Tuesday, 24 October 2017

CURI MOBIL UNTUK BUNG KARNO


Kisah menarik yang tercecer pasca Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada hari Jumat Legi, 17 Agustus 1945 adalah ihwal mobil kepresidenan yang pertama. Jadi bukan main-main, ini adalah tentang sejarah mobil pertama yang dipakai Soekarno, Sang Presiden, Pemimpin Besar Revolusi dan Panglima Tertinggi Angkatan Perang Republik Indonesia.
Pasca proklamasi dikumandangkan, problem muncul manakala Soekarno yang sudah menyandang predikat “PRESIDEN” itu ternyata tidak punya mobil. Nagabonar tentu akan memekik, “Apa kata dunia!”
Para pengikutnya lantas beranggapan dan ini wajar saja bahwa seorang presiden harus mempunyai mobil dinas. Seorang presiden, harus naik mobil ke mana pun beranjangsana dan mobil presiden, harus bagus.
Syahdan, sekretaris pribadi Bung karno yang bernama Sudiro, sontak teringat kepada sebuah moil Limousine merek Buick besar yang begitu cantik, bahkan menurut dia, itulah mobil tercantik di Jakarta, sepanjang yang pernah ia lihat. Pengllihatannya diyakini tidak keliru. Maklumlah, jumlah mobil bagus di Jakarta tahun 1945, tidak banyak dan mobil Buick yang diincar itu, muat tujuh orang. Bahkan mobil itu sudah dilengkapi aksesori berupa kain jendela di bagian kaca belakang.
Namun apa daya, mobil itu kepunyaan seorang Jepang yang menjabat Kepala Jawatan Kereta Api pada Departemen Perhubungan Darat. Memang, sejak Jepang mendepak Belanda dari Indonesia tahun 1943, mereka langsung menguasai semua lini, baik di birokrasi maupun di badan usaha negara. Para pejabat maupun pimpinan badan usaha negara disebut “pembesar” dan seorang “pembesar” senantiasa dilengkapi rumah dinas yang besar dan bagus, berlokasi di pusat kota, serta mobil bagus terparkir di garasi.
Ah... peduli amat, ini kan suasana revolusi, begitu pikir Sudiro ketika membayangkan “pembesar” Jepang pemilik mobil yang diincarnya. Seketika, ia diiringi sejumlah pengikut setia Bung Karno lainnya, bergerak mendatangi rumah pemilik mobil Buick warna hitam yang cantik itu. Sampai di depan rumah yang dituju, didapatinya sang moobil idaman terparkir anggun di garasi, dengan sopir pribadi tengah berleha-leha tak jauh dari mobil yang dikemudikannya.
Kebetulan, sudiro yang juga kenal sebagai pengikut setia Bung Karno itu, mengenal baik sopir mobil Buick milik pembesar Jepang itu. Maka setelah memekik salam, “Merdeka!”, Sudiro melontarkan maksudnya, “Heh...saya minta unci mobilmu.”
Tentu saja sang pengemudi gelagapan kebingungan. Ia benar-benar belum segera paham tentang apa yang terjadi. Dibilang perampokan, tetapi ia mengenal orang yang meminta kunci, dibilang pencurian, tetapi kuncinya diminta aik-baik, dibilang penodongan, tetapi tak ada bedil dan pisau yang terhunus ke tubuhnya.
Kepalanya penuh tanda tanya, “Kenapa? Kenapa kawanan pejuang ini minta kunci mobil?” Demi melihat raut wajah kebingungan dan penuh tanya si sopir, Sudiro segera menimpali, “Karena saya bermaksud hendak mencuri mobil juraganmu, buat PRESIDEN mu!”
Si sopir yang patriotis itu meringis. pikirannya mulai terbuka. Termasuk, paham pula tentang maksud temannya meminta mobil itu, untuk dijadikan mobil pribadi presiden Indonesia yang baru tadi pagi merdeka. Mobil buat presiden? Ia pun segera tanggap, bahwa yang dimaksud tentu mobil itu dibutuhkan sebagai mobil presiden Soekano.
                                                      Mobil pertama kepresidenan
                   kini disimpan di Museum Gedoeng Joeng 45. Menteng, Jakarta Pusat

