SERANGAN SHALAHUDDIN AL AYYUBI KE ACRE (1189-1191)

August 26, 2019 2 Comments



Setelah Shalahuddin al ayyubi menguasai Jerusalem secara panuh, ia harus mempersipakan langkah selanjutnya. Maka, ia pun memutuskan untuk melakukan serangan ke utara. Tujuannya adalah menangkal serangan Eropa yang diasumsikan akan datang melalui wilayah kekuasaan Byzantine. Ia juga berusaha melenyapkan titik-titik yang dapat digunakan oleh orang-orang Kristen untuk melakukan serangan balik ke Jerusalem seperti Antioch dan lain sebagainya.
Shalahuddin berpikir bahwa jika kawasan pesisir mampu dikuasainya, ia pun dapat memutuskan jalur suplai dan bantuan menuju kastil-kastil Kristen yang berada di daratan. Bahkan, ia pun sempat berpikir untuk kembali menyerang Tyre. Namun, ia pun membatalkan niat tersebut seperti yang  pernah ia lakukan saat ia melepas pertempuran Hattin beberapa waktu lalu.
                                                           Shalahiddin al ayyubi

Sementara itu, di daerah pedalaman, Shalahuddin juga menghindari kastil kukuh Krak des Chevaliers. Namun, ia berhasil menduduki bentueng lama Reginald di Kerak. Keberhasilannya ini mampu mendatangkan dorongan secara psikologis bagi pasukannya sekaligus menghilangkan ancaman terhadap rute perdagangan antara Mesir dan Arabia.
Karena merasa percaya diri bahwa nasib baik akan berpihak kepadanya, Shalahuddin terlalu bersikap murah hati kepada musuh-musuhnya. Bahkan, pada bulan Juli 1188, ia membebaskan guy of Lusignan dari penjara. Namun, ia harus berikrar bahwa ia tidak akan melawan Shalahuddin.
Namun, setelah dibebaskan, Guy kembali ke Tripoli. Suatu ketika, seorang pendeta memberitahunya bahwa janji yang dibuat dengan orang Islam tidak memiliki kekuatan sama sekali. Maka Guy bertekad melanggar sumpahnya dan mengumpulkan pasukan untuk melawan Shalahuddin.
Setelah terlebit konfrontasi kecil dengan Conrad di Tyre, Guy mempersiapkan diri guna menyerang pasukan Islam dan Acre adalah target yang dipilihnya. Maka, pada Agustus 1189, ia melancarkan serangan ke kota tersebut.
Karena aserangan ini bersifat mendadak, pasukan pertahanan Acre pun terjebak dalam kepungan musuh karena belakang mereka adalah Laut Mediterrania. Maka, Shalahuddin pun segera menjalankan misi penyelamatan dengan cara mengelilingi pasukan Kristen. Sehingga, pasukan Guy sebelumnya bertindak sebagai penyerang, kini justru menjadi korban serangan Shalahuddin.
Dalam sebuah formasi setengah lingkaran, pasukan Kristen terjepit oleh pasukan Shalahuddin yang berada di kedua sisi pasukan tersebut. Pertempuran sengit pun tidak dapat dielakkan saat orang-orang Frank berusaha memasuki kota Acre. Sementara itu, Shalahuddin berjuang keras menerobos dan memecah pasukan Guy untuk menyelamatkan teman-temannya yang terjebak di dalam benteng kota.
Dalam posisi seperti itu, tidak ada satu pihak pun yang bisa dianggap sukses, pasukan pertahanan Acre yang gigih terus bertahan, pasukan Guy tidak mau mengalah dan cengkraman Shalahuddin terhadap pasukan Frank tidak mengendor sama sekali. Sehingga, pertempuran itu seolah-olah mengalami jalan buntu.
