Wednesday, 1 November 2017

TRAGEDI SOEKARNO: DARI KUDETA SAMPAI KEMATIANNYA


Soekarno yang lahir saat fajar menyingsing, diyakini ibundanya, Idayu akan menjadi orang besar, tokoh penting, pejuang bagi rakyatnya. Sejarh kemudian mencatatnya sebagai Panglima Tertinggi, Pemimpin Besar Revolusi, Paduka Yang Mulia Presiden RI, Singan Podium, Peraih Gelar 26 Doktor Honoris Causa dan serangkaian gelar lain.
Selain gelar-gelar dan julukan di atas, Bung Karno juga menerima gelar-gelar ada berbagai suku di Tanah Air. Menilik itu semua, sungguh sebuah pencapaian luar biasa yang bahkan belum pernah ada yang bisa menandingi. Tidak di Indonesia, barangkali tidak pula diatas jagat raya ini.
Perjalanan hidup seorang Soekarno begitu kontroversial. Ada kalanya ia dicerca. Ada kalanya pula ia dipuja. Bahkan dalam buku biografinya, ia mengatakan, “Aku dipuja seperti dewa dan dikutuk seperti bandit.” Begitulah tokoh proklamator kita. Muda dipuja, saat jaya diagung-agungkan, tetapi di akhir hidupnya disingkirkan dan dibunuh pelan-pelan justru oleh lawan politiknya, sesama anak bangsa.
Supersemar menjadi titik balik bagi putra sang fajar. MPRS menjatuhkan Soekarno dengan menolak Nawaksara dan Pelengkap Nawaksara. Ia pun dicekal dan disingkirkan dari memori bangsa Indonesia. Istilah yang terkenal adalah “desukarnoisasi”.
Contoh nyata, ideologi Pancasila yang dicetuskan Soekarno pada 1 Juni 1945, berusaha dilupakan. Diganti dengan proyek BP-7 melalui penataran-penataran P-4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila). Jangankan memperingati lahirnya Pancasila tiap 1 Juni, menyebut nama Soekarno saja seperti dianggap tabu.
Rezim Soeharto, rezim Orde Baru pengganti Orde Lama pun mengubur nama besar Soekarno berikut jasanya bagi bangsa dan negara Indonesia. Para pengikutnya yang setia pun dikerangkeng, dijebloskan ke penjara tanpa proses pengadilan. Ironisnya, anak bangsa yang termasuk Soekarnois diidentikan sebagai penganut paham komunis, karenanya harus distempel “manusia terlarang” dengan berbagai kategori dan tingkatan.
Jasad Bung Karno dimakamkan di Blitar oleh Soeharto dengan alasan supaya dekat dengan iunya. Padahal, Soekarno sendiri berkehendak dimakamkan di antara bukit berombak, di bawah pohon rindang, di samping sebuah sungai dengan udara segar. Impian yang bahkan dituliskannya dalam sebuah testamen
Ya, permintaan terakhir Soekarno agar dikuburkan di halaman rumahnya di Batu Tulis, Bogor, ditolak rezim Soeharto. Soeharto tentu tidak mau makam Soekarno di Bogor menjadi tempat yang popular dan banyak dikunjungi rakyat pencintanya. Terlebih letak kota Bogor yang begitu dekat dengan jakarta, pusat kekuasaan Soeharto yang didudukinya dengan bertindak keji terhadap Soekarno
Adalah buku TRAGEDI SUKARNO, dari Kudeta Sampai Kematiannya, yang mengupas secara cukup tuntas sepenggal hidup Soekarno sejak periode 1965 yang disebut sebagai “Titik Balik”, hingga “Saat Fajar Tenggelam”, sebuah episode terakhir kehidupan Soekarno. Buku yang ditulis Reni Nuryanti dan diterbitkan Penerbit Ombak, Yogyakarta 2008 itu sekali lagi menjadi salah satu buku  oelengkap di antara judul-judul lain dengan tema sejenis.
Dalam buku itu dikupas tentang masa-masa Bung Karno terusir dari Paviliun Istana Bogor. Hanya dengan berbekal barang seadanya, Bung Karno mengajak istrinya, Hartini, pindah ke Wisma Batu Tulis, yang juga masih wilayah Bogor. Ia pindah sebagai tahanan kota. Tak lama kemudian, ia pun tidak lagi diperkenankan tinggal di Wisma Batu Tulis dan harus pindah ke Wisma Yaso, dalam penjagaan dan pengawasan aparat keamanan yang lebih ketat. Inilah periode sakit sekaligus periode saat ia “dikerangkeng”.
Jangankan beraktivitas politik, menemui tamu pun dilarang. Bahkan, anggota keluarganya sendiri dibatasi untuk bertemu Soekarno. Catatan medis Soekarno, serta pendukung tulisan lain yang merujuk pada referensi yang lebih kpmplet menyebutkan bahwa penanganan terhadap kesehatan Bung Karno begitu ala kadarnya, bahkan cenderung serampungan.

Pendeknya, kini jasad Bung Karno sudah kembali ke asalnya. Dari tanah kembali ke tanah. Pelan tapi pasti, bersama guliran sang kala, manikan Soekarno kembali bersinar. Ajaran-ajarannya kembali digali dan persis seperti ucapan yang pernah meluncurkan dari mulur Soekarno, “Sejarah yang akan membersihkan namaku.”

No comments:

Post a Comment

PEMBANTAIAN MASSAL DI PABRIK GULA REJOSARI

Pada pukul 03:00 dini hari tanggal 18 September 1948, tangsi Polisi Gorang Gareng diserang beribu-ribu laskar FDR/PKI. Mereka membawa senj...