Saturday, 14 October 2017

PENGARUH IBNU BAITAR TERHADAP KEDOKTERAN


Nama lengkap Ibnu Baitar adalah Abu Muhammad Abdallah bin Ahmad bin al-Baitar Dhiya ad-Din al-Malaqi. Namun, salah satu ilmuwan muslim terbaik yang pernah ada ini lebih dikenal sebagai Ibnu Baitar. Ia dikenal sebagai ahli botani (tanaman) dan farmasi (obat-obatan) pada Abad Pertengahan. Ibnu Baitar dilahrikan pada akhir abad ke-12 di kota Malaga (Spanyol). Ia menghabiska masa kecilnya di tanah Andalusia tersebut. Minatnya terhadap tanaman sudah muncul semenjak kecil. Setelah beranjak dewasa, ia pun belajar banyak mengenai ilmu botani kepada Abu al-Abbas an-Nabati, yang pada masa itu merupakan ahli botani terkemuka. Dari sanalah, Ibnu Baitar pun lantas banyak berkelana untuk mengumpulkan beraneka ragam jenis tanaman.
Pada tahun 1219, Ibnu Baitar meninggalkan Spanyol untuk melakukan ekspedisi mencari ragam tanaman. Bersama beberapa pembantunya, Ibnu Baitar menyusuri sepanjang pantai utara Afrika dan Asia Timur. Sebenarnya, tidak diketahui secara pasti menganai jalur darat atau laut yang ditempuh oleh Ibnu Baitar. Namun, lokasi utama yang pernah disinggahi antara lain Bugia, Qastantinia (Konstantinopel), Tunisia, Tripoli, Barqa dan Adalia.
Setelah tahun 1224, Ibnu Baitar bekerja untuk Al-Kamil, Gubernur Masir dan dipercaya menjadi Kepala Ahli Tanaman Obat. Pada tahun 1227, Al-Kamil meluaskan kekuasaannya hingga Damaskus dan Ibnu Baitar selalu menyertainya dalam setiap perjalanan. Ini sekaligus dimannfaatkan untuk banyak mengumpulkan tanaman oleh Ibnu Baitar.
Ketika tinggal beberapa tahun di Suriah, Ibnu Baitar berkesempatan untuk mengadakan penelitian tanaman area yang sangat luas, termasuk Saudi Arabia dan Palestina dan disana ia sanggup mengumpulkan tanaman dari sejumlah lokasi. Sumbangsih utama Ibnu Baitar adalah kitab Al-Jami’ fi al-Adwiya al-Mufrada. Kitab ini sangat populer dan merupakan kitab paling terkemuka mengenai tanaman dan kaitannya dengan ilmu pengabatan Arab. Kitab tersebut menjadi rujukan bagi para ahli tanaman dan obat-obatan hingga abad ke-16.
Ensiklopedia tanaman yang ada dalam kitab itu mencakup 1.400 item dan yang terbanyak adalah tanaman obat dan sayur-manyur, termasuk 200 tanaman yang sebelumnya tidak diketahui jenisnya. Kitab tersebut dirujuk oleh 150 penulis dan kebanyakan berasal dari Arab yang dikutip oleh lebih dari 20 ilmuwan Yunani sebelum diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, serta dipublikasikan pada tahun 1758.
Karya fenomenal kedua dari Ibu Baitar adalah Al-Mughni fi al-Adwiya al-Mufrada, yakni ensiklopedia obat-obatan yang meliputi obat bius yang termasuk dalam daftar obat terapetik, ditambah pula dengan 20 bab tentang beragam khasiat tanaman yang bermanfaat bagi tuuh manusia. Pembahasan dalam kitab tersebut banyak dikutip oleh ahli bedah muslim ternama, yakni Abdul Qaim az-Zahrawi. Selain bahasa Arab, Ibu Baitar pun kerap memberikan nama Latin dan Yunani kepada tanaman, serta memberikan transfer pengetahuan kepada ilmuwan lainnya mengenai tanaman.
Kontribusi Ibnu Baitar tersebut merupakan hasil observasi, penelitian serta pengklasifikasian selama bertahun-tahun dan karyanya tersebut di kemudian hari amat mempengaruhi perkembangan ilmu botani dan kedoteran, baik Eropa maupun Asia. Meskipun karyanya yang lain, yakni kitab Al-Jami baru diterjemahkan dan dipublikasikan ke dalam bahasa asing, namun banyak ilmuwan telah lama mempelajari bahasan-bahasan dalam kitab ini dan memanfaatkannya bagi kepentingan umat manusia.
Setelah tahun 1224, Ibnu Baitar bekerja untuk Al-Kamil, Gubernur Mesir dan ia berhaisl menemukan tanaman yang sangat efektif untuk memberantas kanker, yang dinamakan Hindiba. Dengan demikian, kanker bukanlah penyakit baru. Pada era kejayaan peradaban Islam, para dokter muslim, seperti Ibnu Baitar telah mampu mendiagnosis dan mengobati penyakit kanker. Tak hanya itu, dokter muslim lainnya, seperti Ibnu Sina pun sudah menemukan obat untuk menyembuhkan penyakit yang mematikan tersebut.
