Tuesday, 17 October 2017

IMAM MUSLIM (Imam Muhadits dari Naisabur)


Imam Muslim bernama lengkap Imam Abdul Husain Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim bin Kausyaz al-Qusyairi an_nisaburi. Imam Muslim dilahirkan di Naisabur pada tahun 202 H atau 817 M. Saat ini, Naisabur termasuk wilayah Rusia. Dalam sejarah Islam, Naisabur dikenal dengan sebutan Ma Wara’an Nahr, daerah-daerah yang terletak di belakang Sungai Jihun di Uzbekistan, Asia Tengah.
Naisabur pernah menjadi pusat pemerintahan dan perdagangan selama 150 tahun pada masa Dinasti Samanid. Tidak hanya sebagai pusat pemerintahan dan perdagangan, kota Naisabur juga dikenal saat itu sebagai salah satu kota ilmu, bermukimnya ulama besar dan pusat peradaban di kawasan Asia Tengah.
Kecenderungan Imam Muslim terhadap ilmu hadits tergolong luar biasa. Keunggulannya dari sisi kecerdasan dan ketajaman hafalan dimanfaatkan olehnya dengan sebaik mungkin. Pada usia 10 tahun, Imam Muslim sering kali berguru kepada Imam Ad-Dakhili, seorang ahli hadits di kotanya. Setahun kemudian, Imam Muslim mulai menghafal hadits dan berani mengoreksi kekeliruan gurunya ketika salah dalam periwrayatan hadits.
Kecintaan terhadap hadits menuntun Imam Muslim bertualang ke berbagai tempat dan negara. Safar ke negeri lainnya menjadi kegiatan rutin bagi Imam Muslim untuk mendapatkan silsilah yang benar mengenai sebuah hadits. Dalam berbagai sumber, Imam Muslim tercatat pernah ke Khurasan. Di kota ini, ia bertemu dan berguru kepada Yahya bin yahya dan Ishak bin Rahawaih. Di Ray, ia berguru kepada Muhammad bin Mahran dan Abu ‘Ansan. Pada rihlahnya ke Mekah untuk menunaikan haji pada tahun 220 H, ia bertemu dengan Qa’nabi, seorang muhadits kota ini, untuk belajar hadits kepadanya.
Selain itu, Imam Muslim juga menyempatkan diri ke Hijaz untuk belajar kepada Sa’id bin Mansur. Di Irak, ia belajar hadits kepada Ahmad bin Hanbal dan Abdullah bin Maslamah. Kemudian, di Mesir ia berguru kepada ‘Amr bin Sawad dan Harmalah bin Yahya. Sedangkan di Syam, ia banyak belajar kepada ulama hadits kota itu.
Tidak seperti kota-kota lainnya, bagi Imam Muslim, Baghdad memiliki arti tersendiri. Di kota inilah, ia berkali-kali berkunjung untuk belajar kepada ulama ahli hadits. Untuk terakhir kalinya, ia berkunjung pada tahun 259 H. Saat itu, ia berkunjung ke Naisabur. Kesempatan ini digunakannya untuk berdiskusi sekaligus berguru kepada Imam Bukhari.
Ketika terjadi ketegangan antara Imam Bukhari dengan Az-Zuhali, Imam Muslim memihak Imam Bukhari. Sehingga, hubungannya dengan Az-Zuhali menjadi putus. Dalam kitabnya, ia tidak memasukkan hadits yang diterima dari Az-Zuhali, meskipun Az-Zuhali adalah gurunya dan ia pun tidak memasukkan hadits yang diterima dari Imam Bukhari, padahal Imam Bukhari juga sebagai gurunya. Bagi Imam Muslim, lebih baik tidak memasukkan hadits yang diterimanya dari kedua gurunya itu. Tetapi, ia tetap mengakui mereka sebagai gurunya.
Di antara para guru Imam Muslim yang lain adalah Utsman bin Abi Syaibah, Abu Bakar bin Syaibah, Syaiban bin Farukh, Abu Kamil al-Juri, Zuhair bin Harab, ‘Amar an-Naqid, Muhammad bin Musanna, Muhammad bin Yasar, Harun bin Sa’id al-Aili, Qutaibah bin Sa’id dan lain sebagainya.
Diantara para ulama yang menjadi murid dan meriwayatkan hadits dari Imam Muslim ada ulama besar yang sebaya dengannya. Misalnya, Abu Hatim ar-Razi, Musa bin Harun, Ahmad bin Salamah, Abu Bakar bin Khuzaimah, Yahya bin Said, Abu Awanah al-Isfarayini, Abi Isa at-Tirmidzi, Abu Amar Ahmad bin al-Mubarak al-Mustamli, Abdul Abbas Muhammad bin Ishaq bin as-Sarraj, dan Ibrahim bin Muhammad bin Sufyan al-Faqih az-Zahid. Nama terakhir ini adalah perawi utama bagi Shahih Muslim.
