KONVOI PASUKAN RICHARD DI PESISIR PALESTINA



Bencana di Acre itu membuat kekuasaan Shalahuddin al ayyubi melemah dan kepercayaan dunia Islam kepada dirinya pun kian memudar. Orang-orang mulai meragukan kemampuannya. Bahkan, ia pun mulai meragukan diri sendiri sehingga ia terombang ambing di antara rasa optimis dan pesimis. Maka, Shalahuddin al ayyubi pun tidak punya pilihan lain, kecuali bertempur mati-matian melawan Richard.
Maka, Richard pun memberi peluang kepada Shalahuddin al ayyubi untuk mewujudkan pilihan tersebut. Pada akhir Agustus 1191, pasukan Eropa mulai bergerak dengan melakukan konvoi menyusuri Pesisir Palestina. Pasukan yang bersenjata lengkap dan kereta mereka yang penuh dengan muatan menapaki jalur pantai yang memisahkan antara laut dan rawa.
Richard memilih rute ini supaya ia tetap dapat menjalin komunikasi dengan kapal-kapal perang yang menyuplai semua kebutuhan dan menjaga pasukannya dari sisi sebelah kanan. Meskipun pasir dan rumput rawa mempersulit perjalanan mereka, pasukan Richard tetap mengadopsi formasi konvoi standar.
Seperti konvoi pasukan Guy di hattin, konvoi pasukan Richard juga dilengkapi dengan pasukan kavaleri yang berbaris dalam penjagaan “ tembok hidup” pasukan infanteri. Pasukan ini menyusuri pesisir palestina dengan perlahan-lahan menuju Ascalon atau Jerusalem. Sehingga, Shalahuddin al ayyubi tidak dapat menentukan tujuan serangan pasukn Richard.

Maka, Shalahuddin al ayyubi pun memosisikan pasukannya berada di sebelah sisi kiri musuh. Tujuannya adalah untuk mengganggu dan mengalihkan perhatian pasukan Richard. Lalu, ia akan menggiring mereka ke sebuah tempat tertentu dan pasukannya pun akan menyerang mereka secara mendadak. Namun, Richard tidak menanggapi umpan yang diberikan oleh Shalahuddin al ayyubi. Ia tetap memerintahkan pasukannya untuk bergerak maju walaupun pasukan pemanah berkuda Shalahuddin al ayyubi menyerang mereka dari arah kiri.
Selain gangguan pasukan pemanah Shalahuddin al ayyubi, pasukan Richard pun harus berhadapan dengan ular dan kalajengking penghuni pesisir pantai. Maka, untuk mempermudah langkah mereka, beberapa prajurit berusaha menyibak rumput-rumput rawa yang tinggi. Namun, mereka justru menemukan tarantula dan buaya.
Richard memang tidak mampu melindungi pasukannya dari gangguan alam liar di Palestian. Namun, taktiknya tersebut berhasil mengurangi dampak cuaca yang panas sehingga pasukannya tetap merasa segar. Di sela-sela gangguan pasukan Shalahuddin al ayyubi, ia mengistirahatkan pasukannya dan mempertahankan kecepatan koncoi pasukannya.
Sehingga, beberapa orang prajuritnya mulai tergoda untuk menghentikan langkah mereka untuk menghadapi serangan musuh. Namun, Richard memerintahkan pasukannya untuk terus bergerak maju dan mengabaikan pancingan dari pihak Shalahuddin al ayyubi. Hal ini membuat Sultan Syria dan Mesir itu semakin frustasi dan marah.
Sejak peristiwa Acre, emosi Shalahuddin cenderung memburuk dan sulit ditebak. Selain itu, ia menjadi ringan tangan pada para tawanan. Sehingga, prajurit musuh yang tertangkap tak bisa lagi berharap belas kasihan kepadanya.

ARSUF, SEPTEMBER 1191
Target pasukan Richard mulai terbaca oleh Shalahuddin al ayyubi. Mereka berkonvoi menuju Ascalon. Pasukan Inggris itu terus berjalan menembus pasir pantai, rawa dan hutan pohon . bahkan mereka berhasil menahan serangan pasukan Shalahuddin al ayyubi yang datang dari arah kiri dan belakang. Namun, para ksatria Richard mulai bosan dengan formasi bertahan. Serangan hit dan run yang dilancarkan oleh pasukan pemanah berkuda Shalahuddin al ayyubi telah memancing kemarahan mereka.
Para ksatria Inggris ini adalah orang-orang pemberani. Selain itu, mereka juga terkenal sangat kejam. Sehingga, mereka menganggap tindakan Richard yang tidak membalas serangan dari pasukan Shalahuddin al ayyubi merupakan sikap seorang pengecut. Akhirnya, mereka mulai kehabisan kesabaran dan ingin segera bertempur.
