Tuesday, 24 October 2017

SANDI TELUR DI SUKAMISKIN


Dua tahun lamanya Bung Karno mendekam di Penjara Sukamiskin. “Rumah”-nya yang beru, setelah ia diputus bersalah dalam suatu sidang monumental di jalan Landraad, Kota Kembang. Dalam, persidangan amar putusan tahun 1930, sejatinya majelis hakim mengganjar Bung Karno dengan hukuman selama 4 tahun penjara. Putusan majelis hakim itu sekaligus memindahkan Bung Karno dari Banceuy ke Sukamiskin. Beda nama, sama penjara.
Akan tetapi, berkat pembelaan politiknya yang kesohor berjudul “Indonesia Menggugat”, kasus yang menikam Bung Karno menjadi cepat tersebar hingga ke negeri Belanda, bahkan hingga ke sejumlah negara di Eropa lainnya. Disana, banyak ahli hukum memprotes dan mengkritik hukuman atas Bung Karno, yang notabene tidak berdasar. Terlebih, semua tuduhan jaksa penuntut yang mewakili pemerintah Hindia Belanda, tak pernah bisa dibuktikan dalam persidangan.
Atas berbagai protes itulah, Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu, Andries Cornelies Dirk de Graeff mengubah masa hukuman Bung Karo menjadi dua tahun. Alhasil, 31 Desember 1931, ia dibebaskan. Pembebasan Soekarno melegakan satu pihak, tetapi menyesakkan dada pihak yang lain. Kondisi itu tidak hanya terjadi di dalam negeri, tetapi juga di Belanda sana. Apakah keputusan de Graeff murni atas pertimbangan keadilan, atau kritik para pengamat hukum di Belanda, tak pernah terungkap.
                                                 Andries Cornelies Dirk de Graeff

Memang tidak ada konfirmasi yang pasti. Akan tetapi, tidak lama setelah mengubah masa kurungan Soekarno dari 4 tahun menjadi 2 tahun, jabatan de Graeff yang disandang sejak tahun 1926 sebagai penguasa tertinggi Hindia Belanda menjadi goyah. Tak lama kemudian, ia di copot dan sang Ratu menggantinya dengan pejabat baru, Bonifacius Cornelis de Jonge. Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang baru dan akrab disapa de Jong ini kemudian melancarkan aksi memperketat gerakan menuju kemerdekaan. Salah satu yang paling terasa adalah gunting sensor pers yang makin tajam.
                                                               Cornelis de Jonge

