Saturday, 7 October 2017

KIAI HASYIM ASY'ARI (Sang Penebar Dakwah)


Kiai Hasyim Asy’ari adalah pendiri Pesantrren Tebuireng dan perintis Nahdhatul Ulama (NU), salah satu organisasi kemasyarakatan terbesar di Indonesia. Ia juga dikenal sebagai tokoh pendidikan pembaharu pesantren. Selain mengajarkan agama di dalam pesantren, ia pun mengajar para santri membaca buku-buku pengetahuan umum, berorganisasi dan berpidato.
Karya dan jasa Kiai Hasyim Asy’ari yang lahir di Pondok Nggedang, Jombang, Jawa Timur pada 10 April 1875, tidak terlepas dari peran nenek moyangnya yang secara turun-temurun memimpin pesantren.
Ayahnya bernama Kiai Asy’ari pemimpin Pesantren keras yang berada di sebelah selatan Jombang. Sedangkan ibunya bernama Halimah. Dari garis ibu, Kiai Hasyim Asy’ari merupakan keturunan Raja Brawijaya VI yang juga dikenal dengan Lembu Peteng, ayah Jaka Tingkir yang menjadi Raja Pajang (keturunan kedelapan dari Jaka Tingkir).
Tak puas dengan ilmu yang diterimanya, semenjak usia 15 tahun, Kiai Hasyim Asy’ari berkelana dari satu pesantren ke pesantren lainnya. Mulai dari menjadi santri di Pesantren Wonokoyo (Probolinggo), Pesantren Langitan (Tuban), Pesantren Trenggilis (Semaranng), hingga Pesantren Siwalan (Sidoarjo). Di Pesantren Siwalan, ia belajar kepada Kiai Ya’kub yang kemudian menjadikannya sebagai menantu.
Pada tahun 1892, Kiai Hasyim Asy’ari menunaikan ibadah haji dan menimba ilmu di mekah. Di sana, ia berguru kepada Syekh Ahmad Khatib dan dan Syekh Mahfudh at-Taumusi, sang guru di bidang hadits.
Dalam perjalanan pulang ke tanah air, Kiai Hasyim Asy’ari singgah di Johor, Malaysia dan mengajar di sana. Ia pulang ke Indonesia pada tahun 1899, lalu mendirikan pesantren di Tebuireng yang kelak menjadi pesantren tebesar dan terpenting di Jawa pada abad ke-20. Sejak tahun 19000, Kiai Hasyim Asy’ari memosisikan Pesantren Tebuireng sebagai pusat pembaharuan bagi pengajaran Islam tradisional.
Dalam pesantren itu, Kiai Hasyim Asy’ari mengajarkan ilmu agama dan pengetahuan umum. Para santri belajar membaca huruf latin, menulis dan membaca buku-buku yang berisi pengetahuan umum, berorganisasi, serta berpidato. Cara yang dilakukannya ini mendapat reaksi keras dari masyarakat lantaran dianggap bid’ah. Ia dikecam, tetapi tidak mundur dari pendiriannya.
Bagi Kiai Hastim Asy’ari mengajarkan agama berarti memperbaiki manusia. Mendidik para santri dan menyiapkan mereka untuk terjun ke masyarakat termasuk salah satu tujuan utama perjuangannya. Meskipun mendapat kecaman, Pesantren Tebuireng menjadi masyhur ketika para santri angkatan pertamanya berhasil mengembangkan pesantren di berbagai daerah dan menjadi besar.
Pada 31 Januari 1926, bersama dengan tokoh-tokoh Islam tradisional,, kiai Hasyim Asy’ari mendirikan Nahdhatul Ulama, yang berarti kebangkitan ulama. Organisasi ini pun berkembang dan banyak anggotanya. Pengaruh Kiai Hasyim Asy’ari pun semakin besar dengan mendirikan Organisasi NU bersama teman-temannya. Itu dibuktikan dengan dukungan dari ulama di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Bahkan, para ulama di berbagai daerah sangat menyegani kewibawaan Kiai Hasyim Asy’ari. Kini, NU pun berkembang semakin pesat. Organisasi ini telah menjadi penyalur bagi pengembangan Islam ke desa-desa maupun perkotaan di Jawa.