Sehingga, pada bulan September 1191, saat mereka tiba di dekat Arsuf, sekelompok kecil ksatria tersebut berniat melakukan serangan balik terhadap pasukan Shalahuddin. Maka, ketika pasukan Shalahuddin al ayyubi menghujani mereka dengan anak panah dari arah belakang, pasukan berkuda Richard berbalik arah dan melakukan serangan secara tiba-tiba.
Kemudian, mereka pun mengejar pasukan Shalahuddin yang tidak menduga langkah balasan mereka. Sehingga, pasukan pemanah berkuda Shalahuddin al ayyubi pun lari kocar-kacir. Saat kekacauan mulai mereda, Shalahuddin menyaksikan sekitar 7ribu prajuritnya tewas. Sehingga,  ia melakukan mogok makan dan menolak berbicara dengan siapa saja selama beberapa hari.
Akhirnya, Shalahuddin al ayyubi berhasil mengesampingkan sisi melankolisnya dan mulai mengumpulkan kembali sisa-sisa pasukannya. Selanjutnya, ia merancang strategi baru untuk menghentikan Richard. Namun, musuh lama kembali muncul dalam dirinya, yaitu tidak mampu untuk menjatuhkan keputusan dengan cepat dan tepat.
Ia tidak bisa memfokuskan perhatiannya karena pikirannya hanya tertuju pada Ascalon dan Jerusalem yang ia perkirakan sebagai target serangan Richard. Sehingga, ia luput memperhatikan kondisi di hadapannya dengan menindaklanjuti kekalahannya di Arsuf. Sebenarnya, ia memiliki peluang untuk melakukan serangan frontal kepada pasukan Kristen sebelum mereka kembali konsolidasi ulang.
Selain itu, Shalahuddin juga mempunyai peluang untuk menggoyahkan pasukan Richard dengan cara memutus jalur suplai logistik pasukan Kristen tersebut atau melakukan serangan mendadak ke Acre. Akan tetapi, Shalahuddin al ayyubi tidak bisa mengambil keputusan secara cepat sehingga ia tersudut dalam sebuah posisi yang defensif. Akhirnya, ia justru memilih untuk menghapuskan peluang Richard dalam menaklukkan Ascalon dan Jerusalem.
Maka, Shalahuddin dan pasukannya mulai menarik diri mampu Jerusalem sekaligus memerintahkan pasukannya untuk membumihanguskan Ascalon. Sebab, ia sadar bahwa pasukannya tidak akan mampu mempertahankan kedua tempat itu pada waktu yang bersamaan. Selain itu, ia juga beranggapan bahwa Jerusalem jauh lebih penting bagi kelangsungan proses jihad daripada Ascalon.
Oleh karena itu, ia memilih untuk mengorbankan gerbang Mesir tersebut. Hal ini dilakukannya untuk mencegah Richard menggunakan kota itu sebagai markas operasi militernya. Dengan demikian, ia akan memaksa Raja Inggirs tersebut untuk melakukan pertempuran di Jerusalem.
Selanjutnya, pasukan Shalahuddin al ayyubi pun segera mengevakuasi warga dan meruntuhkan tembok Ascalon. Namun, hal ini bukanlah pekerjaan yang mudah. Terlebih dahulu, mereka harus membakar tembok dan menara batu harus dibakar dengan api unggun yang besar supaya rapuh. Selanjutnya, mereka harus meruntuhkan tembok dan menara itu dengan palu dan gada.
Kemudian, mereka meruntuhkan tembok Ascalon batu demi batu dan menumbangkan menara-menara pengintai sehingga menimbulkan suara gemuruh dan menggelegar. Berbagai fasilitas publik dan rumah-rumah warga kota pun diratakan dengan tanah. Sementara itu, warga kota yang diungsikan hanya bisa menyaksikan rumah mereka ambruk di tengah-tengah kepulauan debu di udara.
Setelah berhasil meluluhlantakkan Ascalon, pasukan Shalahuddin segera mengumpulkan peralatan mereka dan bergerak untuk kembali bergabung dengan pemimpin mereka di Jerusalem. Ascalon benar-benar menjadi kota mati yang tak bisa dihuni. Sembari melakukan perjalanan ke Jerusalem, pasukan ini juga menyempatkan diri untuk menghancurkan semua fasilitas sekitar kota tersebut, termasuk desa-desa satelit, ladang dan hasil panen. Bahkan, mereka juga meracuni sumur-sumur yang berada di sekitar tempat itu.
Pasukan Shalahuddin al ayyubi juga melakukan serangan dadakan terhadap pasukan Richard yang sedang berpatroli. Tentu saja, perlawanan yang dilakukan oleh pasukan Shalahuddin al ayyubi ini sangat mengganggu dan mengejutkan Richard. Sehingga, ia pun berpikir bahwa misi untuk merebut kembali Jerusalem tidaklah semudah yang ia bayangkan sebelumnya.
