Saturday, 7 October 2017

PANGERAN ANTASARI (Pemantik Perang Banjar)


Pangeran Antasari lahir pada tahun 1979 di Kalimantan Selatan dan ia meninggal dunia di Bayan Begak, Murung Raya, Kalimantan Tengah, pada 11 Oktober 1862. Ia adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia. I meninggalk karena penyakit cacar di pedalaman Sungai Barito, Kalimantan Tengah. Kerangkanya dipindahkan ke Banjarmasin dan ia dimakamkan kembali di Taman Makam Perang Banjar (Kompleks Makam Pangeran Antasari), Banjarmasin Utara, Banjarmasin.
Ayahnya bernama Pangeran Mas’ud, sedangkan ibunya bernama Gusti Hadijah; putri Sultan Sulaiman. Ia adalah keluarga Kesultanan Banjarmasin, tetapi hidup dan dibesarkan di luar lingkungan istana, yakni di Antasan Senor, Martapura.
Kericuhan-kericuhan yang terjadi, khususnya dalam kalangan pengusaha kesultanan, menjadikan cicit dari Sultan Aminullah ini tersisih, walaupun ia sebenarnya pewaris pula atas tahta Kesultanan Banjar. Kericuhan itu terjadi ketika Sultan Aminullah wafat pada tahun 1761. Ia meninggalkan 3 orang putra yang masih kecil. Oleh karena itu, saudara Sultan Aminullah yang bernama Pangeran Natanegara diangkat menjadi Wali. Adapun 2 orang putra Sultan Aminullah meninggal, sedangkan yang lainnya, yaitu Pangeran Amir, pergi ke Pasir. Sesudah itu, pangeran Natanegara menobatkan diri menjadi Sultan Sulaiman Saidullah.
Pada tahun 1787, Pangeran Amir melancarkan pemberontakan untuk mengambil tantanya kembali dengan kekuatan 3.000 orang bugis. Utuk mengatasinya, Sultan Sulaiman Saidullah meminta bantuan Belanda. Pasukan Belanda di bawah pimpinan kapten Hoffman berhasil mematahkan perlawanan Pangeran Amir. Dalam suatu pertempuran pada 14 Mei 1787, Pangeran Amir tertangkap dan pada bulan Juni, ia dikirim ke Batavia untuk selanjutnya di buang ke Ceylon (Srilangka). Salah satu seorang putranya bernama Pangeran Mas’ud, yaitu ayah dari Pangeran Antasari.
Belanda menarik keuntungan dari kericuha itu. Sebagai imbalan jasa memadamkan “pemberontakan” Pangeran Amir, ditandatanganilah antara pihak Belanda dan penguasa Kesultanan Banjar sebuah Traktat dan Acta van Afstand pada 13 Agustus 17887. Hal tersebut berarti Sultan Sulaiman Saidullah terpaksa mengurangi kekuasaan dan kedaulatan Kesultanan Banjar. Ia dan keturunannya masih berhak menyandang gelar-gelar sultan dan memerintah wilayah keultanan, tetapi hanya sebagai oinjaman (vazal) dari Belanda.
Kericuhan terjadi lagi pada masa pemerintahan Sultan Adam Alwatsiqubillah, putra Sultan Sulaiman. Selagi masih bertahta, ia mengangkat anaknya, Pangeran Abdurrahman, sebagai sultan muda atau putra mahkota. Pada tahun 1852, Abdurrahman meninggal dunia dan ia meninggalkan dua orang anak, yaitu Pangeran Hidayatullah (anak dari perkawinan dengan Ratu Siti) dan Paangeran Tamjidillah (anak dari perkawinan dengan Nyai Aminah). Keduanya merasa berhak atas tahta kesultanan. Selain itu, ada lagi pihak ketiga yang juga merasa berhak, yaitu Prabu Anom, putra Sultan Adam Alwatsiqubillah, adik Pangeran Abdurrahman. Sebenarnya, Pangeran Hidayatullah yang paling berhak atas tahta kesultanan.
Belanda ikut campur tangan lagi dengan alasan berinvestasi dalam pertambangan batu bara “Oranye Nassau” di Pengaron dan “Julia Hermina “ di Banyu Ireng. Kedua tambang ini mendatangkan hasil yang cukup banyak. Karena itu, Belanda memerlukan sultan yang dapat mereka kendalikan. Sultan Adam Alwatdiqubillah meninggal dunia pada tahun 1857. Lalu, Belanda mengangkat Pangeran Tamjidillah sebagai penggantinya, sedangkan Pangeran Hidayatullah diangkat sebagai mangkubumi. Para bangsawan, ulama dan rakyat tidak menyukai terhadap pengangkatan Pangeran Tamjidillah sebagai sultan.
Keresahan rakyat tampak jelas dengan timbulya perlawanan di daerah pedalaman, yaitu di Banua Lima (Negara, alabio, Sungai Banar, Amuntai dan Kalua) yang dipimpin oleh Tumenggung Jalil; serta di Muning, dibawah pimpinan Aling yang menobatkan dirinya menjadi sultan dengan nama Panembahan Muda. Anaknya yang bernama Sambang diangkat dan bergelar sultan Kuning. Anak perempuannya yang bernama Saranti diberi gelar Putri Junjung Buih. Adapun nama kampungnya diganti menjadi Tambai Makkah.
Perlawanan di daerah Batang Hamandit, Gunung Madang, dipimpin oleh Tumenggung Antaluddin. Sedangkan perlawanan di tanah laut dan hulu sungai dipimpin oleh Demang Lehman. Adapun perlawanan di Kapuas Kahayan dipimpin oleh Tumenggung Surapati.pada hakikatnya, gerakan-gerakan rakyat itu menghendaki agar yang bertahta di Kesultanan Banjar adalah Pangeran Hidayatullah. Sebab, ia lebih berhak menjadi sultan, yang sesuai dengan harapan rakyat Banjar dan yang diperkuat oleh wasiat Sultan Adam Alwatsiqubillah.