Akhirnya, Shalahuddin pun jatuh sakit. Dalam kondisi kesehatan yang lemah dan tidak terlalu fit, Shalahuddin menerima kabar yang tidak menyenangkan mengenai kedatangan pasukan besar dari Eropa ke daerah kekuasaannya. Raja Jerman, Frederick Barbarossa, dikabarkan sedang bergerak menuju Jerusalem dengan membawa pasukan yang jumlahnya sekitar 250 ribu orang prajurit (ada pula riwayat yang menyebutkan bahwa pasukan barbarossa hanya berjumlah kurang lebih 50 ribu orang tentara).
Di pembaringannya, Shalahuddin dalam depresi yang hebat saat ia membayangkan pasukan Frederick benar-benar tiba di hadapannya. Sebab, pasukan yang berjumlah banyak itu dapat menghantam garis serang Shalahuddin dan memusnahkan Benteng Acre dengan mudah. Oleh karena itu, Shalahuddin membutuhkan sebuah keajaiban seperti yang kerap terjadi pada masa-masa sebelumnya.
Saat melintasi sebuah sungai di kawasan Cilicia (sebuah wilayah di selatan Turki modern) Frederick tetap berada di atas punggung kudanya. Namun, tunggangannya kehilangan pijakan dan menghempaskan sang raja ke dalam air, maka, ia pun mati tenggelam di sungai tersebut.
Karena kehilangan pemimpinnya, pasukan Jerman pun membubarkan diri. Hanya sekitar 5ribu tentara yang melanjutkan perjalanan ke Acre. Tentunya, jumlah pasukan yang sedikit itu tidak akan mampu mengubah jalannya pertempuran.
Karena sudah tidak ada ancaman dari pasukan jerman, Shalahuddin sembuh dari sakitnya. Maka, pada pertengahan januari 1190, ia kembali terjun ke medan pertempuran. Namun, kabar buruk lagi-lagi sampai telinganya. Pendudukan Jerusalem telah menghebohkan kalangan umat Kristiani di Prancis dan Inggris.
Kedua negara ini mendeklarasikan Perang Salib baru. Panggilan perang ini mereka tujukan kepada para prajurit. Selain itu, mereka juga menggalang dana melalui sebuah pajak khusus dengan nama Saladin Tithe (Dana untuk memerangi Shalahuddin). Bahkan, di bawah komando Raja Prancis, Philip II, para ksatria mulai menyandang pedang, mengenakan baju zirah dan siap berangkat ke Palestina.
Sementara itu, para prajurit di Inggirs pun melakukan hal yang sama. Mereka dipimpin oleh penguasa mereka, Richard I atau yang juga dikenal dengan nama Richard the Lionheart. Tokoh ini merupakan musuh yang snagat berbahaya. Sebab, ia adalah seorang pejuang yang sudah teruji dan sangat berkompeten. Hal tersebut telah ia tunjukkan dalam serangkaian perang melawan ayahnya sendiri.
Dalam strategi perang melawan Shalahuddin, status kepemimpinan Richard berada di bawah Philip. Namun, pada kenyataannya, ia bisa menunjukkan sebagai pemimpin yang sejati. Sementara itu, pasukan Eropa dipersiapkan menuju Tyre. Kemudian, pasukan tersebut menuju Acre dan akan dipersatukan dengan pasukan Guy. Tentu saja, keadaan ini akan membuat posisi Shalahuddin semakin terjepit.
Ketika pasukan Philip menginjakkan kaki di Kota Suci, Richard mulai meninggalkan Sisilia menuju Siprus. Ia pun meluangkan waktu untuk menaklukkan pulau tersebut seolah-olah ia tidak ingin mendatangi Shalahuddin dengan tergesa-gesa. Sementara itu, Shalahuddin hanya bisa menyaksikan pasukan musuh memperketat kepungan mereka terhadap kota Acre sehingga membuat pasukannya semakin menderita.
Shalahuddin menjalin komunikasi dengan pasukannya di Acre menggunakan merpati melalui laut secara diam-diam. Sementara itu, Guy telah memasang beberapa alat pelantak tembok dan menara serang yang tinggi guna memanjat tembok musuh.