Kini, kedua tokoh penting yang terlibat perang itu mulai berpikir untuk melakukan sebuah pembicaraan. Maka, Richard pun mengambil langkah inisiatif, untuk membuka negosiasi dengan Shalahuddin al ayyubi secara hati-hati. Ia mulai memberi hadiah kepada duta dari pihak Shalahuddin al ayyubi. Bahkan, Richard menganugerahkan gelar kebangsawasan kepada cucu Shalahuddin al Ayyubi.
Shalahuddin al ayyubi merespos langkah Richard dengan baik. Ia memperlakukan utusan Richard dengan jamuan makan yang meriah dan memberikan hadiah kepada duta tersebut. Akan tetapi, terlepas dari basa-basi tersebut, mereka gagal melakukan negosiasi karena keduanya belum bersedia untuk berkompromi.
Setelah melihat reruntuhan di Ascalon, Richard dan pasukannya pun mulai bergerak ke arah Jerusalem. Namun, pasukan ini berada jauh sekali dari kapal suplai dan posisi mereka pun terlalu terbuka. Mereka tidak ingin mundur, namun mereka sdar bahwa setiap langkah maju yang ayunkan bisa jadi justru akan membawa mereka pada sebuah kekalahan yang mengerikan.
Sebab, pasukan Shalahuddin pasti akan mempertahankan Jerusalem mati-matian. Kenyataan ini membuat Richard berpikir keras. Ia berlogika bahwa menyerang Jerusalem secara langsung sama halnya dengan bunuh diri. Namun, kondisi logistik dan psikis pasukannya tidak cocok untuk melakukan serangan yang berlarut-larut.
Sementara itu, Shalahuddin al ayyubi pun tak kalah risaunya dengan Richard. Ia mulai meratapi hilangnya Ascalon. Bahkan, ia mulai pesimis dan kehilangan semangat. Sehingga, berbagai pertanyaan pun muncul di dalam benaknya.
Siapa yang akan mengikutinya setelah berbagai kekalahan ia alami? Apa yang bisa ia perbuat guna memperbaiki reputasinya? Dan mungkinkah ia bisa memenangkan pertempuran melawan Richard yang akan mencapluk Jerusalem?
Keadaan Shalahuddin al ayyubi semakin buruk karena para petinggi militernya mengkritisi setiap keputusan yang ia ambil, terutama keputusan untuk mempertahankan Jerusalem. Kekalahan menyakitkan di Acre membuat komandan-komandan Shalahuddin al ayyubi tidak ingin berlama-lama di Benteng Jerusalem.
Sementara itu, Shalahuddin al ayyubi telah meneguhkan hati untuk mempertahankan Jerusalem. Dalam pasukan Perang Salib Eropa kecuali, orang-orang Kristen telah mendapatkan semua yang mereka inginkan, kecuali Kota Suci. Oleh karena itu, Shalahuddin al ayyubi sadar bahwa ia harus memperkuat posisinya di ibu kota Palestina.
Lalu, Sultan Syria dan Mesir ini pun memerintahkan pasukannya untuk memperkukuh tembok kota. Selain itu, ia juga memerintahkan pasukannya untuk meracuni semua mata air yang berada di luar radius dua mil dari tembok kota tersebut. Sebab, apabila desa-desa satelit Jerusalem ditinggalkan dan hasil panen dihancurkan, serta jika sumber mata air tak bisa diminum, pasukan Richard yang menuju ke arahnya tidak akan mampu bertahan lama.
Untuk menghambat langkah pasukan Perang Salib Eropa, Shalahuddin al ayyubi tidak hanya mengandalkan usaha secara manusiawi. Sebab, ia juga melakukan refleksi terhadap berbagai kesalahan dan kegagalannya. Shalahuddin al ayyubi menyadari bahwa ia telah kehilangan pengendalian diri dan tidak bisa menentukan nasib pasukannya. Sehingga, kebijakan yang diambilnya justru terpancang pada agenda Richard.
Oleh karena itu, ia harus segera membentengi dan memperkuat pertahanan Jerusalem. Namun, tidak semua prajurit dalam pasukannya sependapat dengan pikirannya. Beberapa petingginya justru berpendapat bahwa daripada mereka membentengi Jerusalem lebih baik mereka meninggalkan kota dan menghancurkan pasukan musuh di arena pertempuran.
