasia.
Pada tahun 1277 Jengis Khan meninggal dunia, sebelum seluruh wilayah Khwarizmi dan Asia Tengah, termasuk Afghanistan dan India Utara, berhasil ditaklukan. Dia digantikan putranya Ogatai (1229-1241). Di bawah kepemimpinan Ogatai, pasukan Mongol meneruskan penyerbuannya di Cina, sepenuhnya menguasai Rusia dan menyerbu maju Eropa.
Di tahun 1241 gabungan tentara Polandia, Jerman, Hongaria sepenuhnya dipukul oleh orang-orang Mongol yang maju pesat menuju Budapest. Tetapi, tahun itu Ogatai meninggal dunia. Pasukan Mongol mundur dari Eropa dan tak pernah kembali lagi. Selanjutnya, di bawah dua Khan berikutnya (Mangu Khan dan Kunilai Khan, kedua cucu Jengis Khan), orang-orang Mongol meneruskan maju mendesak di Asia. Tahun 1279, orang-orang Mongol sudah menguasai sebuah imperium yang terluas dalam sejarah. Penguasaan daerahnya meliputi Cina, Rusia, Asia Tengah, juga Persia dan Asia Tenggara.
kehebatan pasukan Mongol telah terbukti di medan perang di bawah komando Jengis Khan

Tentaranya melakukan gerakan maju yang penuh keberhasilan menambah daerah jajahan. Wilayahnya membentang dari Polandia hingga belahan utara India dan kekuasaan Kubilai Khan diakhiri di Korea, Tibet dan beberapa bagian Asia Tenggara. Suatu imperium yang demikian luas dengan sendirinya sukar diatasi lewat sistem transportasi yang masih primitif. Akibatnya adalah musykil memelihara keutuhan daerah kekuasaan,sehingga pada akhirnya imperium itu terpecah belah.
Meski begitu, kenyataan bahwa seluruh wilayah jajahan Mongol dapat ditundukkan dan dikuasai dalam kurun waktu kurang lebih 40 tahun, adalah suatu hal yang patut menjadi perhatian. Bagaimana pun, ini merupakan sebuah ekspansi besar yang sulit dilakukan bagi bangsa-bangsa lain di dunia.

