Friday, 29 September 2017

LAHIRNYA NEGARA-NEGARA FASIS

Negara fasis adalah negara yang menjalankan kekuasaan pemerintah dengan cara diktator. Rakyat tidak bebas mengeluarkan pendapat. Negara-negara itu mengembangkan perasaan nasionalisme yang berlebih-lebihan. Paham fasis lahir dan berkembang di Italia dan Jerman. Di Jepang berkembang paham yang mirip dengan fasisme, yakni militerisme.
A.   Fasisme Italia
Dalam Perang Dunia I, Italia memihak Blok Sekutu. Negara ini banyak mengalami kerusakan akibat perang. Akan tetapi, pampasan perang yang diterimanya sangat sedikit dan tidak cukup untuk memperbaiki kerusakan-kerusakan itu. Ekonomi hancur sehingga kemiskinan dan pengangguran merajalela. Akibatnya, kerusuhan terjadi di berbagai tempat. Pemerintah tidak sanggup mengatasinya.
Dalam keadaan kacau itu, muncul Partai Fasis di bawah pimpinan Benito Mussolini. Anggotanya sebagian besar  adalah para veteran Perang Dunia I. Pada tahun 1922, partai ini berhasil menguasai pemerintahan. Musollini diangkat menjadi perdana menteri dan diberi gelar II Duce (Sang Pemimpin). Mussolini membangkitkan patriotisme dan kebanggan rakyat Italia terhadap negaranya. Kebesaran dan kejayaan Italia pada masa lalu diagung-agungkan.
                                                         Benito Mussolini

Partai Fasis menjalankan kekuasaan dengan tangan besi. Golongan penentang ditindas. Semua kegiatan masyarakat harus ditujukan untuk kepentingan partai. Rakyat harus rela mengorbankan segala-galanya untuk kepentingan bangsa dan tanah air. Dibawah pimpinan Mussolini, Italia berkembang pesat. Angkatan perang diperbesar dan diperkuat. Italia menjalin kerja sama dengan Jerman yang juga berpaham Fasis.
Italia berambisi menguasai Laut Tengah, seperti yang dilakukan Imperium Romawi pada masa lalu. Dalam rangka itulah, pada tahun 1935 pasukan Itali menduduki Ethiopia. Empat tahun kemudian, Albania pun diduduki. Bersama dengan Jerman, Italia juga membantu Jenderal Franco merebut kekuasaan di Spanyol

Sebelum Perang Dunia I, Italia bersekutu dengan Jerman. Pada waktu terjadi Perang Dunia I, Italia bermusuhan dengan Jerman. Setelah Perang Dunia I berakhir, kedua negara ini bersekutu lagi.
B.    Fasisme Jerman
Akibat Perang Dunia I, Jerman sangat menderita. Negara ini harus membayar pampasan perang dalam jumlah yang sangat besar, sedangkan sumbersumber ekonominya hancur. Perekonomian morat-morit dan inflasi mengganas. Rakyat Jerman menuduh pemerintahnya terlalu lemah menghadapi Serikat. Oleh karena itu, di beberapa tempat timbul gerakan menentang pemerintah. Di Munchen meletus pemberontakan di bawah pimpinan Adolf Hitler, tetapi gagal. Hitler ditangkap dan dipenjarakan. Dalam penjara, ia menulis buku Mein Kampf (Perjuanganku).
                                                             Adolf Hitler

Setelah keluar dari penjara, Hitler mendirikan partai, yaitu Partei National Sozialistische, disingkat NAZI. Pada tahun 1933, NAZI memperoleh kemenangan dalam pemilihan umum. Hitler diangkat menjadi perdana menteri. Setelah Presiden Jerman meninggal dunia, kekuasaan Hitler bertambah besar sehingga seluruh kekuasaan terpusat di tangannya. Ia disebut Fuhrer (Pemimpin).
Hitler membangkitkan rasa bangga rakyat Jerman sebagai ras Aria yang disebutnya bangsa berdarah murni, bangsa yang dipertuan. Ras Aria harus menguasai bangsa-bangsa lain. Ia mengobarkan pula perasaan anti-Yahudi sehingga orang Yahudi banyak yang dibunuh dan diusir dari Jerman.
                     Hitler mampu membangkitkan semangat militerisme di Jerman

Semangat militerisme Jerman pun dikobarkannya. Para pemuda dan pelajar dipersatukan dalam organisasi Hitler Jugend (Pemuda Hitler). Mereka diberi pelatihan kemiliteran. Untuk menindas lawan-lawannya, NAZI mempunyai polisi rahasia yang disebut Gestapo. Mereka menangkapi orang-orang yang dicurigai menentang partai, walaupun orang tersebut adalah keluarga sendiri.
Sesudah merasa kuat, Hitler pun membatalkan Perjanjian Versailles secara sepihak. Jerman tidak mau lagi membayar pampasan perang. Uang yang seharusnya dibayarkan untuk pampasan perang, digunakan untuk membangun angkatan perang. Tindakan tersebut dikecam oleh LBB sehingga Jerman keluar dari LBB.
Hitler menghasut orang-orang yang tersebar di berbagai negara supaya memberontak terhadap pemerintah yang menguasai mereka. Orang-orang Jerman di Danzig dihasut agar memberontak terhadap pemerintah Polandia dan penduduk Sudeten terhadap pemerintah Cekoslowakia. Pada tahun 1934 daerah Saar digabungkan dengan Jerman dan empat tahun kemudian Austria dijadikan salah satu Provinsi Jerman.
C.    Militerisme Jepang
Sesudah Perag Dunia I, industri Jepang semakin berkembang. Industri memerlukan bahan baku seperti minyak, karet, besi dan timah. Jepang harus mendatangkan bahan-bahan itu dari negara lain. Hasil industri dipasarkan di luar negeri. Kebutuhan akan bahan baku dan pasar untuk menjual hasil industri mendorong Jepang untuk menguasai negara-negara lain. Untuk itu, kekuatan militer diperbesar.
Sejalan dengan semakin besarnya kekuatan militer, pengaruh kalangan militer pun semakin besar, lebih-lebih setelah Kaisar Hirohito naik Takhta pada tahun 1926. Ia tidak menyenangi golongan politik yang dianggapnya sering menggangu jalan pemerintahan. Tokoh-tokoh politik disingkirkan dari pemerintahan dan diganti dengan tokoh-tokoh militer. Sejak itu, Jepang menjadi negara militer dan bersifat imperialis.
                                                          Kaisar Hirohito

Jepang membanggakan dirinya sebagai bangsa yang harus memimpin bangsa-bangsa Asia. Bangsa-bangsa Asia akan dibebaskan dari penjajahan bangsa Barat dan dipersatukan dalam Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya. Untuk mencapai tujuannya, Jepang berusaha menduduki negara-negara itu melalui perang. Pada tahun 1933, Jepang menduduki Manchuria dan 6 tahun kemudian menyerang Cina.


No comments:

Post a Comment

Kontroversi Seputar Kepemimpinan Soeharto

Soeharto memang penuh kontroversi. Dari mulai penyerahan Supersemar atau Surat Perintah 11 Maret di tahun 1966 sampai kemudian memang...