Kritik paling tajam dan penolakan paling kuat yang diterima Shalahuddin al ayyubi datang dari pasukan mamluk yang selama ini menjadi tentara kepercayaannya. Mereka mengeluhkan kebijakan Shalahuddin al ayyubi yang memutuskan untuk bertahan. Sebab, menurut pendapat mereka, kebijakan ini hanya akan memenjarakan mereka di dalam tembok kota. Selain itu, mereka juga mengkhawatirkan nasib mereka akan seperti nasib para prajurit di Acre. Sehingga, seluruh kekuasaan Islam akan jatuh ke tangan musuh dan akhirnya, merea pun menyimpulkan bahwa mereka lebih baik kehilangan Jerusalem daripada kehilangan semangat jihad.
Ketika Shalahuddin al ayyubi sedang menghadapi kritik dari para pengikutnya, Richard memosikan pasukannya di Beit Nuba, suatu tempat yang berada tidak jauh dari Jerusalem. Garda depan pasukannya semakin mendekati ibu kota Palestina dan terlibat pertarungan dengan pasukan patroli pengintai Shalahuddin al ayyubi. Pertempuran di daerah perbatasan tersebut semakin sulit. Sehingga, shalahuddin pun mengharapkan adanya sebuah keajaiban seperti yang terjadi beberapa kali sebelumnya.
Maka, tiba-tiba, Richard menghentikan pasukannya. Ternyata, ia juga merasa mengkhawatirkan pertempuran yang berlarut-larut. Walaupun ia memiliki kekuatan yang memadai untuk menyerang dan merebut Jerusalem, ia tidak memiliki pasukan yang cukup untuk mendirikan kemah selama pertempuran berlangsung (yang kemungkinan akan memakan waktu selama beberapa bulan hingga beberapa tahun). Selain itu, air yang bisa diminum sulit ditemui, suplai bahan pangan terbatas dan moral prajurit-prajuritnya sengat rendah.
Sehingga, pasukan Richard juga aka terancam oleh bahaya penyakit, kelaparan kehausan, ketidaknyamanan dan kebosanan. Serangan berlarut-larut hanya akan waktu untuk berada jauh dari rumah dan keluarga sehingga akan mengendurkan semangat para prajuritnya untuk mengalahkan musuh. Selain itu pasukan Richard juga sadar bahwa pasukan Shalahuddin al ayyubi mempertahankan Jerusalem sampai titik darah penghabisan.
Dengan demikian, Shalahuddin telah mampu menunjukkan sebagai musuh yang cerdik dan banyak akal. Sehingga, Richard tidak mampu mengalahkannya secara mutlak. Sementara itu ia juga khawatir tahta Inggris akan jatuh ke tangan John. Maka, ia pun mulai putus asa. Raja Inggris yang selalu memancarkan sinar kepercayaan diri itu, kini terkungkung dalam ambivalensi.
Hal ini membuat pasukan Prancis naik pitam. Mereka menurut Richard the Lionheart segera menjatuhkan keputusannya. “Kami meninggalkan negara kami demi merebut tanah Suci dan kami tidak akan kembali sebelum kami dapat mewujudkan tujuan tersebut, kata mereka.
Namun, Richard tetap memilih pulang ke negaranya daripada menaklukkan Jerusalem. Sehingga, percekokan intern oun tak terhindarkan lagi. Para ksatria saling menuduh ksatria lainnya bahwa mereka adalah para pengecut. Selain itu, para komandan Ricahrd justru mencari kambing hitam dan mulai mempertanyakan alasan mereka jauh-jauh datang ke Palestina.
Sementara itu, bagi Shalahuddin al ayyubi dan Ricahrd, keletihan yang mereka rasakn lebih berat daripada baju baja . akan tetapi, kedua pemimpin ini harus tetap mempertahankan wibawa dan harga diri mereka sebgai seorang raja dan sultan. Walaupun mereka sangat merindukan perdamaian, mereka tidak bersedia membayarnya dengan kehormatan diri mereka.
Akhirnya, Richard mencanangkan gencatan senjata. Ia membuka negosiasi dengan Shalahuddin al ayyubi. Ia menyatakan keinginannya untuk membangun dan menguasai Ascalon kembali. Selain itu, ia juga meminta supaya umat Kristiani diizinkan dan dijamin keamanannya saat mengunjungi tempat-tempat suci mereka di Jerusalem, meskipun kepemilikan kota suci tersebut tetap berada di tangan umat Islam.
Maka, Shalahuddin al ayyubi menyatakan bahwa Ascalon tetap akan dijadikan wilayah yang netral dan ia pun setuju untuk membuka gerbang Jerusalem bagi para peziarah Kristen. Namun, Richard kembali mementahkan negosiasi ini. Ia sadar bahwa Shalahuddin al ayyubi merupakan lawan negosiasi yang ulet dan Richard pun tidak akan pernah bisa menghadapinya. Sehingga, ia menarik pasukannya mundur dan membiarkan keadaan berkembang seiring dengan perputaran waktu.