Meskipun sudah menjadi tokoh penting dalam NU, Kiai Hasyim Ays’ari tetap bersikap toleran terhadap aliran lainnya dan yang paling dibencinya ialah perpecahan di kalangan umat Islam. Pemerintah Beland bersedia mengangkatnya menjadi pegawai negeri Belanda dengan gaji yang cukup besar, asalkan ia mau bekerja sama dengan Belanda, tetapi hal ini ditolaknya mentah-mentah.
Dengan alasan yang tidak diketahui pada masa awal pendudukan Jepang, Kiai Hasyim Ays’ari ditangkap. Berkat bantuan anaknya, KH. Wahid Hasyim, beberapa bulan kemudian, ia dibebaskan. Sesudah itu, ia diangkat menjadi Kepala Urusan Agama. Jabatan ini diterimanya karena terpaksa, tetapi ia tetap mengasuh pesantrennya di Tebuireng.
KH. Hasyim Asy’ari adalah pendiri Pesantren Tebuireng serta tokoh ulama dan pendiri NU, organisasi Islam terbesar di Indoensia, bahkan di Asia Tenggara. Namanya sudah tidak asing lagi di telinga orang Indonesia. Pahlawan nasional ini merupaka salah satu tokoh besar Indonesia abad ke-20.
Kiai Hasyim Asy’ari hidup menyatu bersama santri. Ia mampu menyelami kehidupan santri yang penuh kesederhanaan dan kebersamaan. Semuanya itu memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap pertumbuhan jiwa dan pembentukan wataknya di kemudian hari. Hal ini ditunjang oleh kecerdasannya yang memang brilian. Dalam usia 13 tahun, ia sudah bisa membantu ayahnya mengajar santri-santri yang lebih besar daripada dirinya.
Selain cerdas, Kiai Hasyim Asy’ari juga dikenal rajin bekerja. Watak kemandirian yang ditanamkan sang kakek mampu mendorongnya untuk berusaha memenuhi kebutuhan diri sendiri tanpa bergantung pada orang lain. Itulah yang membuat ia selalu memanfaatkan waktu luangnya untuk belajar mencari nafkah dengan bertani dan berdagang. Hasil kerjanya tersebut digunakan untuk membeli kitab dan bekal menuntut ilmu.
Pada usia 15 tahun, Kiai Hasyim meninggalkan kedua orang tuanya untuk berkelana memperdalam ilmu pengetahuan. Mula-mula, ia menjadi santri di Pesantren Wonorejo, Jombang, lalu di Pesantren Wonokoyo, Probolinggo, kemudian Pesantren Langitan, Tuban dan Pesantren Trenggilis, Surabaya.
Lantaran belum puas dengan ilmu yang diperolehnya, Kiai Hasyim Asy’ari melanjutkan rihlah ilmiyahnya ke Pesantren Kademangan, Bangkalan, Madura, di bawah asuhan Kiai Kholil bin Abdul Latif yang terkenal waliyullah tersebut.
Pada tahun 1933, di Jombang terjadi dialog yang mengesankan antara dua ulama besar, yakni Kiai Hasyim Asy’ari dan Kiai Kholil, sang guru. “Dulu, saya memang mengajar anda, tapi hari ini saya nyatakan bahwa saya adalah murid anda,” ungkap Kiai Kholil.
Kiai Hasyim Asy’ari menjawab, “sungguh, saya tidak menduga bahwa anda akan mengucapkan kata-kata yang demikian. Tidakkah anda salah jika berguru kepada saya,padahal saya adalah murid anda? Selamanya, saya akan menjadi murid anda. Tanpa merasa tersanjung, Kiai Kholil tetap bersikeras dengan niaitnya. “keputusan dan kepastian hati saya sudah bulat tidak dapat ditawar dan diubah lagi bahwa saya akan turut belajar kepada anda guna memperdalam ilmu, “ucap Kiai Kholil.
Karena sudah hafal dengan watak sang guru, Kiai Hasyim Asy’ari tidak bisa berbuat lainnya, kecuali menerima sang guru sebagai santri. Lucunya, ketika turun dari masjid usai shalat berjamaan, keduanya cepat-cepat menuju tempat sandal, bahkan kadang saling mendahului, karena hendak memasangkan ke kaki sang guru.