Berkat kegigihan dan kecintaanya terhadap hadits, Imam Muslim tercatat sebagai orang yang dikenal telah meriwayatkan puluhan ribu hadits. Muhammad Ajaj al-Khatib, guru besar hadits di Universitas Damaskus, Syiria, menyebutkan bahwa hadits yang tercantum dalam karya besar Imam Muslim, Shahih Muslim, berjumlah 3.030 hadits tanpa pengulangan. Bila dihitung dengan pengulangan, semuanya berjumlah sekitar 10.000 hadits.
Sementara itu, menurut Imam Al-Khuli, ulama besar asal Mesir, hadits yang terdapat dalam karya Imam Muslim berjumlah 4.000 hadits tanpa pengulangan dan 7.275 dengan pengulangan. Jumlah hadits yang ditulis dalam Shahih Muslim merupakan hasil saringan sekitar 300.000 hadits. Untuk menyelesaikan kitabnya, Imam Muslim membutuhkan waktu 15 tahun.
A.   Syarat Keshahihan Hadits Imam Muslim
Imam Muslim memiliki metode tersendiri dalam menentukan keshahihan hadits. Metode ini berbeda dengan yang digunakan oleh Imam Bukhari. Hadits yang hendak dimuat di dalam kitabnya harus memenuhi standar tertentu, yang biasanya disebut syarat keshahihan Imam Muslim. Syarat keshahihan versi Imam Muslim adalah bersambung sanad di kalangan rawi yang tsiqah dari awal hingga akhir. Berpijak dari syarat ini, boleh dikatakan bahwa semua hadits yang terdapat di dalam kitabnya adalah shahih. Walaupun demikian, dalam menentukan tingkat raawi hadits, ia agak berbeda dengan gurunya, Imam Bukhari.
Ada beberapa orang rawi yang dianggap tsiqah oleh Imam Muslim, tetapi tidak diterima oleh Imam Bukhari berdasarkan sebab-sebab tertentu. Jika terjadi hal ini maka hadits itu disebut shahih menurut syarat Imam Muslim. Di antara rawi tersebut adalah Abu Zubair al Makki, Suhail bin Abi Saleh, Al-‘Ala’ bin Abdul Rahman, dan Hammad bin Salamah.
Demikian juga sebaliknya, Imam Bukhari meriwayatkan dari beberapa orang rawi yang tidak diterima oleh Imam Muslim. Mereka itu antara lain Ikrimah Maula Ibnu Abad, Ishak bin Muhammad al-Fauri, Amru bin Marzuk dan lain-lain.
Selain itu, Imam Muslim dalam menetapkan keshahihan hadits yang diriwayatkannya selalu mengedepankan ilmu jarh dan ta’dil. Metode ini digunakan untuk menilai cacat atau tidaknya suatu hadits. Imam Muslim juga menggunakan metode sighat at-tahammul (metode-metode penerimaan riwayat)
Dalam kitab Imam Muslim, dijumpai istilah haddasani (menyampaikan kepada saya), haddasana (menyampaikan kepada kami), akhbarani (mengabarkan kepada saya), akhabarama( mengabarkan kepada kami), maupun qala (ia berkata), dengan metode ini, Imam Muslim dijadikan sebagai orang kedua terbaik dalam masalah hadits dan seluk-beluknya setelah Imam Bukhari.
Imam Muslim pun dikenal sebagai tokoh yang sangat ramah. Keramahan yang dimilikinya tidak jauh beda dengan gurunya, Imam Bukhari. Dengan reputasi ini, Imam Muslim oleh Adz-Dzahabi disebut sebagai Muhsin min Naisabur (orang baik dari Naisabur).
Maslamah bin Qasim menegaskan, “Imam Muslim adalah tsiqat, agung derajatnya dan merupakan salah seorang pemuka (imam).”
Senada dengan Maslamah bin Qasim, ImamAn-Nawani juga memberik sanjungan, “Para ulama sepakat atas kebesaran Imam Muslim, keimanan, ketinggian martabat, kecerdasan dan kepeloporannya dalam dunia hadits.”
Sebagaimana Imam Bukhari dengan Al-Jami’ ash-Shahih yang dikenal sebagai Shahih Bukhari,  Imam Muslim juga memiliki kitab monumental, yakni kitab Shahih Muslim. Dibandingkan dengan kitab-kitab hadits shahih karya Imam Muslim lainnya, Shahih Muslim memuat 3.033 hadits yang memiliki karakteristik tersendiri. Imam Muslim banyak memberikan perhatian terhadap penjabaran hadits secara resmi. Bahkan, ia tidak mencantumkan judul-judl di setiap akhir pokok pembahasan.