Isi surat wasiat tersebuh adalah Sultan adam memberi kepada Pangeran Hidayat gelar Sultan Hidayatullah Khalilullah, mengangkat menjadi penguasa agama, serta mewariskan semua tanah kesultanan, semua alat senjata kesultanan, alat pusaka dan padang-padang perburuan. Apabila Sultan Adam wafat maka penggantinya adalah pangeran Hidayat dan hendaknya memerintah rakyat dengan penuh keadilan, serta mengikuti perintah agama. Ia memerintahkan kepada seluruh rakyat Kesultanan Banjar supaya menaati hal ini dan jika perlu mempertahankan dengan kekerasan. Ia pun memerintahkan kepada semua  pangeran, menteri orang besar kesultanan, ulama dan tetua kampung supaya mematuhi ketentuan itu. Jika dilanggar, Sultan Adam akan menjatuhkan kutukannya.
Pada mulanya, gerakan-gerakan itu berdiri sendiri-sendiri. Di berbagai tempat, seperti di kampung-kampung. Mereka mempengaruhi rakyat dan mengganggu ketentraman. Kemudian, gerakan-gerakan ini dapat dipersatukan oleh Pangeran Antasari yang sewaktu itu berusia 50 tahun.
Hingga saat itu, nama Pangeran Antasari hampir tidak dikenal. Ia tidak memiliki kekayaan yang memungkinkan untuk hidup layak sebagai seorang pangeran. Sebaliknya, ia merasa prihatin menyaksikan Kesultanan Banjar yang penuh kericuhan, bahkan pengaruh Belanda di Benua Banjar semakin besar. Ini membuka kesempatan bagi Pangeran Antasari yang berada di pedalaman Banjar untuk menggalang gerakan-gerakan rakyat melawan Belanda.
Untuk mengawali gerakan ini, Pangeran Hidayatullah dalam kedudukannya sebagai mangkubumi mengutus 3 orang untuk menyelidiki gerakan-gerakan rakyat yang sedang bergejolak. Salah satu seorang dari utusan itu adalah pamannya sendiri, yaitu Pangeran Antasari.
Maka, terbukalah kesempatan bagi Pangeran Antasari untuk menghubungi pemimpn-pemimpin gerakan rakyat yang siap mengadakan perlawanan. Bahkan, ia berhasil memperoleh kepercayaan rakyat dan dipilih sebagai pemimpin perlawanan. Cita-cita mereka memang sesuai dengan sikap dan pendirian Pangeran Antasari.
Oleh karena itu, Pangeran Antasari dan keluarganya diam-diam meninggalkan kediamannya di Antasan Senor Martapura, lalu menyatukan diri dengan kaum perlawanan di pedalaman. Putranya yang bernama Gusti Panembahan Muhammad Said dikawinkan dengan Saranti, putri Panembahan Aling, tokoh yang berpengaruh di kalangan mereka.
Pangeran Antasari berhasil mempersatukan gerakan rakyat yang dipimpin oleh Panembahan Aling di Muning, sedangkan gerakan rakyat di Benua Lima dipimpin oleh Tumenggung Jalil. Saat itu, wilayah perlawanan bertambah luas yang meliputi Tanah Dusun Atas, Tabanio dan Kuala Kapuas, serta Tanah Bumbu. Semuanya menjadi satu front di bawah pimpinan Pangeran Antasari untuk menentang Belanda yang menggunakan Sultan Tamjidillah sebagai simbol kekuaaannya.
Pengaruh Pangeran Antasari menjadi semakin luas hingga kalangan alim ulama Banjar yang sebagian besar bersedia ikut menempuh jalan kekerasan. Pada permulaannya, ia berhasil menghimpun sebanyak 6.000 orang laskar. Setelah Sultan Hidayatullah ditipu Belanda dengan terlebih dahulu menyandera ibunya, kemudian diasingkan ke Cianjur, akhirnya perjuangan umat Islam Banjar dilanjutkan oleh Pangeran Antasari, sebagai salah satu pemimpin rakyat yang penh dedikasi maupun sebagai paman dari pewaris kesultanan Banjar.
Untuk mengokohkan kedudukannya sebagai pemimpin perjuangan umat Islam tertinnggi di Kalimantan Selatan bagian utara (Muara Teweh dan sekitarnya), maka pada 13 Ramadhan 12 78 H, dimulailah seruan, “Hidup untuk Allah dan mati untuk Allah,” oleh seluruh rakyat, pejuang-pejuang, para alim ulama dan bengsawan-bangsawan Banjar. Dengan suara bulat, mereka mengangkat Pangeran Antasari menjadi Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin.
Tidak ada alasan lagi bagi Pangeran Antasari untuk berhenti berjuang. Ia harus menerima kedudukan yang dipercayakan oleh pangeran Hidayatullah kepadanya dan ia pun mesti bertekad melaksanakan tugasnya dengan rasa tanggung jawab sepenugnya kepada Allah dan rakyat.
