Saturday, 30 September 2017

ALEXANDER THE GREAT


Membicarakan penaklukan bangsa Macedonia tidak bisa lepas dari tokoh sentralnya, yaitu Alexander yang Agung atau Alexander The Great. Alexander dilahirkan di Pello ibukota Macedonia tahun 356 SM. Ayahnya adalah Raja Philip II. Ketika Alexander baru berumur 20 tahun, Philip meninggal. Tanpa kesulitan berarti, Alexander segera menggantikan posisi ayahnya. Sebagai raja yang memiliki visi jauh kedepan. Philip II memang sudah mempersiapkan Alexander sebagai penggantinya. Alexander muda sudah punya pengetahuan dan pengalaman kemiliteran mumpuni. Dalam hal pendidikan intelektual, Philip sangatlah serius. Tak tanggung tanggung, guru untuk mengajari Alexander The Great adalah seorang yang istimewa, Aristoteles, filosofi sekaligus cendekiawan paling masyhur di dunia masa itu.

Sepeninggal Philip II, wilayah-wilayah jajahan Macedonia, baik di Yunani maupun daerah-daerah belahan sebelah utara segera mengangkat senjata mengorbarkan pemberontakan. Dengan sigap, Alexander segera mengirimkan pasukan Macedonia untuk menetralisir keadaan. Hanya dalam tempo dua tahun sesudah naik tahta, Alexander sudah mampu mengatasi kedua daerah itu.
Selanjutnya Alexander berhasil mengorganisir pasukan gabungan Macedonia dan Yunani menyeberang Selat Dardanalles untuk mendudukkan kekaisaran terbesar saat itu yaitu Persia. Bertahun-tahun Persia telah menguasai wilayah yang sangat luas, membentang mulai dari Laut Tengah hingga India. Ketika itu Persia merupakan lawan yang tangguh dan disegani. Sebuah kekaisaran paling luas, kuat dan kaya di muka bumi.
Dengan jumlah pasukan hanya 35.000 tentara, Alexander sanggup menjaga keyakinan melawan jumlah pasukan Persia yang berkekuatan besar. Pertama, pasukan Alexander mengalahkan tentara Persia dan memotong simpul Gordium, lalu merebut seluruh asia kecil (Turki). Waktu itu, Alexander masih cukup belia, 22 tahun. Kemudian ia bergerak menuju daerah utara Suriah, menggilas pasukan besar Persia di Lembah Issus, yang mengakibatkan Raja Darius III melarikan diri. Setelah merebut Siria, Palestina dan Funisia, Alexander dan pasukannya balik menyerbu ke arah selatan. Melalui pertempuran berat dan sulit sepanjang tujuh bulan, Alexander berhasil menaklukan kota Pulau Phoenicia Tyre yang kini bernama Libanon.
Alexander meneruskan gerakannya ke selatan. Kali ini giliran Mesir berhasil ditundukannya dengan mudah. Ia kemudian mendirikan kota bernama Alexandria, sebuah kota yang selama berabad-abad menjadi pusat perdagangan, budaya dan ilmu pengetahuan. Alexander kemudian bergerak lagi kembali ke daratan Asia. Dalam pertempuran hidup-mati yang menentukan di dekat Gaugamela dan Arbela tahun 331 SM, Alexander sepenuhnya sudah melumpuhkan sebagian besar tentara Persia ketika usianya baru 25 tahun. Darius III tewa, seluruh kerajaan Persia jatuh ke tangan Alexander. Hingga akhirnya berhasil merebut tiga kota terkaya di dunia yaitu, Babylon, Susa dan Persepolis.

Tak cukup sampai di situ, tahun 326 SM, Alexander ingin memperluas ekspansinya ke India dan berhasil mengalahkan tentara India yang dipimpin Raja Porus. Dalam peristiwa tersebut, kuda Alexander yang bernama Buchepalus mati. Ia lalu mendirikan kota bernama Buchepala di India. Di India tentara Alexander tinggal seperempat saja. Mereka sudah bosan berperang dan rindu ingin kembali ke Macedonia. Dalam perjalanan pulang lewat Gurun Gedrosia, tenaranya banyak mati karena badai pasir dan kelaparan. Setiba di Susa, Alexander mengadakan pesta yang disebutnya “perkawinan Barat dan Timur” di mana ribuan tentara Macedonia secara resmi mengawini puteri-puteri Asia. Dia sendiri walaupun sudah mempersunting istri seorang gadis bangsawan Asia sebelumnya, kawin lagi dengan puteri Darius III, Stateira.
Pada tahun 323 SM, ketika usianya menginjak 33 tahun, Alexander meninggal di Babylon, karena demam dan kelelahan. Mayatnya diangkut ke Mesir dan dikebumikan di Alexandria. Sayangnya Alexander tidak menunjuk penggantinya dan segera sesudah dia tiada mulailah perebutan kekuasaan. Dalam pergumulan ini, ibunya, istrinya, anak-anaknya semuanya terbunuh. Kerajaan dibagi diantara para jenderalnya.