Sebenarnya, kitab Shahih Muslim dipublikasikan untuk Abu Zur’ah, salah seorang kritikus hadits terbesar yang biasanya memberikan sejumlah catatan mengenai cacatnya hadits. Lantas, Imam Muslim mengoreksi cacat tersebut dengan membuangnya tanpa argumentasi.
Karena Imam Muslim tidak pernah mau membukukan hadits-hadits yang hanya berdasarkan kriteria pribadi semata dan hanya meriwayatkan hadits yang diterima oleh kalangan ulama, maka hadits-hadits Imam Muslim terasa sangat Populis.
Para ulama berbeda pendapat mengenai yang lebih unggul antara Shahih Muslim dengan Shahih Bukhari. Jumhur Muhadditsun berpendapat, “Shahih Bukhari” lebih unggul, sedangkan sejumlah ulama Maroko dan yang lainnya lebih mengunggulkan Shahih Muslim. Perbedaan ini terjadi bila dilihat dari sisi sitematika penulisannya, serta perbandingan antara tema dan isinya.”
Al-Hafizh Ibnu hajar mengulas kelebihan Shahih Bukhari atas Shahih Muslim karena Imam Bukhari mensyaratkan kepastian bertemunya dua perawi yang secara struktural sebagai guru dan murid dalam hadits mu’an’an agar dapat dipastikan sanadnya bersambung. Sementara itu, Imam Muslim menganggap cukup dengan “kemungkinan” bertemunya rawi dengan tidak adanya tadlis.
Imam Bukhari men-takhrij hadits yang diterima oleh para perawi tsiqat derajat utama dari segi hafalan dan keteguhannya, walaupun ia juga mengeluarkan hadits dari rawi derajat berikutnya dengan sangat selektif. Sedangkan Imam Muslim lebih banyak pada rawi derajat kedua dibandingkan Imam Bukhari. Selain itu, kritik yang ditujukan kepada perawi jalur Imam Muslim lebih banyak dibandingkan Imam Bukhari.
Adapun pendapat yang berpihak pada keunggulan Shahih Muslim beralasan, sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu hajar, Imam Muslim lebih berhati-hati dalam menyusun kata-kata dan redaksinya. Imam Muslim juga tidak membuat kesimpulan dengan memberi judul bab seperti yagn dilakukan oleh Imam Bukhari.
B.    Pujian Para Ulama
Apabila Imam Bukhari sebagai ahli hadits nomor satu, ahli tentang ilat-ilat (cacat) hadits dan seluk-beluk hadits, serta daya kritikya yang sangat tajam, maka Imam Muslim adalah orang kedua setelah Imam Bukhari, baik dalam hal ilmu, keistimewaan dan kedudukannya. Hal ini tidaklah mengherankan. Sebab, Imam Muslim adalah salah satu dari murid Imam Bukhari.
Al-Khatib al-Bagdadi berkata, “Imam Muslim telah mengikuti jejak Imam Bukhari. Imam Muslim mengembangkan ilmunya dan mengikuti jalannya.”
Pernyataan tersebut bukanlah menunjukkan bahwa Imam Muslim hanya seorang pengikut. Sebab, ia mempunyai ciri khas tersendiri dalam menyusun kitab, serta memperkenalkan metode baru yang belum ada sebelumnya.
Imam muslim mendapat pujian dari ulama hadits dan ulama lainnya. Al-Khatib al-Bagdadi meriwayatkan dari Ahmad bin Salamah, ia berkata, “Saya melihat Abu Zur’ah dan Abu Hatim selalu mengutamakan Imam Muslim bin Al-Hajjaj dari pada guru-guru hadits lainnya.”
Ishak bin Mansur al-Kausaj berkata kepada Imam Muslim, “Kami tidak akan kehilangan kebaikan selama Allah Swt menetapkanmu bagi kaum muslimin.”
Ishak bin Rahawaih pernah mengatakan, “Adakah orang lain seperti Imam Muslim?” Ibnu Abi Hatim berucap, “Imam Muslim adalah penghafal hadits. Saya menulis hadits darinya di Ray.” Abu Quraisy berkata, “ Di Dunia ini, orang yang benar-benar ahli hadits hanya 4 orang. Diantaranya adalah Imam Muslim.”
Maksud perkataan Abu Quraisy tersebut adalah Imam Muslim sebagai Ahli hadits terkemuka pada masa Abu Quraisy. Sebab, ahli hadits sewaktu itu cukup banyak jumlahnya.