Serangan pertama dilakuan pada 28 April 1859. Dengan serangan itu, meletuslah Perang Banjar. Pada pagi-pagi buta, 300 orang laskar yang dipimpin secara langsung oleh Pangeran Antasari menyerang tambang batu bara dan benteng Belanda di Pengaton. Pertempuran berlangsung hingga pukul 14:00 dan banyak berjatuhan korban, baik di pihak Pangeran Antasari maupun pihak Belanda. Namun, Pengaron terus dikepung oleh rakyat laskar Pangeran Antasari.
Komandan Beeckman sangat khawatir terhadap persediaan makanan yang sudah menipis. Ia segera mengirim kurir, tetapi kurir itu dapat dibunuh oleh laskar. Keadaan di luar tambang dan benteng Belanda di Pengaron bis dikuasai oleh laskar Pangeran Antasari. 20 orang bersenjata perang menyelinap ke dalam pos dan benteng tambang batu bara Oranje Nassau Pengaron, namun diketahui oleh musuh dan semuanya gugur terbunuh. Dokter Belanda di dalam lokasi itu diamuk dan dibunuh oleh orang hukuman.
Pangeran Antasari sebagai pimpinan laskar perlawanan mengirim surat kepada Beeckman agar ia menyerah. Dalam keadaan semacam ini, pemerintah Belanda menganggap Pangeran Antasari terlalu berbahaya dan di cap sebagai pemberontak yang dikenai premie atau harga kepala 10.000 gulden untuk menangkpanya hidup atau mati. Demikian pula terhadap Pangeran Hidayatullah yang kemudian bergabung dengan Pangeran Antasari. Hal ini dilakukan oleh Belanda setelah dihapuskannya Kerajaan Banjar pada 11 Juni 1860 secara sepihak oleh Belanda.
Pada bulan Ramadhan 1278 H (Maret 1862), para alim ulama dan pemimpin rakyat di Barito, Sihong dan Teweh, serta kepala-kepala suku Dayak Kapuas Kahayan berkumpul di dusun Hulu untuk menobatkan Pangeran Antasari menjadi Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukmin, pemimpin tertinggi agama. Dengan demikian, dalam pengertian rakyat, kedaulatan daerah Banjar dipegang oleh Pangeran Antasari. Kekuasaan dan kedaulatan dilaksanakan sesuai dengan keadaan perang yang masih berkobar.
Pihak Belanda masih berusaha berdamai dengan Pangeran Antasari dan mereka bersedia memberi pengampunan. Tetapi, Pangeran Antasari sadar bahwa itu hanyalah tipu muslihat Belanda. Pangeran Antasari menolak ajakan Belanda dengan mengirim surat kepada Gezaghebbe (Kepala Daerah) di Marabahan (Bakumpai). Isinya ialah penolakan pengampunan yang diajukan oleh Belanda kepada Pangeran Antasari. Ia tidak percaya terhadap janji-janji yang diberikan oleh Belanda dan menganggapnya sebagai tipu muslihat belaka.
Pangeran Antasari sebagai Panembahan Amiiruddin Khalifatul Mukminin hanya memberi satu jaminan untuk perdamaian, yaitu diserahkannya Kesultanan Banjarmasin, sedangkan Belanda hanya diizinkan untuk menarik pajak. Kalau syarat tersebut tidak dipenuhi, kama Pangeran Antasari memilih untuk meneruskan peperangan.
Ternyata, Pangeran Antasari benar-benar menunjukkan jiwa kepahlawanannya. Ia selalu berkata, “Haram menyerah, waja sampai keputing.” Maksudnya, Haram hukumnya menyerah kepada usuh, tak tergoyahkan, ulet dan tabah sampai akhir. Perkataan tersebut diamanatkan pula kepada keturunannya.
Sewaktu itu, Pangeran Antasari berusia lebih dari lima puluh tahun. Dengan penuh kesadaran dan keyakinan, ia memimpin gerakan melawan pemerintah Belanda di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Ia mempunyai kekuatan pribadi dan keluhuran budi yang menjadi tenaga pendorong, yang membuatnya mempertahankan pendiriannya tanpa pernah mundur setapak pun untuk berkompromi dengan lawan sampai akhir hayatnya.
Pangeran Antasari telah membuktikan bahwa ia memiliki keahlian dalam siasat perang gerilya, serta mampu memimpin pasukan di daerah-daerah yang luas dan sukar didiami manusia. Ia adalah pemimpin yang ulet, tabah dan berwibawa, serta mempunyai kekuatan batin untuk mengikat para pengikutnya di dalam tujuan yang mulia.
Pangeran Antasari adalah seorang pemimpin yang tidak mementingkan diri sendiri. Saat para bangsawan yang berkuasa dalam Kesultanan Banjarmasin secara sistematik dikuasai dan dipecah belah oleh Belanda dengan memanfaatkan situasi dan kondisi Kesultanan Banjar itu sendiri, Pangeran Antasari mengangkat senjata dengan semboyannya yang pantang mundur tersebut.
Sementara itu, wabah penyakit melanda daerah pedalaman. Pangeran Antasari jatuh sakit. Dalam keadaan sakit yang parah, ia diangkut ke pegunungan dusun Hulu. Akhirnya, ia wafat di Bayan Pegog, Hulu Teweh pada 11 Oktober 1862. Kemudian, pada masa Indonesia merdeka, kerangka tulang belulangnya dipindahkan dan dimakamkan kembali di Kompleks Makam Pahlawan Perang Banjar, Jl. Masjid Jami di Banjarmasin, pada November 1958. Saat ini, makamnya diberi nama Makam Pahlawan Nasional Pangeran Antasari.