Pada daasarnya, Kiai Kholil adalah Kiai yang sangat termasyhur pada zamannya. Hampir semua pendiri NU dan tokoh-tokoh penting NU generasi awal pernah berguru kepada pengasuh sekaligus pemimpin. Pesantren Kademangan, Bangkalan madura tersebut.
Sementara itu, Kiai Hasyim Asy’ari tak kalah cemerlangnya. Ia bukan saja dikenal sebagai pendiri sekaligus pemimpin tertinggi NU, yang punya pengaruh sangat kuat terhadap kalangan ulama, tetapi juga dikenal lantaran ketinggian ilmunya. Apalagi, kakek Abdurrahman Wachid (Gus Dur) ini terkenal mumpuni dalam ilmu hadits. Setiap bulan Ramadhan, Kiai Hasyim Asy’ari punya “tradisi” menggelar kajian hadits Bukhari dan Muslim selama sebulan suntuk. Kajian ini mampu menyedot perhatian umat Islam.
Setelah 5 tahun menuntut ilmu di Bangkalan, pada tahun 1307 H atau 1891 M, Kiai hasyim Asy’ari kembali ke tanah Jawa, lalu belajar di Pesantren Siwalan, Panji, Sidoarjo, dibawah bimbingan Kiai Ya’qub. Lalu, pada usia 21 tahun, ia dinikahkan dengan Nafisah, salah seorang putri Kiai Ya’qub. Pernikahan itu dilangsungkan pada tahun 1892 M atau 1308 H.
Tidak lama kemudian, Kiai Hasyim Asy’ari bersama istri dan mertuanya berangkat ke Mekah guna menunaikan ibadah haji. Kesempatan di tanah suci itu juga digunakan untuk memperdalam ilmu pengetahuan hampir seluruh disiplin ilmu agama dipelajarinya, terutama ilmu hadits.
Kala itu, 7 bulan pun telah berlalu dan Nyai Nafisah pun melahirkan seorang putra yang diberi nama Abdullah. Kiai Hasyim Asy’ari bersama istri dan mertuanya sangat bahagia dengan kelahiran bayi mungil tersebut. Ditengah kegembiraan memperoleh buah hati, sang istri mengalami sakit parah, kemudian meninggal dunia di tanah Suci Mekah dan 40 hari kemudian, sag putra, Abdullah menyusul kepergian sang ibu menghadap Sang Khaliq. Kesedihan Kiai Hasyim Asy’ari pun nyaris tak tertahankan. Namun, ia selalu ingat kepada Allah Swt dengan melaksanakan thaawaf dan ibadah-ibadah lainnya. Beberapa bulan kemudian, Kiai Hasyim Asy’ari kembali ke Indonesia untuk mengantar mertuanya pulang.
Kerinduan terhadap tanah suci mengetuk hati Kiai Hasyim Asy’ari untuk kembali lagi ke kota mekah. Pada tahun 1309 H atau 1893 M, ia berangkat kembali ke mekah bersama adik kandungnya, Anis. Allah kembali menguji kesabaran Kiai Hasyim Asy’ari. Sebab tak lama setelah tiba di Mekah, Anis pun dipanggil oleh Allah Swt. Peristiwa ini tidak membuat Kiai Hasyim Asy’ari hanyut dalam kesedihan. Ia justru semakin mencurahkan seluruh waktunya untuk belajar dan mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Di tengah-tengah kesibukan menuntut ilmu, Kiai Hasyim asy’ari menyempatkan diri berziarah ke tempat-tempat mustajab, seperti Padang Arafah, Gua Hira, maqam Ibrahim dan makam RasulullahnSaw. Setiap Sabtu pagi, ia berangkat menuju Gua Hira’ di Jabal Nur, kurang lebih 10 km di luar kota Mekah untuk mempelajari dan menghafalkan hadits-haadits Rasulullah Saw.
Setiap berangkat menuju Gua hira, Kiai Hasyim Asy’ari selalu membawa al-Qur’an dan  kitab-kitab yang ingin dipelajarinya. Ia juga membawa perbekalan untuk dimakan selama 6 hari di sana. Jika hari Jum’at tiba, ia bergegas turun menuju kota Mekah guna menunaikan shalat Jum’at disana.