C.    Karya-Karya Imam Muslim
Sepanjang hidup Imam Muslim, karya-karya yang berhasil ia tulis antara lain Al-Asma’ wal Kuna, Irfadus Syamiyyin, Al-Arqam, Al-Intifa bi Juludis Siba’, Auhamul Muhadditsin, At-Tarikh, At-Tamyiz, Al-Jami’, Hadits Amr bin Syu’aib, Rijalul ‘Urwah, Sawalatuh Ahmad bin Hambal, Thahaqat, Al- I’lal, Al-Mukhadhramin, Al-Musnad al-Kabir, Masyayikh ats-Tsawri, Masyayikh Syu’bah, Masyayikh Malik, Al-Wuhdan dan Ash-Shahih al-Masnad.
Di antara kitab-kitab tersebut yang paling agung dan sangat bermanfaat luas, serta masih tetap beredar hingga kini ialah Al-Jami’ ash-Shahih, yang terkenal pula dengan sebutan Shahih Muslim. Kitab ini merupakan salah satu dari dua kitab yang palng shahih dan murni sesudah kitabullah. Kitab shahih itu diterima baik oleh segenap umat Islam.
Imam Muslim telah mengerahkan seluruh kemampuannya untuk meneliti dan mempelajari keadaan para perawi, menyaring hadits-hadits yang diriwayatkan dan membandingkan riwayat-riwayat itu satu sama lain. Imam Muslim sangat teliti dan hati-hati dalam menggunakan lafazh-lafazh dan selalu memberikan isyarat adanya perbedaan antara lafazh-lafahz itu. Dengan usaha yang sedemikian rupa, lahirlah kitab shahihnya.
Bukti konkret mengenai keagungan kitab itu ialah suatu kenyataan bahwa Imam Muslim menyaring isi kitabnya dari ribuan riwayat yang pernah didengarkannya. Diceritakan bahwa ia pernah berkata, “Saya susun kitab Shahih ini yang disaring dari 300.000 hadits.”
Diriwayatkan dari Ahmad bin Salamah, ia berkata,  “Saya menulis bersama Imam Muslim untuk menyusun kitab shahihnya itu selama 15 tahun. Kitab tersebut berisi 12.000 buah hadits.”
Ibnu salah menyebutkan dari Abi Quraisy al_Hafiz bahwa jumlah hadits Shahih Muslim itu sebanyak 4.000 buah hadits. Sebenarnya, pendapat Ibnu Salah dan Ahmad bin Salamah dapat dikompromikan, yaitu perhitungan pertama memasukkan hadits-hadits yang berulang-ulang penyebutannya, sedangkan perhitungan kedua hanya menghitung hadits-hadits yang tidak disebutkan secara berulang.
Imam Muslim menjelaskan di dalam kitabnya, “Tidak setiap hadits yang menurut saya shahih akan saya cantumkan di dalam kitab saya. Saya hanya mencantumkan hadits-hadits yang telah disepakati oleh para ulama hadits.”
Imam Muslim pernah berkata seperti ini, sebagai ungkapan gembira atas karunia Tuhan yang diterimanya, “Apabila penduduk bumi menulis hadits selama 200 tahun maka usaha mereka akan berputar-putar di sekitar kitab musnad (Kitab) ini.”
Sebenarnya, yang dimaksud kitab musnad itu adalah kitab miliknya. Ketelitian dan kehati-hatian Imam Muslim terhadap hadits yang diriwayatkan dalam kitabnya dapat dilihat dari perkataannya ini, “ tidaklah saya mencantumkan suatu hadits dalam kitab ini, melainkan dengan alasan; juga tiada saya mengugurkan sutu hadits, melainkan dengan alasan pula.”
Imam Muslim dalam penulisan kitabnya tidak membuat judul setiap bab secara terperinci. Adapun judul-judul kitab dan bab yang kita dapati pada sebagin naskah Shahih Muslim yang sudah dicetak, sebenarnya dibuat oleh para pengulas yang datang di kemudian hari. Di antara pengulas yang paling baik membuatkan judul-judul bab dan sistematika babnya adalah Imam Nawawi dalam Syarahnya.
D.   Meninggalnya Imam Muslim
Setelah mengarungi kehidupan yang penuh berkah, Imam Muslim wafat pada hari Ahad sore dan ia dimakamkan di kampung Nasr Abad, daerah naisabur pada hari Senin, 25 Rajab 261 H. Ia meninggal dunia dalam usia 55 tahun, sesuai dengan informasi yang diberikan oleh Ibnu Khalqan.


No comments:

Post a Comment

PEMBANTAIAN MASSAL DI PABRIK GULA REJOSARI

Pada pukul 03:00 dini hari tanggal 18 September 1948, tangsi Polisi Gorang Gareng diserang beribu-ribu laskar FDR/PKI. Mereka membawa senj...