Setelah lengkap nalar di otak, si sopir segera bergegas menyerahkan kunci itu denga sukacita. Sudiro lantas menerima kunci mobil dan langsung meyuruh si sopir pulang ke kampung halamannya di Kebumen, Jawa Tengah sana. Sopir itu menurut. Tanpa pamit majikan, ia segera ngeloyor pergi. Selain demi keamanan dirinya, paling tidak ia sudah membawa pulang cerita ihwal andilnya membantu “pencurian” mobil pertama untuk Presiden Soekarno
Kisah tidak berakhir di situ, karena ternyata Sudiro tidak bisa mengemudikan mobil, Alhasil “pencurian” mobil ditunda sejenak untuk alasan mencari pejuang lain yang bisa membawa mobil. Setelah berhasil mengeluarkan mobil dari garasi pejabat Jepang, Sudiro menyimpannya di rumah. Sejauh itu, masih belom terkonfirmasi, dimana pembesar Jepang berada. Apakah sedang istirahat atau sebenarnya mengetahui peristiwa itu, tetapi memilih diam dan menjauhi beperkara dengan para laskar pejuang yang tak kenal takut itu.
Setelah situasi aman, barulah Sudiro menyerahkan mobil itu kepada Bung Karno dan segera setelah penyerahan, mobil itu pun ditasbihkan menjadi mobil presiden yang pertama. Dalam kisah selanjutnya, mobil kepresidenan itu bahkan ikut diboyong hijrah ke Yogyakarta, ketika Bung Karno mengungsi ke sana, menyusul mendaratnya Sekutu yang ingin merampas kemerdekaan kita dan hendak memulihkan kekuasaan Hindia Belanda.
Begitulah sekelumit kisah unik mobil kepresidenan Bung Karno tahun 1945. Mobil itu memiliki nilai historis. Dalam beberapa kesempatan, hingga tahun 2000-an, Buick Eight “Rep-1” itu masih acap digunakan dalam berbagai peristiwa memperingati hari-hari bersejarah republik ini.
Kemudia, sebuah situs otomotif, diketahui pernah pula memuat spesifikasi mobil Limousine Buick yang bersejarah itu. Mobil itu disebut sebagai Buick Eight, buatan General Motors, Amerika Serikat. Mobil ini hanya diproduksi sebanyak 1.451 unit pada tahun 1939 dan memiliki kapasitas sebesar 5248cc dengan mesin empat langkah yang memiliki 8 siliinder dan 2 katup di setiap selindernya. Pada zamannya, spesifikasi tersebut jelas bukan spesifikasi sederhana, melainkan sebuah spesifikasi mobil mewah.
Mobil yang kemudian menyandang nomor polisi Rep-1` ini juga memiliki perbandingan kompresi yang cukup prima, yaitu 6.35:1. Selain itu, mobil ini pun dapat mengeluarkan tenaga yang cukup mumpuni pada zamannya, yakni, dapat mencapai 141 hp pada 3600 rpm, serta memiliki perbandingan Bore X Stroke, 87.3X109.5. singkat ucap, Buick Eight ini cukup andal untuk tarikan dan mampu melaju kencang dengan tetap nyaman.

Mobil Buick Limited-8 ini secara visual memang terlihat sangat berwibawa. Apalagi untuk menunjang kemewahan serta guna menjaga ‘rahasia negara’ yang mungkin terucap di dalam kabin mobil tersebut, mobil inni dilengkapi selembar kaca yang memisahkan penumpangnya dengan pengemudi. Kaca pemisah ini dapat dibuka dengan sebuah tuas yang diputar. Hingga kini, kendaraan kepresidenan pertama itu tersimpan rapi di Gedoeng Joeang 45, Menteng, Jakarta Pusat, bersama mobil Rep-2 yang dipakai Bung Hatta dan sejumlah mobil bersejarah lain.

No comments:

Post a Comment

Kontroversi Seputar Kepemimpinan Soeharto

Soeharto memang penuh kontroversi. Dari mulai penyerahan Supersemar atau Surat Perintah 11 Maret di tahun 1966 sampai kemudian memang...