Kiai Hasyim Asy’ari juga rajin menemui ulama-ulama besar untuk belajar dan mengambil berkah dari mereka. Guru-gurunya selama di Mekah antara lain Syekh Syuaib ibn Abdurrahman, Syekh Bafadhal, Syekh Khatib al-Minangkabawi dan Syek Ahmad Amin al-Athar.
Pada tahun ke-7 di Mekah, tepatnya tahun 1899 (1215 H, datanglah rombongan jamaah haji dari Indonesia. Di antara rombongan haji terdapat Kiai Romli dari desa Karangkates, Kediri beserta putrinya yang bernama Khadijah. Kiai Romli yang bersimpati terhadap Kiai Hasyim Asy’ari mengambilnya sebagai menantu untuk dijodohkan dengan Khadijah.
Setelah pernikahan itu, Kiai Hasyim Asy’ari bersama istrinya kembali ke tanah air. Pada awalnya, ia tinggal di Kediri selama beberapa bulan. Menurut sumber lainnya, Kiai Hasyim Asy’ari langsung menuju Pesantren Gedang yang diasuh oleh Kiai Utsman dan tinggal di sana untuk membantu sang kakek. Setelah itu, ia membantu ayahnya, Kiai Asy’ari, untuk mengajar di Pondok Keras.
Pada tahun 1899, Kiai Hasyim Asy’ari membeli sebidang tanah dari seorang dalang di dukuh Tebuireng. Letaknya kira-kira 200 m sebelah barat Pabrik Gula Cukir, pabrik yang telah berdiri sejak tahun 1870. Dukuh Tebuireng terletak di arah timur desa Keras, kurang lebih 1 km.
Di sana, Kiai hasyim Asy’ari membangun sebuah bangunan yang terbuat dari bambu sebagai tempat tinggal. Dari bambu kecil iilah, embiro Pesantren Tebuireng dimulai. Kiai Hasyim Asy’ari mengajar dan shalat berjamaah di bambu bagian depan, sedangkan bambu bagian belakang dijadikan sebagai tempat tinggal. saat itu, santrinya berjumlah 8 orang dan 3 bulan kemudian, jumlah santrinya meningkat menjadi 28 orang.
Setelah 2 tahun membangun Tebuireng, Kiai Hasyim Asy’ari kembali harus kehilangan istri tercintanya, Nyai Khadijah. Saat itu, perjuangan mereka sudah menampakkan hasil yang menggembirakan. Selanjutnya, Kiai Hasyim Asy’ari menikah kembali dengan Nyai Nafiqoh, putri Kiai Ilyas, pengasuh Pesantren Sewulan, Madiun. Dari pernikahan ini, Kiai Hasyim Asy’ari dikaruniai 10 anak, yaitu Hannah, Khoiriyah, Aisyah, Assah, Abdul Wahid, Abdul Hakim, Abdul Karim, Ubaidillah, Mashuroh dan Muhammad Yusuf.
Pada akhir dekade 1920-an. Nyai Nafiqoh wafat sehingga Kiai Hasyim Asy’ari menikah kembali degan Nyai Masruroh, putri Kiai Hasan, pengasuh Pondok Pesantren Kapurejo, Pagu, Kediri. Dari pernikahan ini, Kiai Hasyim Asy’ari dikarunia empat orang orang putra-putri, yaitu Abdul Qodir, Fatimah, Khotijah dan Muhammad Ya’kub.

Berjuang Mengusir Penjajah

Pada pertengahan abad ke-19, Pesantren Tebuireng merupakan pesantren yang paling besar dan penting di Jawa. Karena pengaruhnya yang sedemikian kuat itu, keberadaan Kiai Hasyim Asy’ari menjadi perhatian serius bagi para penjajah, baik Belanda maupun Jepang. Mereka berusaha “merangkulnya”. Misalnya, pihak Belanda pernah memberikan anugerah bintang jasa pada tahun 1937 kepada Kiai Hasyim Asy’ari, tetapi hal ini ditolaknya. Justru, ia sempat membuat Belanda kelimpungan. Sebab, ia memfatwakan bahwa perang melawan Belanda adalah jihad (perang suci). Itulah yang membuat Belanda merasa sangat kerepotan karena perlawanan gigih melawan penjajahan muncul di mana-mana.