Saat Guy dan pasukannya menggunakan alat-alat tersebut, Shalahuddin hanya bisa diam tidak berdaya. Pada titik krusial tersebut, inisiatif untuk mempertahankan Acre justru datang dari para prajurit Syria. Para prajurit kreatif itu membuat cairan yang mudah terbakar yang terbuat dari nafta. Cairan ini tidak hanya menghasilkan api yang panas, melainkan juga akan mengeluarkan ledakan.
Ternyata, temuan tersebut berhasil digunakan untuk menghancurkan menara serang pasukan Guy. Bahkan, senjata ampuh itu bisa menyelamatkan kota walaupun hanya untuk sementara waktu. Namun, dalam episode peperangan kali ini, Shalahuddin sekadar menjadi penonton dari jarak jauh.
Seiring dengan meningkatnya serangan orang-orang Frank, perbedaan pendapat di kalangan para komandan Shalahuddin terus berkembang. Para petinggi militer Shalahuddin mulai menggerutu dan melakukan desersi. Beberapa kelompok prajurit pun mulai meninggalkan garda depan. Hal ini mereka lakukan karena mereka terpengaruh oleh tindakan komandan mereka yang mulai kecewa terhadap Shalahuddin.
Lalu, mereka pun memilih mundur dari medan laga. Mereka tidak menghiraukan lagi kemarahan Shalahuddin terhadap keputusan yang mereka ambil. Sementara itu, para prajurit yang masih bertahan pun mulai mempertanyakan kepemimpinan Shalahuddin.
Pada akhir tahun 1190 atau pada usianya yang ke-52tahun, Shalahuddin kembali dihadapkan pada perselisihan dan konflik internal Islam. Shalahuddin pun berdiri di hadapan benteng kota Acre “diselimuti” oleh keraguan. Seolah-olah, ia menjadi tawanan dalam peritiwa yang menimpa dirinya itu.
Kemenangan dalam peperangan hanya bisa diraih dengan ketangguhan yang tak kenal kompromi. Namun, Shalahuddin justru terlalu menuruti sisi welas asih dalam dirinya. Misalnya, pada suatu pertempuran yang sengit, salah seorang prajuritnya menculik bayi yang berusia tiga bulan dari bangsa Frank.
Lalu, sang ibu mendatangi shalahuddin untuk meminta supaya bayinya dikemnalikan. Karena merasa malu terhadap sikap prajuritnya, shalahuddin mengembalikan bayi tersebut kepada ibunya secara personal. Kemudian ia memberikan jalan yang aan kepada ibu dan anak ini untuk kembali ke garis serang pasukan Frank. Pada kesempatan lain, Shalahuddin juga pernah membebaskan seorang sesepuh bangsa Frank yang tertangkap di Acre hanya karena ia tersentuh oleh keshalihan dan kesederhanaan orang tua tersebut.
Seiring dengan perjalanan usianya, Shalahuddin justru kian terjebak dalam konflik batin daripada menghadapi musuhnya. Selain itu, musuh tangguh pun bertebaran di sekelilingnya. Bahkan, ia pun tidak bisa berbuat apa-apa ketika kota Acre semakin terjepit.

JATUHNYA ACRE
Pada 20 April 1191, saat Acre masih terkepung musuh, Philip dan pasukannya datang dari Prancis. Kehadiran Philip dan pasukannya itu membawa kesegaran baru dan mampu melipatgandakan semangat pasukan Kristen untuk menaklukkan Acre. Semakin hari serangan terhadap kota tersebut semakin hebat.
Alat-alat pelontar batu mereka gunakan untuk menghempaskan batu-batu besar ke arah menara pertahanan dan tembok kota Acre. Sementara itu, alat pelantak tembok mulai mendekati dinding kota dan menghantam konstruksi bangunan tersebut. Pada saat yang bersamaan, pasukan ini mulai menggali tembok itu untuk meruntuhkannya. Sehingga, pertahanan Shalahuddin al ayyubi di Acre kian melemah.
