Tuesday, 14 November 2017

SOEHARTO DAN PEMERINTAHAN REPUBLIK INDONESIA


Soeharto, sosok Presiden kedua RI memiliki karisma tersendiri di mata rakyatnya. Pandangan terhadap Soeharto sangatlah lengkap, mantan presiden yang dicintai, dipuja, dikagumi, sekaligus dibenci, dicaci dan disumpah. Setiap kehidupan memang tak akan pernah lepas dari dua hal. Adanya siang karena ada malam, adanya kemarau karena ada hujan. Demikian seperti halnya seorang manusia, ada yang menyukai dan ada pula yang membenci.
Kepemimpinan Soeharto pun demikian, menjadi presiden selama lebih dari tiga puluh tahun membuat banyak yang menyukainya, tetapi lebih banyak pula yang membencinya. Kita tak akan meneruskan pembahasan tentang berbagai kontroversi seputar Soeharto, karena yang kita kuak adalah sisi lain secara manusiawi segala yang menyangkut hubungan dengan Soeharto selaku manusia, ayah, suami dan kepala negara.

Kiprah Soeharto sebagai Prajurit TNI AD
1 Juni 1940
Diterima menjadi prajurit militer Hindia Belanda (KNIL) dan mendapat pendidikan di Gombong, Jawa Tengah.

1942
Bergabung dengan Pembela Tanah Air (PETA) pasukan bentukan Jepang.

5 Oktober 1945
Diterima secara resmi menjadi anggota TNI

1 Maret 1949
Bergabung dan memimpin pasukan dalm serangan umum melawan Belanda yang disebut dengan Serangan Umum 1 Maret atau 6 jam di Yogya.

1 Maret 1953
Diangkat menjadi Komandan Resimen Infanteri 15 dengan pangkat Letnn Kolonel

3 Juni 1956
Kepala Staf Panglima Tentara dan Teritorium IV Diponegoro, Semarang.

1 Januari 1957
Pangkat Soeharto naik menjadi Kolonel

17 Oktober 1959
Lembaran hitam karena menyalahgunakan institusi untuk berbisnis

1 Januari 1960
Setelah selesai sekolah SESKOD di Bandung, pangkat Soeharto menjadi Brigadir Jenderal.

1 Oktober 1961
Menjadi Panglima Korps Tentara I Caduad (Cadangan Umum Angkatan Darat) merangkap dengan panglima Kohanudad )Komando Pertahanan Angkatan Darat)

1 Januari 1962
Pangkat Soeharto naik menjadi Mayor Jenderal. Menjadi Panglima Komando Mandala Pembebasan Irian Barat merangkap Deputi Wilayah Indonesia Timur di Makassar.
1 Mei 1963
Diangkat menjadi Panglima Komando Strategis AD.
3 Oktober 1965
Diangkat menjadi Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban.
14 Oktober 1965
Diangkat menjadi Menteri Panglima AD menggantikan A. Yani
11 Maret 1966
Menerima Surat Perintah 11 Maret
12 Maret 1966
Membubarkan PKI
1 Juli 1966
Diangkat menjadi Jenderal bintang empat
22 Februari 1967
Ditunjuk menjadi presiden sampai terpilihnya presiden oleh MPR hasil Pemilu
27 Maret 1968
Diangkat menjadi Presiden RI oleh MPR hasil Pemilu merangkap Menteri Pertahanan dan keamanan
10 Juni 1968
Pengangkatan dan pelantikan Menteri pada era Orde Baru dengan nama Rencana Pembangunan Lima Tahun I (Repelita I).
23 Maret 1973
Terpilih menjadi presiden untuk yang kedua kalinya dengan wakil Sri Sultan Hamengkubuwono IX
22 Maret 1978
Terpilih menjadi presiden untuk yang ketiga kalinya dengan wakil Adam Malik
1 Maret 1983
Terpilih menjadi presiden untuk yang keempat kalinya dengan wakil Umar Wirahadikusuma
10 Maret 1988
Terpilih menjadi presiden untuk yang kelima kalinya dengan wakil sudharmono
10 Maret 1993
Terpilih menjadi presiden untuk yang keenam kalinya dengan wakil Jenderal Try Sutrisno
39 September 1997
Menerima penghargaan sebagai Jenderal Besar
17 Maret 1998
Terpilih menjadi presiden untuk yang ketujuh kalinya dengan wakil BJ Habibie
21 Mei 1998
Mundur dari jabatan presiden dan diganti oleh BJ Habibie