Pada tahun 1913 M, intel Belanda mengirim seorang pencuri untuk membuat keonari di Tebuireng. Namun, ia tertangkap dan dihajar beramai-ramai oelh para santri hingga tewas. Peristiwa ini dimanfaatkan oleh Belanda untuk menangkap Kiai Hasyim Asy’ari dengan tuduhan pembunuhan. Dalam pemeriksaan, kiai hasyim Asy’ari yang sangat piawai dengan hukum-hukum Belanda mampu menepis semua tuduhan tersebut dengan taktis. Akhirnya, ia dilepaskan dari jeratan hukum.
Pada bulan Maret 1942, Pemerintah Hindia-Belanda menyerah kepada Jepang di Kalijati, dekat Bandung, sehingga secara de facto dan de jure, kekuasaan Indonesia berpindah tangan ke tentara Jepang. Pendudukan Dai nippon menandai datangnya masa baru bagi kalangan Islam. Berbeda dengan Belanda yang represif terhadap Islam, Jepang menggabungkan antara kebijakan represif dan kooptasi sebagai upaya untuk memperoleh dukungan para pemimpin muslim.
Salah satu perlakuan represif Jepang adalah penahanan terhadap Hadratus Syekh beserta sejumlah putra dan kerabatnya. Ini dilakukan karena Kiai Hasyim Asy’ari menolak melakukan Seikerei, yaitu kewajiban berbaris dan menmbungkukkan badan ke arah Tokyo setiap pukul 07:00, sebagai simbol penghormatan kepada Kaisar Hirohito dan ketaatan kepada Dewa Matahari (Amaterasu Omikami). Aktivitas itu juga wajib dilakukan oleh seluruh warga di wilayah pendudukan Jepang, setiap kali berpapasan atau pun melintas di depan tentara Jepang.
Kiai Hasyim Asy’ari menolak aturan tersebut. Sebab, hanya Allah Swt yang wajib disembah, bukan manusia. Akibatnya, ia ditangkap dan ditahan secara secara berpindah-pindah, mulai dari penjara di Jombang, Mojokerto dan Bubutan, Surabaya.
Pada 18 Agustus 1942, setelah 4 bulan dipenjara, Kiai hasyim Asy’ari dibebaskan oleh jepang karena banyaknya protes dari para Kiai dan santri. Selain itu, pembebasan Kiai hasyim Asy’ari juga berkat usaha dari Kiai Wahid Hasyim dan Kiai Wahab Hasbullah dalam menghubungi pembesar-pembesar Jepang, terutama Saikoo Sikikan di Jakarta.
Kiai Hasyim Asy’ari bersama para ulama menyerukan revolusi jihad melawan pasukan gabungan NICA (yang dibentuk oleh pemerintahan Belanda membonceng pasukan sekutu yang dipimpin Inggris) dan  Inggris tersebut. Resolusi Jihad ditandatangani di kantor NU Bubuta, Surabaya. Akibatnya, meletuslah perang rakyat semesta dalam pertempura 10 November 1945 yang bersejarah itu.
Pada 7 November 1945, tiga hari sebelum Perang 10 November 1945 di Surabaya, umat Islam membentuk partai politik bernama Majelis Syuro Muslim Indonesia (Masyumi). Pembentukan Masyumi merupakan salah satu langkah konsolidasi umat Islam dari berbagai paham dan Kiai hasyim Asy’ari diangkat sebagai Ra’is ‘Am (Ketua umum) pertama Masyumi periode 1945-1947.
Selama masa perjuangan mengusir penjajah, Kiai Hasyim Asy’ari dikenal sebagai penganjur penasihat sekaligus Jenderal dalam gerakan laskar-laskar perjuangan, seperti GPII, hizbullah, Sabilillah dan Mujahidin. Bahkan, Jenderal Sudirman dan Bung Tomo senantiasa meminta petunjuk kepada Kiai hasyim Asy’ari

Meninggalnya Kiai Hasyim Asy’ari
Pada 3 Ramadhan 1366 H, yang bertepatan dengan 21 juli 1947 M, pukul 21:00, Kiai hasyim Asy’ari baru saja selesai mengimami shalat Tarawih. Seperti biasanya, ia duduk di kursi untuk memberikan pengajian kepada ibu-ibu muslimat. Tak lama kemudian, datanglah seorang tamu utusan Jenderal Sudirman dan Bung Tomo. Kiai Hasyim Asy’ari menemui utusan tersebut didampingi Kiai Ghufron (Pimpinan Laskar Sabilillah Surabaya). Sang tamu menyampaikan surat dari jenderal Sudirman. Kiai Hasyim Asy’ari meminta waktu satu malam untuk berpikir dan jawabannya akan diberikan keesokan harinya.