Riwayat Jengis Khan

Untuk mengenal watak suatu bangsa dan kekuatan bangsa tersebut dalam kurun sejarah tertentu, kita dapat bercermin pada pemimpinnya. Kita perlua belajar cara pemimpin tersebut menempa serta mengorganisasi bangsanya.  Tokoh sentral bangsa Mongol pada abad ke-13 M adalah Jengis Khan serta anak cucunya yang perkasa seperti Ogatai, Batu, Hulagu dan dan Kubilai Khan. Jengis telah berhasil memimpin bangsa Mongol menaklukan daratan Asia.  Keturunannya memerintah dan menguasai negeri-negeri yang ditaklukannya itu selama berabad-abad. Dialah yang menempa bangsa Mongol menjadi bangsa yang tangguh, bberani dan nekad.
Namanya ketika kecil adalah Temujin. Ayahnya Yasugei, adalah seorang Khan (raja) yang mengepalai 13 kelompok suku Borjigin, salah satu suku utama Mongol-Turki yang paling berapi-api dan gagah perkasa. Sebagai Khan kecil, Yasugei tunduk kepada Khan yang leih tinggi, Utaq Khan. Ketika Temujin berusia 13 tahun, terjadi perebutan kekuasaan dalam suku Borjigin. Ayahnya mati terbunuh disebabkan panah beracun Dario, salah seorang lawan politiknya. Karena masih muda, Temujin tidak diakui sebagai penggantinya. Malahan keselamatan dirinya serta ibu dan adik-adiknya terancam. Keluarga Yasugei melarikan diri dan mendapat perlindungan dari salah seorang saudaranya dari suku Nainan.
Pada tahun 1182 Temujin menjadi remaja yang tangkas serta berani. Ia berhasil mempersunting Bortai, salah seorang putri keluarga terkemuka suku Nainan. Bortai mendampingi Temujin sampai akhir hayat dan setia mengikuti suaminya ke daerah-daerah peperangan. Bakat Temujin sebagai pemimpin telah terlihat ketika ia berusia 20 tahun. Seluk-beluk ilmu perang dia pelajari, begitu pula ketangkasan menunggang kuda dan penggunaan segala jenis senjata perang. Secara diam-diam ia mengumpulkan para pengikut ayahnya dan melatih mereka dengan disiplin keras.
Di waktu yang tepat, dia pun menyerang bekas lawan politik ayahnya dan berhasil merebut kembali kedudukannya sebagai Khan suku Borjigin. Tidak berapa lama setelah itu dia berhasil pula menyatukan suku-suku Mongol dan Turki yang terpencar-pencar di wilayah luas antara sungai Dzungaria dan Irtish.
Pada tahun 1202, Huraltai, majelis besar suku-suku Mongol, memberi pengakuan kepada Temujin sebagai Khan seluruh orang Mongol dengan gelar Jengis Khan. Artinya “raja diraja dan dalam bahasa Arab disebut Sayyid al-Mutlaq.
Salah satu faktor keberhasilan Jengis Khan ialah kebengisan dan kekejamannya dalam memperlakukan lawan-lawan politik yang dikalahkannya. Apabila pihak lawan telah ditundukkan, para pemimpinnya lantas ditangkap dan kemudian direbus hidup-hidup dalam air panas yang sedang mendidih dalam belanga besar.
Pengangkatannya sebagai Khan besar seluruh orang Mongol semakin memperkuat keyakinan dirinya dan keyakinan bahwa pasukan tentaranya sangat kuat. Inilah yang mendorong Jengis mulai berpikir bagaimana menaklukan negeri-negeri sekitar yang memiliki wilayah luas dan makmur. Sebut saja Cina, Khwarizmi di Asia Tengah, Persia, India, India Utara, serta Eropa Timur.
Jengis mulai melatih lebih keras pasukan tentaranya. Dia merekrut sebanyak-banyaknya orang Mongol dari berbagai suku dan mengorganisasikannya menjadi kekuatan militer yang besar. Tentaranya dilatih dengan disiplin keras. Teknik-teknik teros dan kekejaman yang canggih juga diajarkan kepada mereka. Percobaan pertama untuk menguji keunggulan tentaranya ialah dengan menyerbu Cina Utara yang dikuasai bangsa Kin.
Sebagai tokoh besar lain, Jengis Khan mempunyai idola yang ikut membentuk kepribadian dan arah cita-citanya. Idolanya ialah tokoh utama sebuah cerita rakyat Mongol yang populer bernama Kutula Khan. Menurut cerita tersebut Kutula Khan bertubuh besar. Suaranya bagaikan bunyi guruh dan guntur menyambar puncak gunung.
Tangannya yang kuat bagaikan beruang yang dengan mudah   dapat mematahkan anak panah. Walau udara dingin pada musim gugur dia dapt tidur dengan nyenyak dekat api pendiangan tanpa pakai pakaian. Percikan api yang melukai tuuhnya tidak dia pedulikan, seolah-olah gigitan nyamuk saja. Dalam sehari ia makan seekor  domba dan satu guci susu.
Kepada seorang jenderalnya Jengis pernah bertanya, “Apakah kebahagiaan terbesar dalam hidup ini, menurut pendapatmu?” Jenderalnya menjawab. “Berburu di musim semi mengendarai seekor kuda yang tangkas dan bagus”.
“Bukan!” jawab Jengis Khan. “kebahagiaan terbesar ialah menaklikan musuh, mengejar mereka sampai tertangkap, kemudian merampas harta milik mereka, memandangi kerabat dekat mereka meratap dan menjerit-jerit, menunggangi kuda-kuda mereka, memeluk istri dan anak-anak gadis mereka serta memperkosa mereka”.
Ogatai, salah seorang putranya, mempraktikan betul-betul apa yang dikatakan ayahnya. Apabila Ogatai dan tentaranya berhasil menduduki kota, dia akan memerintahkan ratusan gadis berbaris dan kemudian beberapa gadis paling cantik dipilihnya untuk dirinya. Yang agak cantik untuk jenderal-jenderalnya dan selebihnya untuk prajurit-prajurit yang lebih rendah pangkatnya.
Amir Khusraw penyair Persia abad ke-13 yang melarikan diri dan tinggal di India, memberi gambaran seperti berikut tentang orang-orang Mongol itu. “mereka mengendarai unta dan kuda dengan tangkas, tubuh mereka bagaikan besi, wajah membara, tatapan muka garang, leher pendek, telinga lebar berburu dan memakai anting-anting, kulit kasar penuh kutu dan abunya amat tidak sedap”.

Penulis lain mengatakan bahwa mereka seperti keturunan anjing saja, wajah rajanya seperti binatang buas dan berkaya bahwa Tuhan menciptakan mereka dari api neraka. Sejarawan Ibn ‘Atir melaporkan ketika Bukhara diserbu 30ribu tentara kerajaan Khwarizmi tidak berkutik menghadapi keganasan dan kebengisan mereka. Juwayni sejarawan abad ke-13 yang lain, menulis dalam bukunya Tarikh-I Jehan Gusan, “Jengis Khan naik ke atas mimbar masjid dan mengaku sebagai cemeti Tuhan yang diutus untuk menghukum orang-orang yang penuh dosa”.
                                   Bagi rakyat Mongolia, Jengis Khan adalah Pahlawan
                tak heran di kota Ulanbator didirikan  monumen Jengis Khan yang megah

No comments:

Post a Comment

Kontroversi Seputar Kepemimpinan Soeharto

Soeharto memang penuh kontroversi. Dari mulai penyerahan Supersemar atau Surat Perintah 11 Maret di tahun 1966 sampai kemudian memang...