SERANGAN SHALAHUDDIN AL AYYUBI KE ACRE (1189-1191)



Setelah Shalahuddin al ayyubi menguasai Jerusalem secara panuh, ia harus mempersipakan langkah selanjutnya. Maka, ia pun memutuskan untuk melakukan serangan ke utara. Tujuannya adalah menangkal serangan Eropa yang diasumsikan akan datang melalui wilayah kekuasaan Byzantine. Ia juga berusaha melenyapkan titik-titik yang dapat digunakan oleh orang-orang Kristen untuk melakukan serangan balik ke Jerusalem seperti Antioch dan lain sebagainya.
Shalahuddin berpikir bahwa jika kawasan pesisir mampu dikuasainya, ia pun dapat memutuskan jalur suplai dan bantuan menuju kastil-kastil Kristen yang berada di daratan. Bahkan, ia pun sempat berpikir untuk kembali menyerang Tyre. Namun, ia pun membatalkan niat tersebut seperti yang  pernah ia lakukan saat ia melepas pertempuran Hattin beberapa waktu lalu.
                                                           Shalahiddin al ayyubi

Sementara itu, di daerah pedalaman, Shalahuddin juga menghindari kastil kukuh Krak des Chevaliers. Namun, ia berhasil menduduki bentueng lama Reginald di Kerak. Keberhasilannya ini mampu mendatangkan dorongan secara psikologis bagi pasukannya sekaligus menghilangkan ancaman terhadap rute perdagangan antara Mesir dan Arabia.
Karena merasa percaya diri bahwa nasib baik akan berpihak kepadanya, Shalahuddin terlalu bersikap murah hati kepada musuh-musuhnya. Bahkan, pada bulan Juli 1188, ia membebaskan guy of Lusignan dari penjara. Namun, ia harus berikrar bahwa ia tidak akan melawan Shalahuddin.
Namun, setelah dibebaskan, Guy kembali ke Tripoli. Suatu ketika, seorang pendeta memberitahunya bahwa janji yang dibuat dengan orang Islam tidak memiliki kekuatan sama sekali. Maka Guy bertekad melanggar sumpahnya dan mengumpulkan pasukan untuk melawan Shalahuddin.
Setelah terlebit konfrontasi kecil dengan Conrad di Tyre, Guy mempersiapkan diri guna menyerang pasukan Islam dan Acre adalah target yang dipilihnya. Maka, pada Agustus 1189, ia melancarkan serangan ke kota tersebut.
Karena aserangan ini bersifat mendadak, pasukan pertahanan Acre pun terjebak dalam kepungan musuh karena belakang mereka adalah Laut Mediterrania. Maka, Shalahuddin pun segera menjalankan misi penyelamatan dengan cara mengelilingi pasukan Kristen. Sehingga, pasukan Guy sebelumnya bertindak sebagai penyerang, kini justru menjadi korban serangan Shalahuddin.
Dalam sebuah formasi setengah lingkaran, pasukan Kristen terjepit oleh pasukan Shalahuddin yang berada di kedua sisi pasukan tersebut. Pertempuran sengit pun tidak dapat dielakkan saat orang-orang Frank berusaha memasuki kota Acre. Sementara itu, Shalahuddin berjuang keras menerobos dan memecah pasukan Guy untuk menyelamatkan teman-temannya yang terjebak di dalam benteng kota.
Dalam posisi seperti itu, tidak ada satu pihak pun yang bisa dianggap sukses, pasukan pertahanan Acre yang gigih terus bertahan, pasukan Guy tidak mau mengalah dan cengkraman Shalahuddin terhadap pasukan Frank tidak mengendor sama sekali. Sehingga, pertempuran itu seolah-olah mengalami jalan buntu.
Akhirnya, Shalahuddin pun jatuh sakit. Dalam kondisi kesehatan yang lemah dan tidak terlalu fit, Shalahuddin menerima kabar yang tidak menyenangkan mengenai kedatangan pasukan besar dari Eropa ke daerah kekuasaannya. Raja Jerman, Frederick Barbarossa, dikabarkan sedang bergerak menuju Jerusalem dengan membawa pasukan yang jumlahnya sekitar 250 ribu orang prajurit (ada pula riwayat yang menyebutkan bahwa pasukan barbarossa hanya berjumlah kurang lebih 50 ribu orang tentara).
Di pembaringannya, Shalahuddin dalam depresi yang hebat saat ia membayangkan pasukan Frederick benar-benar tiba di hadapannya. Sebab, pasukan yang berjumlah banyak itu dapat menghantam garis serang Shalahuddin dan memusnahkan Benteng Acre dengan mudah. Oleh karena itu, Shalahuddin membutuhkan sebuah keajaiban seperti yang kerap terjadi pada masa-masa sebelumnya.