Ibnu Baitar adalah seorang ilmuwan muslim abad ke-12 M yang berhasil menemukan ramuan herbal untuk mengobati kanker bernama Hindiba. Ramuan hindiba yang ditemukan oleh Ibnu Baitar itu mengandung zat antikanker yang juga bisa menyembuhkan tumor dan gangguan-gangguan neoplastic.
Kepala Departemen Sejarah dan Etika, Univesitas Istanbul, Turki, Prof. Nil Sari dalam karyanya Hindiba; A Drug for Cancer Treatment in Muslim Heritage telah membuktikan khasiat dan kebenaran ramuan herbal hindiba yang ditemukan oleh Ibnu Baitar. Ia dan sejumlah dokter lainnya sudah melakukan pengujian secara ilmiah, bahkan telah mempatenkan hindiba yang ditemukan oleh Ibnu Baitar.
Menurut Ibnu Baitar, tumor digolongkan menjadi dua, yakni tumor panas dan dingin. Tumor yang berwarna dan terasa hangat saat disentuh biasanya disebut tumor panas, sedangkan tumor yang tidak berwarna dan tidak terasa hangat disebut tumor dingin. Ibnu Sina menyebut kanker sebagai bentuk tumor yang berada di antara tumor dingin dan panas. Khasiat hindiba diteliti oleh Prof. Nil Sari dengan menyajikan data yang mendalam mengenai latar belakang teori percobaan invivo dan invitro dengan sari herbal dari Turki. Ia memulai dari filsafat Turki Usmani, yang berakar dari pengobatan Islam.
Dalam karyanya itu, disebutkan bahwa obat Cichorium intybus L dan Crocus sativus L diidentifikasi sebagai alternatif tanaman yang identik satu sama lain, yang merupakan komponen aktif untuk pengobatan kanker. Prof Nil Sari dan rekannya, Dr. Hanzade Dogan, mencanpurkan C. Intybus L dan kunyit (saffron) dari safranbolu, sebagaimana yang dijelaskan dalam teks pengobatan lama. Adapun yang lebih menarik adalah hasil penelitian laboratorium yang menunjukkan bahwa dari ekstrak C. Intybus L yang ditemukan menjadi paling aktif pada kanker usus besar.
Munurt Prof. Nil Sari, hindiba terbukti sangat efektif mengobati kanker. Sayangnya, pada zaman dahulu, hindiba lebih banyak disarankan sebagai obat untuk perawatan tumor. Hal itu terungkap dalam kitab Ibnu Baitar. Menurut Ibnu Baitar, jika ramuan hindiba dipanaskan, lalu busanya diamil dan disaring, kemudian diminum, maka akan bermanfaat untuk menyembuhkan tumor.
Kanker merupakan penyakit mematikan yang ditakuti oleh umat manusia. Badan Kesehatan Dunia, WHO, memperkirakan bahwa pada tahun 2010, kanker akan menjadi penyakit kematian nomor wahid di dunia, yang mengalahkan serangan jantung. Menurut prediksi WHO, pada tahun 2030, akan ada 75 juta orang terkena kanker di seluruh dunia.
Prof. Nil Sari beranggapan bahwa Hindiba telah dikenal oleh para ahli pengobatan (Pharmacologist) muslim, serta herbalis di dunia Islam. Umat muslim telah menggunakan ramuan untuk menyembuhkan kanker, jauh sebelum dokter di dunia Barat menemukannya. Setelah melakukan pengujian secara ilmiah, Porf. Nil Sari menyimpulkan bahwa Hindiba memiliki kekuatan untuk mengobati berbagai penyakit. Hindiba dapat membersihkan hambatan yang terdapat pada saluran-saluran kecil di dalam tubuh, khususnya dalam sistem pencernaan.
Namun, domain yang paling spektakuler adalah kekuatan hindiba yang dapat menyembuhkan tumor. Pada tahun 1227, Al-Kamil meluaskan kekuasaannya hingga Damaskus dan Ibnu Baitar selalu menyertainya dalam setiap perjalanan. Saat itu, Ibnu Baitar seklaigus mencari beragam tanaman.

Ketika tinggal beebrapa tahun di Suriah, Ibnu Baitar berkesempatan mengadakan penelitian tanaman di area yang sangat luas, termasuk Saudi Arabia dan Palestina. Di ssana, ia sanggup mengumpulkan tanaman dari sejumlah lokasi. Terkait itu, sumbangsih utama Ibnu Baitar adalah kitab AL-Jami’ fi al-Adwiyat al-Mufradat.

No comments:

Post a Comment

Kontroversi Seputar Kepemimpinan Soeharto

Soeharto memang penuh kontroversi. Dari mulai penyerahan Supersemar atau Surat Perintah 11 Maret di tahun 1966 sampai kemudian memang...