Mengenang  Keberhasilan Kepemimpian Soeharto
Sebagai seorang presiden, Soeharto sama seperti manusia lainnya. Ada yang suka dan mendukung dan banyak pula yang tidak suka dan mengkritik. Kadangkala ada yang datang jika dijanjikan manis dan kemudian berkhianat saat telah memperoleh hasil yang diharapkan. Meskipun demikian, kita tak bisa menutup mata terhadap keberhasilan Soeharto mengawal RI dari masa terpuruk dan posisi pengimpor beras terbesar menjadi negara yang cukup disegani dan berswasembada pangan.
Semenjak awal pemerintahannya, Soeharto mencanangkan adanya rencana pembangunan yang disebut dengan Repelita, yaitu Rencana Pembangunan Lima Tahun dan Trilogi Pembangunan. Dengan adanya perencanaan yang terstuktur dalam membangun bangsa dan masyarakat Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 45, diharapkan Indonesia dapat menjadi negara yang berkembang ke arah kemajuan signifikan.
Trilogi Pembangunan yang dicanangkan oleh Soeharto, adalah sebagai berikut
1)    Stabilitas Keamanan
Dalam buku Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya disebutkan tentang penjelasan Soeharto mengenai Petrus (penembakan misterius) sebagai berikut:
“Pers ramai menulis kematian misterius sejumlah orang dengan menyebutkan penembakan misterius atau disingkat dengan sebutan petrus. Kalangan cendekiawan dan juga di forum-firum internasional ada yang menyinggungnya,  mengeksposnya. Dia tidak mengerti masalah sebenarnya. Kejadian itu misterius juga tidak. Masalah sebenarnya didahului oleh ketakutan yang dirasakan rakyat. Ancaman-ancaman yang datang dari orang-orang jahat, perampok, pembunuh dan sebagainya. Seolah-olah ketenteraman di negeri ini tidak ada. Yang ada seolah-olah rasa takut saja. orang-orang jahat itu tidak hanya melanggar hukum, akan tetapi sudah bertindak melebihi batas perikemanusiaan. Umpamanya saja orangtua sudah dirampas kemudian masih dibunuh. Perempuan yang diambil kekayaannya da si istri orang lain itu masih juga diperkosa oleh orang jahat itu di depan seaminya. Itu sudah keterlaluan. Apa hal itu mau didiamkan saja? kita harus mengadakan treatment, tindakan yang tegas. Tindakan tegas bagaimana? Ya, harus dengan kekerasan. Tetapi kekerasan itu bukan lantas dengan tembakan, dor! Dor! Begitu saja, bukan! Tetapi yang melawan, ya mau tidak mau harus ditembak. Supaya, orang banyak mengerti bahwa terhadap perbuatan kejahatan masih ada yang bisa bertindak dan mengatasinya. Maka meredalah kejahatan-kejahatan yang menjijikkan itu.”
2)    Stabilitas Politik dan Pemerintahan
Pencapaian stabilitas politik dan keamanan diraih dengan membangun konsensus berdasarkan Pancasila dan UUD 45. Dua konsesus yang dijalankan Soeharto untuk mencapai stabilitas politik dan pemerintahan adalah sebagai berikut.
· Konsensus bahwa Pancasila merupakan manajemen multikulturalisme Nusantara. Dengan berbekal pancasila, perbedaan ada istiadat dan budaya bisa terakomodasi dalam satu wadah, ranah politik juga harus dikelola dalam satu payung ideologi, yaitu Pancasila.
· Konsesnsus untuk menyederhanakan partai politik agar tidak terlampau banyak sehingga lebih hemat. Masaing-masing kelompok dan kecenderungan tertentu diwadahi dalam satu partai. Misalnya kelompok nasionalis dalam PDI, kelompok islam PPP dan kalangan nasionalis religius dalam GOLKAR
3)    Stabilitas Eonomi
Lengkaplah sudah tiga ideologi pembangunan yang dapat mengantar kesuksesan masyarakat Indonesia dalam membangun diri, keluarga, serta bangsanya. Pekerjaan rumah bagi stabilitas dan rehabilitas di masa awal pemerintahan Soeharto antara lain:
· Menyelesaikan konflik internal dan eksternal, masalah sosial dan pemberontakan
· Menyelesaikan utang luar negeri
· Mengurangi laju inflasi
· Rehabilitas infrastruktur
· Meningkatkan ekspor
· Menyediakan bahan pangan dan sandang bagi masyarakat
· Mengatasi berhentinya industri, pengangguran, krisis neraca pembayaran, menurunnya cadangan devisa dan tunggakan utang luar negeri.