Daerah Kekaisaran Alexander

Dalam buku “100 Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia” karya Michael Hart, disebutkan Alexander mungkin seorang tokoh yang teramat dramatis dalam sejarah, karier dan pribadinya tetap jadi sumber kekaguman. Bukti-bukti kesuksesan kariernya cukup dramatis dan berlusin dongeng bermunculan menyangkut namanya. Dan jelas sekali sudah menjadi ambisinya menajadi pendekar dan penakluk terbesar sepanjang jaman dan tampaknya dia memang layak memperoleh julukan itu. Selaku pejuang individual, pada dirinya tercakup kemampuan dan keberanian. Sebagai seorang jenderal, dia teramat ulung, karena selama sebelas tahun pertempuran, tak pernah sekalii pun dia kalah.
Berbarengan dengan itu, dia adalah seorang intelektual yang belajar dibawah asuhan Aristoteles dan menguasai sajak-sajak Homer. Dalam hal merealisir gagasan bahwa bangsa yang bukan Yunani tidaklah mesti bangsa barbar, jelas menunjukkan bahwa pikirannya punya daya jangkau lebih jauh ketimbang sebagian besar pimikir-pemikir Yunani saat itu. Teteapi, di lain pihak Alexander punya pandangan sempit. Meski berulang kali dia menghadapi resiko dalam pertempuran, dia tidak mempersiapkan penggatinya. Keteedoran inilah yang menjadi penyebab begitu cepatnya kerajaannya hancur berantakan sesudah dia tutup usia.
Alexander dianggap besarbkemungkinan berwajah rupawan dan sering amat bermurah hati kepada musuh yang dikalahkannya. Di lain pihak, dia juga seorang “egomaniac” dan bertabiat kejam. Pada suatu peristiwa, dalam suatu pertengkaran dalam keadaan slebor, dia membunuh teman akrabnya, Clertus seorang yang pernah menyelamatkan jiwanya.
Seperti hal nya Napoleon dan Hitler, Alexander punya pengaruh luar biasa terhadap generasinya. Masa pengaruhnya yang singkat, lebih ringkas dari mereka, semata-mata lantaran terbatasnya sarana untuk perjalanan kian-kemari serta komunikasi pada saat itu membatasi dan memperkecil pengaruhnya terhadap dunia.
                                         wilayah yang ditaklukan Alexander Agung

Pengaruh

Menurut catatan, selama 11 tahun Alexander mengadakan perjalanan sejauh 17.600 Km. Selama perjalanannya, ia mendirikan 70 kota. Hampir semua kota diberi nama Alexandria. Ada beberapa faktor yang menjadi sebab kemenangan Alexander. Pertama, pasukan yang ditiggalkan ayahnya, Philip II, benar-benar terlatih dan terorganisir, lebih baik dari pasukan Persia. Kedua, Alexander sendiri adalah seorang panglima perang yang jenius, mungkin paling jenius di sepanjang jaman. Ketiga, keberanian Alexander itu sendiri. Dengan menunggangi kuda kesayangannya . Bucephalus, ia memberikan pukulan menentukan bagi lawannya.
Dalam jangka panjang, pengaruh terpenting dari penaklukan yang dilakukan Alexander adalah mendekatkan kebudayaan Yunani dengan Timur, Tengah, sehingga masing-masing mendapat faedah untuk menambah dan mempertinggi kebudayaan masing-masing. Selama dan segera sesudah karier Alexander, kebudayaan Yunani dengan cepat tersebar ke Iran, Mesopotamia, Suriah, Yudea dan Mesir. Sebelum Alexander, Kebudayaan Yunani memang sudah merasuk ke daerah-daerah ini tetapi dengan lambat sekali.
                       Alexander Agung dalam sebuah pertempuran penaklukan wilayah

Alexander juga menyebarkan pengaruh kebudayaan Yunani ke India dan Asia Tengah, daerah yang belum terjamah sebelumnya. Tetapi, pengaruh kultural bukanlah berarti hanya berlaku sepihak dan satu jurusan. Dalam masa abad Hellenistik (abad-abad sesudah langkah-langkah Alexander) gagasan Timur khususnya gagasan keagamaan tersebar ke dunia Yunani. Dengan kebudayaan Hellenistik ini memang tampaknya Yunani dominan tetapi sebenarnya pengaruh pikiran Timur besar sekali pada saat itu mempengaruhi Roma.
Dalam perjalanan kariernya, Alexander mendirikan lebih dari 21 kota baru. Yang paling masyhur dari semua itu adalah Alexandria (Iskandariah) di Mesir yang dalam tempo yang cepat menjadi kota terkemuka di dunia dan merupakan pusat budaya dan pendidikan yang kesohor. Lain-lainnya sepeerti Herat dan Kandahan di Afganistan juga berkembang menjadi kota-kota


No comments:

Post a Comment

Kontroversi Seputar Kepemimpinan Soeharto

Soeharto memang penuh kontroversi. Dari mulai penyerahan Supersemar atau Surat Perintah 11 Maret di tahun 1966 sampai kemudian memang...