Dengan wafatnya Pangeran Antasari, rakyat kehilangan pemimpin yang berani, cerdas, tangguh, cerdik dan alim. Meskipun demikian, semangat Pangeran Antasari tetap berkobar-kobar. Rakyat Banjar tidak tenggelam kesedihannya dan kedudukan Pangeran Antasari segera digantikan oleh putra-putranya, yaitu Pangeran Muhammad Seman sebagai Sultan. Sementara itu, saudara Muhammad Seman, yaitu Pangeran Panembahan Muhammad Said dijadikan sebagai mangkubumi.
Pusat pemerintahan berpindah-pindah karena senantiasa dikejar-kejar oleh Belanda. Semula berpusat di dusun Hulu dengan kedudukan di Muara Teweh, kemudian di Kapuas Kahayan dengan pertahanannya di dekat sungai Patangan dan yag paling akhir adalah di Baras Kuning di mulut Sungai Manawing.
Tidak hanya keturunan Pangeran Antasari yang melanjutkan perlawanan, tetapi juga rakyat Banjar, seperti Tumenggung Surapati yang sampai meninggal tidak pernah menyerahkan diri kepada Belanda. Demikian halnya dengan Demang Lehman yang tertangkap melalui pengkhianatan pada tahun 1864, yang air mukanya tak berubah dan urat mukanya tak bergerak saat ia menaiki tiang gantungan, yang menunjukkan bahwa itulah ketabahan hatinya. Setelah digantung kepalanya dipotong oleh Belanda.

Ada pula orang bernama Jalil yang gugur karena luka dalam pertempuran. Kuburnya ditemukan oleh Belanda dan dibongkar, sedangkan kepalanya dipotong. Ada juga seorang penghulu bernama Rasyid da Benua Lawas yang memimpin golongan agama dan sangat terkenal dengan gerakan “Baratib Baamal”. Ia bertempur dengan gagah berani.

No comments:

Post a Comment

PEMBANTAIAN MASSAL DI PABRIK GULA REJOSARI

Pada pukul 03:00 dini hari tanggal 18 September 1948, tangsi Polisi Gorang Gareng diserang beribu-ribu laskar FDR/PKI. Mereka membawa senj...