Singkatnya, sebelum Bung Karno dipersilahkan menghirup udara bebas, telah tersebar sebuah tulisan dengan judul “Saya memulai Kehidupan Baru”. Entah siapa yang melansir tulisan tadi, tetapi dikesankan seolah-olah Soekarno telah “bertobat” dan tidak akan melanjutkan aktivitas politiknya.
Sipir penjara yang melepas Bung Karno hingga ke pintu gerbang Penjara Sukamiskin pun sempat bertanya, Soekarno, dapatkah tuan menerima kebenaran kata-kata ini? Apakah tuan betul-betul akan memulai kehidupan baru? Jelas yang dimaksud kepala sipir itu adalah publikasi tentang “Saya Memulai Kehidupan Baru” tadi.
Atas pertanyaan sipir penjara, sesaat sebelum mengayun langkah kebebasan, Bung Karno menghentikan kaki, lalu memegang tiang pintu kebebasan dengan tangan kanan. Sejenak ia tatap kedua bola mata kepala sipir bule itu dan menjawab, “Seorang pemimpin tidak berubah karena hukuman. Saya masuk penjara untuk memperjuangkan kemerdekaan dan saya meninggalkan penjara dengan pikiran yang sama.” Tentulah, masam muka si sipir penjara tadi.
Begitulah, seorang Soekarno memegang teguh prinsipnya, sekalipun selama dua tahun, ia telah melewati siksaan dahsyat, yang terutama adalah pengasingan dirinya di sebuah sel yang begitu lembap. Kisah heroik selama dalam penjara, terus terpupuk. Sandi-sandi komunikasi antara dirinya dengan elemen pejuang di luar penjara, senantiasa terjalin.
Sebagai ilustrasi, setiap butir telur yang dikirim istrinya, Inggit garnasih, selalu diraba oleh Bung Karno sebelum dikupas untuk dimakan. Jika ia mendapati satu lubang jarum pada permukaan kulit telur itu, artinya keadaan lancar, tak ada yang perlu dirisaukan. Jika ditemukan dua titik lubang jarum, artinya ada kawan pejuang yang tertangkap. Jika ia mendapati tiga titik, artinya terjadi penyergapan ke markas aktivis secara besar-besaran.
Sebelum menghirup udara bebas, Soekarno memang menjadi narapidana politik paling diwaspadai. Karenanya, ia diisolasi sedemikian rupa. Termasuk dibatasi benar semua informasi yang datangnya dari luar. Semua yang asalnya dari luar, pasti digeledah, diperiksa dengan sangat teliti, termasuk semua antaran makanan yang diawa Inggit.
Bukan hanya itu. Bahkan dalam urusan bekerja di dalam penjara misalnya, Bung Karno ditempatkan di pekerjaan yang letaknya dekat dengan ruangan Direktur Penjara Sukamiskin. Dengan demikian, penjagaan terhadapnya ketat dengan sendirinya.
Pekerjaan apa yang sempat dilakukan Soekarno sebagai narapidana Sukamiskin? Ia dipekerjakan di tempat percetakan. Tugas Soekarno sungguh berat. Ia menarik dan mengangkat puluhan tim kertas, kemudiaan memotong-motongnya menjadi buku catatan. Sebelum memotong kertas, ada satu pekerjaan yang paling dibenci Soekarno, yakni pekerjaan membuat garis-garis potong lembar demi lembar. Ratusan lembar ribuan lembar.
Bayangkan, pekerjaan membuat garis potong itu bisa berlangsung berhari-hari dan yang selama itu pula, setiap hari, sejak matahari terbit hingga terbenam, yang dilakukan Soekarno hanya menggaris dan membuat garis.
Pada saat jam istirahat makan siang, Soekarno sama sekali tidak diizinkan sebangku-semeja dengan para narapidana pribumi. Soekarno dicampakkan di tengah-tengah narapidana bangsa Belanda. Apa pula yang bisa diperbincangkan dengan narapidan Belanda? Tentu saja bukan soal politik. Bukan karena omongan politik dilarang, tetapi memang Soekarno tidak punya lawan bicara politik di dalam Sukamiskin. Alhasil, tidak ada topik yang dibicarakan antara narapidana Soekarno dengan narapidana-narapidana Belanda, kecuali soal makanan dan cuaca. Beosoknya lagi, soal cuaca dan makanan. Lusa, soal makanan dan makanan. Hari setelah lusa, soal cuaca dan cuaca. Tidak ada politik.

Karena itulah, Soekarno mengatur siasat komunikasi politik dengan dunia luar dengan sandi tadi. Selain lewat sebutir telur, sandi juga dikirim lewat berbagai cara. Suatu ketika, Inggit mengirimkan kitab Al-Quran. Bung Karno segera mengingat tanggal Quran itu dikirim, kemudian membuka pada surah di halaman yang sesuai tanggal dikirimnya Al-Quran tadi. Nah, tangannya akan meraba di bagian bawah halaman yang dimaksud. Maka pada abjad yang dititik menggunakan jarum jahit, akan ia rangkai menjadi kata. Kata dirangkai menjadi kalimat, sehingga tersusunlah informasi.

No comments:

Post a Comment

PEMBANTAIAN MASSAL DI PABRIK GULA REJOSARI

Pada pukul 03:00 dini hari tanggal 18 September 1948, tangsi Polisi Gorang Gareng diserang beribu-ribu laskar FDR/PKI. Mereka membawa senj...