Tuesday, 31 October 2017

PDKT BUNG KARNO KEPADA FATMA


Bung Karno bolehlah kita tasbihkan sebagai perayu ulung. Dalam tulisan terdahulu, kita ketahui bagaimana Soekarno muda “memburu” noni-noni Belanda menjadi kekasihnya. Kisah itu pun berhasil dengan gilang gemilang. Dalam sejarah hidup cintanya, gadis pertama yang ia cium adalah gadis Belanda. Tercatat pula sedikitnya empat noni Belanda pernah singgah mengisi dunia cinta Soekarno. Menilik track record itu, kita tak perlu ragu, ihwal kepiawaiannya menggaet wanita.
Yang ini tentang percintaan klasik Bung Karno dan gadis belia asal Bengkulen (Bengkulu) bernama Fatmawati. Romansa cinta Soekarno-Fatmawati sangat kesohor karena memang telah ia umbar dalam banyak buku. Anda tahu? Bung Karno naksir Fatmawati ketika Fatma masih berusia 15 tahun. Setahun lebih muda dari Ratna Djuami, anak angkat Soekarno-Inggit Garnasih sewaktu proklamator kita menjalani hidup pengasingan di Bengkulu. Fatma dan Ratna berkawan baik karena mereka memang sebaya.
Perjumpaan Bung Karno-Fatmawati lebih intens manakala Bung Karno diterima sebagai tenaga pengajar di sekolah rendah agama Muhammadiyah pimpinan hassan Din, ayahanda Fatmawati. Bung Karno menganggap permintaan Hasan Din kepada Bung Karno untuk menjadi guru adalah sebuah rahmat. “Tapi ingat, jangan sekali-kali Bung  membicarakan tentang politik,” ujar hassan Din mengingatkan.
“Ah, tidak,” Bung Karno menyeringai, “saya hanya kan menyinggung tentang Nabi Muhammad yang selalu mengajarkan tentang kecintaan pada Tanah Air.”
Nah, di kelas itulah ada Fatmawati sebagai salah satu muridnya. Fatma berarti “bunga teratai”, wati berarti “kepunyaan”. Dalam  menggambarkan sosok Fatma, Bung Karno menunjuk rambutnya bak sutra dibelah di tengah dan menjurai ke belakang terkepang dua.
Oleh orangtuanya, Fatma bahkan dititipkan tinggal bersama keluarga Bung Karno-Inggit saat ia melanjutkan pendidikan ke sekolah rumah tangga di Bengkulu, satu satunya sekolah jenjang tertinggi di Bengkulu. Bung Karno bahkan sempat mengajari Fatmawati bermain bulutangkis.
Hari bergulir, hingga tersebutlah suatu sore di tahun 1943, saat untuk pertama kalinya Bung Karno berkesempatan jalan-jalan berdua Fatma. Keduanya menyusuri pasir pantai. Sesekali alunan ombak berbuih putih memukul-mukul kaki keduanya.
Sembari menyusuri pantai di sore yang romantis, keduanya menyoal banyak hal mulai dari soal ketuhanan dan soal-soal agama Islam pada umumnya. Tiba pada langkah entah yang keberapa ratus, Fatma mengajukan tanya, “Mengapa orang Islam dibolehkan mempunyai istri lebih dari satu?”
Mengalirlah penjelasan Bung Karno yang bertolak dari kejadian tahun 650 M saat Nabi Muhammad mengembangkan Islam. Karena pertentangan kaum kafir, memunculkan semboyan pada zaman itu, “Pedang di satu tangan dan Al-Qur’an di tangan yang lain. Di antara laki-laki banyak yang menjadi korban...” lalu Fatma menukas, “Itu berarti banyak perempuan menjadi janda.”
Nabi pun kemudian menerima wahyu yang mengizinkan laki-laki mempunyai istri sampai empat orang agar tercapai suasana tenang. Tapi, kata Bung Karno, di Bali orang menjalankan poligami secara tak terbatas. Seorang pangeran yang sudah berumur 76 tahun belum lama ini mengawini istrinya yang ke-36. Umurnya 16 tahun. Lagi-lagi Fatma menukas, “Usia yang cocok untuk perkawinan.” Kala itu, usia Fatma adalah lima belas setengah tahun.
Dialog terus berlanjut, hingga bertanyalah Fatma kepada Bung Karno, “Jenis perempuan mana yang bapak sukai?” kaget sejenak, Bung Karno lantas memandang gadis desa putra tokoh Muhammadiyah yang berbaju kurung merah, berkerudung kuning itu seraya menjawab, “Saya menyukai perempuan dengan keasliannya. Bukan wanita modern pakai rok pendek, baju ketat dan gincu bibir yang menyilaukan. Saya suka wanita kolot yang setia menjaga suaminya dan senantiasa mengambilkan alas kakinya. Saya tidak menyukai wanita Amerika dari generasi baru, yang saya suka dengar menyuruh suaminya mencuci piring.”

“Saya setuju,” bisik Fatma. Mendengar percakapan mulai bersambut, Bung Karno makin semangat menimpali, “Saya menyukai perempuan yang merasa berbahagia denga anak banyak. Saya sangat mencintai anak-anak.” Lagi-lagi Fatma menyahut, “Saya Juga.”

Minggu berganti bulan dan bulan berganti tahun. Rasa cinta mulai bersemi di hati keduanya. Fatma begitu mengagumi Soekarno. Begitu pula sebaliknya. Meski begitu, Bung Karno berusaha memendam perasaan itu dalam-dalam karena pernghargaannya yang tinggi terhadap Inggit, yang sudah separuh usianya mendampingi dengan setia.

No comments:

Post a Comment

Kontroversi Seputar Kepemimpinan Soeharto

Soeharto memang penuh kontroversi. Dari mulai penyerahan Supersemar atau Surat Perintah 11 Maret di tahun 1966 sampai kemudian memang...