Saat melintasi sebuah sungai di kawasan Cilicia (sebuah wilayah di selatan Turki modern) Frederick tetap berada di atas punggung kudanya. Namun, tunggangannya kehilangan pijakan dan menghempaskan sang raja ke dalam air, maka, ia pun mati tenggelam di sungai tersebut.
Karena kehilangan pemimpinnya, pasukan Jerman pun membubarkan diri. Hanya sekitar 5ribu tentara yang melanjutkan perjalanan ke Acre. Tentunya, jumlah pasukan yang sedikit itu tidak akan mampu mengubah jalannya pertempuran.
Karena sudah tidak ada ancaman dari pasukan jerman, Shalahuddin sembuh dari sakitnya. Maka, pada pertengahan januari 1190, ia kembali terjun ke medan pertempuran. Namun, kabar buruk lagi-lagi sampai telinganya. Pendudukan Jerusalem telah menghebohkan kalangan umat Kristiani di Prancis dan Inggris.
Kedua negara ini mendeklarasikan Perang Salib baru. Panggilan perang ini mereka tujukan kepada para prajurit. Selain itu, mereka juga menggalang dana melalui sebuah pajak khusus dengan nama Saladin Tithe (Dana untuk memerangi Shalahuddin). Bahkan, di bawah komando Raja Prancis, Philip II, para ksatria mulai menyandang pedang, mengenakan baju zirah dan siap berangkat ke Palestina.
Sementara itu, para prajurit di Inggirs pun melakukan hal yang sama. Mereka dipimpin oleh penguasa mereka, Richard I atau yang juga dikenal dengan nama Richard the Lionheart. Tokoh ini merupakan musuh yang snagat berbahaya. Sebab, ia adalah seorang pejuang yang sudah teruji dan sangat berkompeten. Hal tersebut telah ia tunjukkan dalam serangkaian perang melawan ayahnya sendiri.
Dalam strategi perang melawan Shalahuddin, status kepemimpinan Richard berada di bawah Philip. Namun, pada kenyataannya, ia bisa menunjukkan sebagai pemimpin yang sejati. Sementara itu, pasukan Eropa dipersiapkan menuju Tyre. Kemudian, pasukan tersebut menuju Acre dan akan dipersatukan dengan pasukan Guy. Tentu saja, keadaan ini akan membuat posisi Shalahuddin semakin terjepit.
Ketika pasukan Philip menginjakkan kaki di Kota Suci, Richard mulai meninggalkan Sisilia menuju Siprus. Ia pun meluangkan waktu untuk menaklukkan pulau tersebut seolah-olah ia tidak ingin mendatangi Shalahuddin dengan tergesa-gesa. Sementara itu, Shalahuddin hanya bisa menyaksikan pasukan musuh memperketat kepungan mereka terhadap kota Acre sehingga membuat pasukannya semakin menderita.
Shalahuddin menjalin komunikasi dengan pasukannya di Acre menggunakan merpati melalui laut secara diam-diam. Sementara itu, Guy telah memasang beberapa alat pelantak tembok dan menara serang yang tinggi guna memanjat tembok musuh.
Saat Guy dan pasukannya menggunakan alat-alat tersebut, Shalahuddin hanya bisa diam tidak berdaya. Pada titik krusial tersebut, inisiatif untuk mempertahankan Acre justru datang dari para prajurit Syria. Para prajurit kreatif itu membuat cairan yang mudah terbakar yang terbuat dari nafta. Cairan ini tidak hanya menghasilkan api yang panas, melainkan juga akan mengeluarkan ledakan.
Ternyata, temuan tersebut berhasil digunakan untuk menghancurkan menara serang pasukan Guy. Bahkan, senjata ampuh itu bisa menyelamatkan kota walaupun hanya untuk sementara waktu. Namun, dalam episode peperangan kali ini, Shalahuddin sekadar menjadi penonton dari jarak jauh.
Seiring dengan meningkatnya serangan orang-orang Frank, perbedaan pendapat di kalangan para komandan Shalahuddin terus berkembang. Para petinggi militer Shalahuddin mulai menggerutu dan melakukan desersi. Beberapa kelompok prajurit pun mulai meninggalkan garda depan. Hal ini mereka lakukan karena mereka terpengaruh oleh tindakan komandan mereka yang mulai kecewa terhadap Shalahuddin.
Lalu, mereka pun memilih mundur dari medan laga. Mereka tidak menghiraukan lagi kemarahan Shalahuddin terhadap keputusan yang mereka ambil. Sementara itu, para prajurit yang masih bertahan pun mulai mempertanyakan kepemimpinan Shalahuddin.
