Monday, 6 November 2017

SOEHARTO DATANG, SETELAH BUNG KARNO TERBANG


Akses informasi yang terbatas, penjagaan yang sangat ketat, mengakibatkan tidak satu pun wartawan dapat mengikuti hari-hari terakhir Bung Karno, baik ketika masih dalam perawatan di RS Pusat Angkatan Darat, maupun detik-detik menjelang kemangkatan Bung Karno. Satu-satunya informasi yang secara terbuka didapat wartawan ketika itu adalah pengumuman resmi tim dokter ihwal meninggalnya Ir. Soekarno, Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia, pagi hari 21 Juni 1970 di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta.
Sejurus kemudian, jenazah Bung Karno sudah meluncur membelah jalanan ibu kota dibawa ke Wisma Yaso, rumah Dewi Soekarno (sekarang Museum Satria Mandala) di Jl. Gatot Subroto, Wisma yang tak bepenghuni beberapa hari terakhir, sangat menyedihkan keadaannya. Kotor, berdebu, senyap dan singup.
Sementara itu, maysarakat ibu kota yang sudah mendengar berita kematian Bung Karno, tanpa adanya komando, langsung menyebarkan berita itu dari mulut ke mulut. Tidak sedikit yang secara atraktif dan atas inisiatif sendiri menyebar berita itu melalui berbagai cara. Tak heran bila dalam waktu sekejap saja masyarakat ibu kota sudah berjejal merangsek ke arah Wisma Yaso, hendak memberi penghomatan terakhir kepada tokoh yang dikagumi dan dicintai.
Berbagai unsur masyarakat berduyun-duyun ke Wisma Yaso, baik tokoh politik, tokoh militer, tokoh sipil, hingga rakyat jelata tanpa pangkat dan kedudukan. Tak terkecuali, Presiden Soeharto dan Ibu Tien juga hadir di sana, setelah sebelumnya petugas Paspampres melakukan “pembersihan” lokasi.

Diketahui pula pada pukul 07:30 atau 30 menit setelah berpulangnya Bung Karno ke Rahmatullah, Soeharto dan Ibu Tien datang ke RSPAD. Dalam otobiografinya, Soeharto mengatakan, “Waktu saya mendengar beliau meniggal pada 21 Juni 1970, cepat saya menjeguknya di rumah sakit. Setelah itu barulah aku berpikir megenai pemakamannya”. Dan hari itu menjadi pertemuan terakhir setelah Soeharto “menjatuhkan” Bung Karno dan tidak menemuinya lagi sejak 1967.
Sebelumnya Soeharto hanya menyadap berita tentang Soekarno dari para petugas yang dipasang sejak di Wisma Yaso hingga di RSPAD Gatot Subroto. Termasuk berita kematian Soekarno pun didapat dari hasil laporan cepat petugas yang dipasang di sekitar Sang Proklamator yang sedang sakaratul maut.
Dalam beberapa kesempatan sikap Soeharto terhadap Soekarno dikatakannya sebagai “mikul dhuwur, mendem jero”.  Falsafah Jawa itu sejatinya mulai karena mengandung makna menghormati setinggi-tingginya dan menyimpan atau mengubur aib sedalam-dalamnya. Falsafah itu oleh Soeharto diartikan dengan mengasingkan Soekarno dan “membunuhnya” pelan-pelan dalam kerangkengan kejam di Wisma Yaso hingga menjelang ajal.
Tanggal 22 Juni atau sehari setelah kematiannya, jenazah Soekarno dibawa ke Blitar, Jawa Timur, lewat penerbangan dari bandara Halim Perdanakusuma ke Malang. Shalat jenzah sudah dilakukan malam harinya dengan imam Menteri Agama K.H. Achmad Dahlan, sedangkan shalat jenzah yang diikuti pula oleh rakyat, diimami Buya Hamka.
Masih menurut buku TRAGEDI SUKARNO tulisan Reni Nuryanti, ada catatan menarik lain tentang makam Soekarno, yang ternyata hanya dimakamkan di bekas Taman makam Pahlawan Bahagia Sentul, Blitar. Nah, ihwal dimakamkannya jenazah Soekarno di Blitar, Soeharto berdalih adanya dua kehendak, antara permintaan almarhum Bung Karno agar dimakamkan di Bogor dan keinginan keluarga yang berbeda-beda. Karena itulah akhirnya diputuskan dimakamkan di Blitar.
Banyak pihak menduga, keputusan Soeharto itu sarat pertimbangan politik. Ia tidak menghiraukan testamen atau permintaan ahli kubur bernama Ir. Soekarno, Presiden RI pertama yang menghendaki jika meninggal agar dimakamkan di Bogor. Para pihak menduga, ada kepentingan jangka panjang dari Soeharto untuk “mengubur lebih dalam” Soekarno beserta nama besar dan kecintaan rakyat kepadanya. Inilah yang di kemudian hari disebut sebagai “desukarnoisasi”, upaya menghapus nama Soekarno dari memori rakyat Indonesia.

Sebaliknya, jika jasad Bung Karno dimakamkan di Bogor, sama saja menghambat langkah Soeharto untuk menenggelamkan nama besar Soekarno. Jarak Bogor-jakarta terlalu dekat, sehingga kenangan rakyat tetap melekat. Ini yang secara politis akan mengganggu kewibawaannya. Langkah dan kebijakan untuk melarang semua ajaran Soekarno, langkah menjebloskan orang-orang dekat Soekarno ke dalam tahanan tanpa pengadilan adalah bentuk lain dari upaya Soeharto benar-benar “menghabisi” Soekarno.
Satu hal yang Soeharto lupa, bahwa kebenaran senantiasa akan mengalir menemukan jalannya sendiri. Sekalipun kebenaran itu sudah dibelokkan. Sekalipun kebenaran itu sudah disumbat. Sekalipun kebenaran itu sudah dikubur dalam-dalam dan kebenaran niscaya akan mengalir dalam sungai sejarah.

Soekarno sudah wafat, Soeharto sudah meninggal dunia. Keduanya telah menorehkan catatan dalam lembar sejarah RI. Jika Soekarno berkuasa selama 22 tahun, maka Soeharto berkuasa lebih dari 30 tahun. Harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama. Nama Soekarno dan Soeharto sudah mengguratkan citra tersendiri di benak setiap pengucap dan pengingatnya.

No comments:

Post a Comment

Kontroversi Seputar Kepemimpinan Soeharto

Soeharto memang penuh kontroversi. Dari mulai penyerahan Supersemar atau Surat Perintah 11 Maret di tahun 1966 sampai kemudian memang...