Adapun isi pesan tersebut adalah sebagai berikut :
1.       Di wilayah Jawa Timur, Belanda melakukan serangan militer besar-besaran untuk merebut kota-kota di wilayah karesidenan Malang, Surabaya, Madura, Bojonegoro, Kediri dan Madiun.
2.       Kiai Hasyim Asy’ari diminta mengungsi ke Sarangan, Magetan agar tidak tertangkap oleh Belanda. Sebab, jika tertangkap, ia akan dipaksa membuat statemen mendukung Belanda. Apabila hal itu terjadi maka moral para pejuang akan runtuh.
3.       Jajaran TNI di sekitarJombang diperintahkan membantu pengungsian Kiai Hasyim Asy’ari
Keesokan harinya, Kiai Hasyim Asy’ari memberikan jawaban bahwa ia tidak berkenan menerima tawaran tersebut. Empat hari kemudian, tepatnya pada 7 Ramadhan 1366 M, pukul 21 : 00 datang lagi utusan membawa surat untuk disampaikan kepada Kiai Hasyim Asy’ari mengeluarkan komando jihad fi sabilillah bagi umat Islam Indonesia. Sebab, saat itu, Belanda telah menguasai wilayah Karesidenan Malang dan banyak anggota laskar Hizbullah dan Sabilillah yang menjadi korban. Untuk memberikan jawaban tersebut, Kiai Hasyim Asy’ari kembali meminta waktu satu malam.
Tak lama berselang, Kiai Hasyim Asy’ari mendapatkan laporan dari Kiai Ghufron (Pemimpin Laskar Sabilillah, Surabaya) bersama dua orang utusan Bung Tomo bahwa kota Singosari, Malang (sebagai basis pertahanan Hizbullah dan Sabilillah) telah jatuh ke tangan Belanda. Kondisi para pejuang semakin tersudur dan korban rakyat sipil kian meningkat.
Mendengar laporan tersebut, Kiai Hasyim Asy’ari berujar, “Masya Allah.... Masya Allah..,” sambil memegang kepalanya. Selanjutnya, ia tidak sadarkan diri. Saat itu, putra-putri Kiai Hasyim Asy’ari tidak berada di Tebuireng. Tetapi, tak lama kemudian, mereka mulai berdatangan setelah mendengar kabar bahwa sang Ayah tidak sadarkan diri. Menurut hasil pemeriksaan dokter, Kiai Hasyim Asy’ari mengalami pendarahan otak yang sangat serius.
Pada pukul 03:00 yang bertepatan dengan 25 Juli 1947 atau 7 Ramadhan 1366 H, Kiai Hasyim Asy’ari dipanggil Tuhan Yang Maha Kuasa. Kiai Hasyim Asy’ari memiliki banyak jasa selama perang kemerdekaan melawan Belanda (pada tahun 1945-1947), terutama yang berkaitan dengan tiga fatwanya yang sangat penting.
Pertama, perang melawan Belanda merupakan jihad yang wajib dilaksanakan oleh semua umat Islam Indonesia. Kedua, kaum muslimin diharamkan melakukan perjalanan haji menggunakan kapal Belanda. Ketiga, kaum muslimin diharamkan memakai dasi dan atribut-atribut lainnya yang menjadi ciri khas penjajah.

Berkat ketiga jasa tersebut, maka Presiden Soekarno lewat Kepres No 249/1964 menetapkan Kiai Hasyim Asy’ari sebagai Pahlawan Nasional.

No comments:

Post a Comment

PEMBANTAIAN MASSAL DI PABRIK GULA REJOSARI

Pada pukul 03:00 dini hari tanggal 18 September 1948, tangsi Polisi Gorang Gareng diserang beribu-ribu laskar FDR/PKI. Mereka membawa senj...