Pada akhir tahun 1190 atau pada usianya yang ke-52tahun, Shalahuddin kembali dihadapkan pada perselisihan dan konflik internal Islam. Shalahuddin pun berdiri di hadapan benteng kota Acre “diselimuti” oleh keraguan. Seolah-olah, ia menjadi tawanan dalam peritiwa yang menimpa dirinya itu.
Kemenangan dalam peperangan hanya bisa diraih dengan ketangguhan yang tak kenal kompromi. Namun, Shalahuddin justru terlalu menuruti sisi welas asih dalam dirinya. Misalnya, pada suatu pertempuran yang sengit, salah seorang prajuritnya menculik bayi yang berusia tiga bulan dari bangsa Frank.
Lalu, sang ibu mendatangi shalahuddin untuk meminta supaya bayinya dikemnalikan. Karena merasa malu terhadap sikap prajuritnya, shalahuddin mengembalikan bayi tersebut kepada ibunya secara personal. Kemudian ia memberikan jalan yang aan kepada ibu dan anak ini untuk kembali ke garis serang pasukan Frank. Pada kesempatan lain, Shalahuddin juga pernah membebaskan seorang sesepuh bangsa Frank yang tertangkap di Acre hanya karena ia tersentuh oleh keshalihan dan kesederhanaan orang tua tersebut.
Seiring dengan perjalanan usianya, Shalahuddin justru kian terjebak dalam konflik batin daripada menghadapi musuhnya. Selain itu, musuh tangguh pun bertebaran di sekelilingnya. Bahkan, ia pun tidak bisa berbuat apa-apa ketika kota Acre semakin terjepit.

JATUHNYA ACRE
Pada 20 April 1191, saat Acre masih terkepung musuh, Philip dan pasukannya datang dari Prancis. Kehadiran Philip dan pasukannya itu membawa kesegaran baru dan mampu melipatgandakan semangat pasukan Kristen untuk menaklukkan Acre. Semakin hari serangan terhadap kota tersebut semakin hebat.
Alat-alat pelontar batu mereka gunakan untuk menghempaskan batu-batu besar ke arah menara pertahanan dan tembok kota Acre. Sementara itu, alat pelantak tembok mulai mendekati dinding kota dan menghantam konstruksi bangunan tersebut. Pada saat yang bersamaan, pasukan ini mulai menggali tembok itu untuk meruntuhkannya. Sehingga, pertahanan Shalahuddin al ayyubi di Acre kian melemah.
Pada 7 juni 1191, Richard the Lionheart menenggelamkan sebuah kapal yang membawa bahan makanan dan sekitar 700 orang prajurit yang akan diperbantukan untuk Shalahuddin al ayyubi. Kehadiran Richard di atas kapal perangnya, Trenchemere, mengubah rangkaian serangan terhadap kota Acre. Richard sama tidak mau membiarkan Philip mendapatkan pernghargaan karena berhasil menjatuhkan Acre.
Maka, ia pun segera mengambil alih komando operasi militer tersebut. Ia meningkatkan tempo pertempuran dan memborbardir pasukan musuh. Namun, pada saat bersamaan, ia juga mencoba membuka pembicaraan damai dengan Shalahuddin. Selanjutnya, Shalahuddin al ayyubi merespons langkah Richard dengan mengirimkan hadiah berupa buah-buahan dan salju untuk Raja Inggris tersebut. Richard pun tak mau kalah, maka ia memberikan seorang budak kepada Shalahuddin.
Namun, Shalahuddin al ayyubi menolak tawaran untuk bertemu secara empat mata dengan Richard dengan berkata, “bukanlah sebuah adat bagi para raja yang sedang berperang untuk saling bertatap muka. Sebab, setelah mereka saling berbincang-bincang dan memberikan kepercayaan, maka tidak boleh ada lagi peperangan di antara mereka.”
Penolakan ini memaksa Richard untuk melanjutkan serangannya sehingga gencatan senjata pun tertunda. Kemudian, ia memperketat kepungannya di Acre. Pasukannya pun terus menghantam tembok kota dan terus menggali terowongan menuju pertahanan musuh. Sementara itu, pasukan Shalahuddin menggali terowongan tandingan keluar benteng.
Maka, setiap kali, kedua pasukan penggali tersebut bertemu, mereka saling menyerang sehingga terjadilah peperangan yang mengerikan di bawah tanah yang gelap. Richard pun menjadi frustasi karena Acre terus mempertahankan diri. Maka, kedua belah pihak pun merasakan klimaks yang kian dekat.
Sehingga, Shalahuddin al ayyubi  mencoba mencairkan keadaan dengan berusaha untuk menemui Richard. Namun, Raja Inggris tersebut menolak tawarannya. Akhirnya, pada 12 Juli 1191, Acre pun jatuh ke tangan pasukan Kristen.