Berikut beberapa keberhasilan yang dicapai selama masa kepemimpinan Soeharto sebagai Presiden RI selama jangka waktu 32 tahun.
1.    Stabilisasi nasional bisa terjaga
Terlepas dari masalah pelanggaran HAM atau tidak, terbukti selama kepemimpinan Soeharto stabilitas nasional Negara Indonesia bisa terjaga dengan baik. Dengan terjaganya stabilitas nasional, investor dengan senang hati melakukan investasi dan pembangunan perusahaan di Indonesia yang berarti lapangan kerja juga terbuka luas. Dengan stabilitas nasional yang terjaga, pembangunan lebih mudah dilakukan dan mencapai kesuksesan.
2.    Kebebasan beragama menurut sila Ketuhanan Yang Maha Esa bisa terselenggara dengan saling bertoleransi
Tak bisa menutup mata, toleransi antar-umat beragama di era kepemimpinan Soeharto sangat terpelihara. Hampir tak pernah ada pertikaian yang disebabkan perbedaan agama. Padahal, Soeharto notabene beragama Islam dan berasal dari suku Jawa. Kesemuanya tidak lantas menjadikan Soeharto luput memerhatikan pemuluk agama lainnya.
3.    Berhasil meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia
Di bawah kepemimpinan Soeharto, Indonesia mampu meningkatkan pertumbuhan ekonominya secara signifikan. Dari pertumbuhan ekonomi minus 2,25% di tahun 1963 langsung menjadi plus 12% di tahun 1969. Selanjutnya Indonesia berhasil masuk ke dalam kelompok negara ekonomi industri baru karena mengalami peningkatan pendapatan per kapita sampai 3 kali lipat dari tahun 1969 sampai 1990.
4.    Indonesia mampu berswasembada pangan di tahun 1984
Program pertanian dan perhatian yang ekstra terhadap para petani membuat Indonesia mampu menjadi sosok negara yang berswasembada pangan. Bahkan di tahun 1984, Soeharto didapuk untuk tampil di depan podium pada acara Konfrensi ke 23 Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO). Dalam acara tersebut sekitar 165 negara anggota mengirimkan wakilnya.
mereka kagum dengan Indonesia yang mampu berswasembada pangan. Kesuksesan Soeharto yang bekerja keras memajukan bidang agraris mulai awal kepemimpinannya baru bisa dirasakan lebih dari sepuluh tahun kemudian. Mereka kagum dengan Indonesia yang mampu berswasembada pangan. Kesuksesan Soeharto yang bekerja keras memajukan bidang agraris mulai awal kepemimpinannya baru bisa dirasakan lebih dari sepuluh tahun kemudian.
5.    Kesuksesan program KB
Soeharto bukan hanya mengarahkan pembangunan di bidang pertanian dalam mencapai swasembada pangan saja. pertumbuhan penduduk Indonesia juga diperhatikan. Oleh karenanya Indonesia memiliki Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional). Badan ini bergerak di bidang perencanaan peprtumbuhan penduduk dan penyuluhan KB di seluruh Indonesia. Dengan adanya penyuluhan KB dan pemberian alat kontrasepsi gratis, pertumbuhan penduduk bisa di tekan. Harapan Soeharto dan pasti harapan seluruh bangsa Indonesia adalah apabila memiliki anak sesuai rencana, bisa memenuhi kebutuhan pangan dan pendidikannya. Pengalaman masa kecil yang tak bisa meneruskan sekolah membuat Soeharto berpikir tentang KB.
Untuk keberhasilan Soeharto dalam program kependudukan ini, penghargaan secara pribadi diterimanya dari PBB, yaitu UN Population Award. Penghargaan ini merupakan penghargaan tertinggi di bidang kependudukan. Dalam pidatonya di markas besar PBB di New York tanggal 8 Juni 1989, Soeharto menandaskan bahwa perencanaan kependudukan memang sebaiknya dilakukan karena mustahil Indonesia bisa berswasembada pangan bila pertumbuhan tidak terkendali, sedangkan  produksi beras mengalami peningkatan yang tidak banyak.
6.    Kesuksesan program wajib belajar 9 tahun
Soeharto yang merasa bahwa pendidikannya tak sesuai harapan, mengusahakan terbentuknya sekolah dan lembaga pendidikan yang murah serta terjangkau oleh masyarakat luas. Dibangunnya gedung sekolah dan penyediaan tenaga guru samapi ke pelosok daerah untuk mendukung program pendidikan yang disebutnya sebagai wajib 9 tahun, yaitu semenjak SD sampai lulus SMP. Dengan kualitas pendidikan yang meningkat, Soeharto berharap kualitas manusia Indonesia meningkat pula, termasuk kesejahteraan ekonomi dan keluarga masing-masing turut terbawa.
7.    Iklim investasi di Indonesia yang cukup baik
Stabilitas nasional yang kondusif membuat iklim investasi di Indonesia sangat baik. Sehinngga bisa meningkatkan modal baik dari dalam negeri/domestik maupun dari luar negeri/asing. Penanaman modal domestik atau dalam negeri meningkat kurang lebih 50,43% per tahun dalam kisaran 1976-1997. Sementara modal asing meningkat kurang lebih 42,10% per tahun selama kurun waktu 1977-1997.
8.    Penyediaan kebutuhan papan melalui Perumnas atau Perumahan Nasional
Selama kurun waktu 1978-1983 masyarakat Indonesia diberi kemudahan untuk memiliki rumah. Perumnas membangun sekitar 441.923 unit rumah di era tersebut dengan kepemilikan rumah yang mudah melalui KPR atau Kredit Kepemilikan Rumah.
9.    Mengembangkan BUMN Strategis bagi peningkatan kesejahteraan dalam rangka pembangunan bangsa dan Negara Indonesia
Berikut BUMN Strategis yang dibangun dan dibesarkan di era pemerintahan Soeharto
· PT. IPTN
Singkatan dari Industri Pesawat Terbang Nusantara yang berdiri tahun 1976. IPTN bergerak dalam bidang kedirgantaraan.
· PT.PAL
Singkatan dari Perseroan Terbatas Penataran Angkatan Laut yang berdiri tahun 1980.
· PT. Pindad
Singkatan dari Perindustrian Angkatan Darat berdiri tahun 1950 yang beregrak dalam persenjataan. Saat ini PT. Pindad tak lagi dikelola oleh AD tetapi menjadi BUMN.
· PT. Dahana
Berdiri tahun 1975 yang bergerak dalam bidang produksi bahan peledak
· PT. INKA
Singkatan dari Industri Nasional Kereta Api yang berdiri tahun 1981 dan bergerak di bidang perkeretaapian
· PT. INTI
Singkatan dari Industri Telekomunikasi Indonesia yang berdiri tahun 1974 dan bergerak dalam bidang telekomunikasai.
· PT. Krakatau Steel
Berdiri tahun 1970 dan bergerak dalam bidang usaha produksi baja.
· PT. Boma Bisma Indra
Berdiri tahun 1971 dan bergerak dalam bidang produksi kontainer
· PT. Barata
Berdiri tahun 1971 yang bergerak dalam bidang pengecoran.
· PT.LEN
Singkatan dari Lembaga Elektronika Nasional yang berdiri tahun 1985 dan bergerak dalam bidang elektronika.
· PT.Telkom
Beregrak dalam bidang telekomunikasi
· PT.Indosat
Bergerak dalam bidang operator satelit
10. Mengembangkan organisasi regional ASEAN sehingga diperhitungkan di mata dunia Internasional
Soeharto memiliki pemikiran praktis dan suka akan persahabatan. Hal ini dibuktikannya dengan merangkul negara-negara di kawasan Asia Tenggara untuk bersama-sama mendirikan ASEAN. Adanya organisasi negara-negara Asia Tenggara ini bukan hanya bermanfaat bagi negara di kawasan ini saja yang bisa bersahabat dengan damai, bekerja sama dan saling membantu. Adanya ASEAN juga dirasakan dampak positifnya oleh Negara Australia. Perdana Menteri Australia Paul Kreating memuji usaha Soeharto menghidupkan ASEAN sehingga menyebut Presiden RI ini sebagai sosok ayah.


No comments:

Post a Comment

PEMBANTAIAN MASSAL DI PABRIK GULA REJOSARI

Pada pukul 03:00 dini hari tanggal 18 September 1948, tangsi Polisi Gorang Gareng diserang beribu-ribu laskar FDR/PKI. Mereka membawa senj...