Pada 7 juni 1191, Richard the Lionheart menenggelamkan sebuah kapal yang membawa bahan makanan dan sekitar 700 orang prajurit yang akan diperbantukan untuk Shalahuddin al ayyubi. Kehadiran Richard di atas kapal perangnya, Trenchemere, mengubah rangkaian serangan terhadap kota Acre. Richard sama tidak mau membiarkan Philip mendapatkan pernghargaan karena berhasil menjatuhkan Acre.
Maka, ia pun segera mengambil alih komando operasi militer tersebut. Ia meningkatkan tempo pertempuran dan memborbardir pasukan musuh. Namun, pada saat bersamaan, ia juga mencoba membuka pembicaraan damai dengan Shalahuddin. Selanjutnya, Shalahuddin al ayyubi merespons langkah Richard dengan mengirimkan hadiah berupa buah-buahan dan salju untuk Raja Inggris tersebut. Richard pun tak mau kalah, maka ia memberikan seorang budak kepada Shalahuddin.
Namun, Shalahuddin al ayyubi menolak tawaran untuk bertemu secara empat mata dengan Richard dengan berkata, “bukanlah sebuah adat bagi para raja yang sedang berperang untuk saling bertatap muka. Sebab, setelah mereka saling berbincang-bincang dan memberikan kepercayaan, maka tidak boleh ada lagi peperangan di antara mereka.”
Penolakan ini memaksa Richard untuk melanjutkan serangannya sehingga gencatan senjata pun tertunda. Kemudian, ia memperketat kepungannya di Acre. Pasukannya pun terus menghantam tembok kota dan terus menggali terowongan menuju pertahanan musuh. Sementara itu, pasukan Shalahuddin menggali terowongan tandingan keluar benteng.
Maka, setiap kali, kedua pasukan penggali tersebut bertemu, mereka saling menyerang sehingga terjadilah peperangan yang mengerikan di bawah tanah yang gelap. Richard pun menjadi frustasi karena Acre terus mempertahankan diri. Maka, kedua belah pihak pun merasakan klimaks yang kian dekat.
Sehingga, Shalahuddin al ayyubi  mencoba mencairkan keadaan dengan berusaha untuk menemui Richard. Namun, Raja Inggris tersebut menolak tawarannya. Akhirnya, pada 12 Juli 1191, Acre pun jatuh ke tangan pasukan Kristen.
Menurut riwayat, Shalahuddin al ayyubi menitikkan air mata saat menyaksikan bendera Kristen berkibar di atas kota. Jatuhnya kota tersebut ke tangan Richard berawal dari langkah pasukan pertahanan Acre yang mengabaikan aturan ketat Shalahuddin al ayyubi. Mereka membuka negosiasi dengan Richard dan mengatasnamakan Sultan Syria dan Mesir tersebut.
Berdasarkan hasil kesepakatan damai tersebut, pasukan Shlahuddin al ayyubi harus membebaskan 500 orang tawanan Kristen yang mereka tahan, membayar upeti sebesar 200 ribu keping emas dan mengembalikan potongan “Kayu Salib Suci” yang diambil oleh pasukan Islam dalam Pertempuran Hattin.
Maka, Shalahuddin al ayyubi tidak punya pilihan lain kecuali memenuhi tuntutan Richard itu. Namun, Shalahuddin memulai proses tersebut secara perlahan-lahan. Hal ini membuat Richard curiga. Ia berpikir bahwa Shalahuddin al ayyubi mengulur-ulur waktu untuk menunggu datangnya bala bantuan dari Mesir.
Di sisi lain, Richard sendiri mengalami masalah intern yang sangat serius. Sebab, saudara laki-lakinya, John sedang berusaha merebut tahta Inggris dari tangannya. Maka, ia pun tidak mau melewatkan terlalu banyak waktunya di Palestina dengan menunggu ketegasan Shalahuddin al ayyubi.
Oleh karena itu, Richard menjadi kehabisan kesabaran. Lalu, ia menyeret 3 ribu orang muslim yang menjadi tahanannya keluar dari gerbang kota Acre. Selanjutnya, di hadapan pasukan Shalahuddin al ayyubi yang ketakutan, ia memerintahkan agar para tahanan tersebut dipancung.

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard.

2 comments: