Sunday, 29 October 2017

KELAHIRAN BUNG KARNO, DISAMBUT LETUSAN GUNUNG KELUD



Bayi Soekarno lahir menjelang matahari merekah. Karenanya, dia disebut pula sebagai Putra Sang Fajar. Orang Jawa memiliki kepercayaan, seseorang yang dilahirkan saat matahari terbit, nasibnya telah ditakdirkan terlebih dulu. Terlebih, Bung Karno yang dilahirkan tahun 1901 (tanggal 6 Juni) terbilang putra perintis abad. Ya, abad ke-19, sebuah peradaban gelap yang masih menyelimuti bangsa kita dan sebagian besar belahan bumi lainnya oleh aksi imperialisme yang merajalela.
Kelahiran putra sang fajar, diyakini setidaknya oleh Ida Ayu Nyoman Rai, sang ibunda bakal menjadi penerang bagi bangsanya. Letusan Gununng Kelud yang terjadi kala Soekarno lahir, makin menguatkan pertanda alam menyambut kehadirannya di atas jagat raya. Benar, gunung berapi yang puncaknya di atas ketinggian 1.731 di atas permukaan air lauut, tiba-tiba saja bergolak setelah sekian lama tidak menunjukkan aktivitas vulkanik yang berarti.
Begitulah alam memberi tanda bagi lahirnya sang jabang bayi putra pasangan Raden Sukemi Sostrodihardjo dan Ida ayu ini. Siapa sangka, bayi merah yang dilahirkan bukan oleh dukun beranak, melainkan oleh seorang kakek yang masih kerabat ayahandanya itu, kelak akan berjuluk Pemimpin Besar Revolusi, Panglima tertinggi, Paduka Yang Mulia Presiden RI yang pertama.
Dialah sang proklamator, yang membawa bangsa ini memasuki pintu gerbang kemerdekaan, setelah lebih 3,5 abad dijajah Belanda dan 3,5 tahun dinista jepang dengan bengisnya. Atas takdir yang disandang, Bung Karno sendiri menyimpan sebuah “restu” Ibunda, sejak usia balita.
Ihwal itu dikisahkan, suatu shubuh menjelang matahari menyingsing, ibunda Soekarno bangun dan duduk di beranda rumahnya yang kecil, menghadap ke arah Timur. Udara pagi masih menggigit, embun pagi menyelimuti rerumputan dan dedaunan. Soekarno yang juga terbangun, kontan bisa melihat ibundanya duduk terpekur, diam tak bergerak menyongsong matahari pagi. Demi melihat ibunda di beranda seorang diri, Soekarno kecil mengayun langkah gontai menghampirinya.
Sang Idayu, demi melihat anaknya mendekat, diulurkannya kedua tangan dan direngkuhnya Soekarno kecil ke dalam pelukannya. Nah, di saat itulah ibunda Idayu melepas kata dengan nada lembut, “Engkau sedang memandang fajar, Nak. Ibu katakan kepadamu, kelak engkau akan menjadi orang yang mulia, engkau akan menjadi pemimpin dari rakyat kita, karena ibu melahirkanmu jam setengah enam pagi di saat fajar menyingsing. Orang Jawa mempunyai suatu kepercayaan bahwa orang yang dilahirkan di saat matahari terbit, nasibnya telah ditakdirkan terlebih dahulu. Jangan lupakan itu, jagan sekali-kali kau lupakan, nak bahwa engkau ini putra dari sang fajar.”
Tutur lembut sang ibu, dimaknai Bung Karno sebagai sebuah restu yang mengalir bersama darah Soekarno sepanjang hayat dikandung badan. Bagaimana dengan makna angka yang serba enam yang mengiringi kelahirannya? Ya, Soekarno lahir pada tanggal enam bulan enam. Angka enam adalah melambangkan sifat Asteroid yakni rajin, pandai dan tanggap. Dalam pengertian talenta, angka 6 termasuk dalam kelompok talenta seni, bersama angka 3 dan 9. Kita tahu, dunia tahu Soekarno adalah seorang seniman.
Secara zodiak, ia berbintang Gemini. Gemini adalah sombol kecerdasan, memiliki banyak akal. Komunikasi dan bahasa sangat penting bagi mereka. Mereka memiliki kemampuan berkembang dan belajar yang tinggi. Gemini tidak menyukai rutinitas. Pengetahuan, pikiran yang cepat dan kepandaian jelas terlihat pada zodiak ini. Sombol ini memiliki pesona alami dan energi kharisma. Gemini dikenal dengan spontanitasya da kemampuan mereka berbicara mengenai segala hal. Mereka energik dan murah hati.
Gemini akan menggunakan kemampuan berkomunikasi mereka untuk merayu orang yang mereka sukai. Gemini memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Gemini menyukai perubahan, mereka senantiasa mencari sesuatu yang lain, termasuk juga kekasih. Itu adalah sederet sifat-sifat Gemini yang lazim.
Selain itu gemini juga dilambangkan dengan “si kembar” yang mengalirkan dua watak berlainan. Demikianlah Soekarno. Ia bisa lunak dan bisa sangat cerewet. Bisa keras laksana baja, bisa lembut berirama. Ia meringkus musuh negara dan menjebloskannya ke balik jerajak besi, tetapi tak tega melihat sekor burung terkurung dalam sangkat. Ia memerintahkan prajurit membunuh musuh, tetapi tak tega menepuk nyamuk yang menggigit lengannya.
Dialah Soekarno, lahir dari seorang ibu kelahiran Bali berkasta Brahmana, Idayu, keturunan bangsawan. Raja Singaraja yang terakhir, adalah paman ibundanya. Sedangkan ayah yang mengukir jiwa raga Bung Karno, berasal dari ningrat Jawa bernama Raden Sukemi Sosrodihardjo. Dia masih keturunan Sultan Kediri.
Sekelumit kisah ini, adalah persembahan pada hari 6 Juni 2009, sebagai wujud hormat kepada Putra Sang Fajar.


No comments:

Post a Comment

Kontroversi Seputar Kepemimpinan Soeharto

Soeharto memang penuh kontroversi. Dari mulai penyerahan Supersemar atau Surat Perintah 11 Maret di tahun 1966 sampai kemudian memang...