Menurut riwayat, Shalahuddin al ayyubi menitikkan air mata saat menyaksikan bendera Kristen berkibar di atas kota. Jatuhnya kota tersebut ke tangan Richard berawal dari langkah pasukan pertahanan Acre yang mengabaikan aturan ketat Shalahuddin al ayyubi. Mereka membuka negosiasi dengan Richard dan mengatasnamakan Sultan Syria dan Mesir tersebut.
Berdasarkan hasil kesepakatan damai tersebut, pasukan Shlahuddin al ayyubi harus membebaskan 500 orang tawanan Kristen yang mereka tahan, membayar upeti sebesar 200 ribu keping emas dan mengembalikan potongan “Kayu Salib Suci” yang diambil oleh pasukan Islam dalam Pertempuran Hattin.
Maka, Shalahuddin al ayyubi tidak punya pilihan lain kecuali memenuhi tuntutan Richard itu. Namun, Shalahuddin memulai proses tersebut secara perlahan-lahan. Hal ini membuat Richard curiga. Ia berpikir bahwa Shalahuddin al ayyubi mengulur-ulur waktu untuk menunggu datangnya bala bantuan dari Mesir.
Di sisi lain, Richard sendiri mengalami masalah intern yang sangat serius. Sebab, saudara laki-lakinya, John sedang berusaha merebut tahta Inggris dari tangannya. Maka, ia pun tidak mau melewatkan terlalu banyak waktunya di Palestina dengan menunggu ketegasan Shalahuddin al ayyubi.
Oleh karena itu, Richard menjadi kehabisan kesabaran. Lalu, ia menyeret 3 ribu orang muslim yang menjadi tahanannya keluar dari gerbang kota Acre. Selanjutnya, di hadapan pasukan Shalahuddin al ayyubi yang ketakutan, ia memerintahkan agar para tahanan tersebut dipancung.

SHALAHUDDIN AL AYYUBI DALAM MENAKLUKKAN JERUSALEM


Agara para pembaca bisa nyambung tentang kisah di artikel ini, ada baiknya para pembaca membaca artikel sebelumnya tentang artikel shalahuddin al ayyubi, karena artikel ini merupakan lanjutan tulisan dari artikel sebelumnya.



Untuk menindaklanjuti kemenangannya yang mengagumkan ini, Shalahuddin bergerak cepat. Setelah mengatur taktik dan strategi, ia memimpin sebagian pasukannya menuju Trye, benteng yang paling berbahaya dan penting bagi umat Kristiani di Palestina. Kota Tyre memiliki barak Kristen terbesar dan terkuat, serta dikelilingi oleh tembok raksasa yang sangat kukuh. Selain itu, kota tersebut juga dipimpin oleh salah seorang Komandan Frank yang paling mumpuni, yaitu Conrad of Monferrat.
Conrad menghormati Shalahuddin namun ia tidak merasa gentar kepadanya. Sehingga, ia bertekad untuk menyangkal kekuasaan Sultan Syria dan Mesir tersebut terhadap Benteng Tyre. Shalahuddin mengetahui bahwa serbuan terhadap kota tersebut secara langsung hanya akan menemui kegagalan. Jadi, ia menggunakan cara-cara persuasi. Namun, Conrad sama sekali tidak terkesan dengan upaya tersebut.
Shalahuddin pun menangkap ayah Conrad di Pertempuran Hattin. Lalu, ia membawa orang tersebut ke tembok kota dengan keadaan terborgol. Selanjutnya, ia mengancam akan membunuh orang tua ini jika Conrad tidak mau menyerahkan diri. Akan tetapi, jawaban penguasa Tyre justru membuat Shalahuddin terkejut dan kecewa.
“Ikat saja orang tua itu di kayu sula! Aku tidak perduli karena aku akan menjadi orang pertama yang menembaknya. Sebab, ia sudah ta dan tak berguna,” kata Conrad. Kemudian, ia mengambil sebuah crossbow (busur panah yang berbentuk pistol) dan melepaskan anak panah ke arah ayahnya. Shalahuddin pun hanya dapat menggeleng-geleng kepala. Karena membutuhkan waktu lama dan pertumpahan darah yang tidak sedikit untuk menunfukkan Tyre, ia pun mulai mengumpulkan pasukannya. Selanjutnya, ia memutuskan untuk meninggalkan Tyre di tangan orang-orang Kristen.
Shalahuddin mulai menaklukkan kota-kota di Palsetina seperti Caesarea, Jaffa dan Arsuf, satu persatu. Akhirnya, Shalahuddin pun sampai di Ascalon. Kota ini memang hanya sebuah kota tua, namun kota tersebut merupakan pintu gerbang menuju Mesir.
Oleh karena itu, Shalahuddin ingin menguasai kota itu untuk membuka jalur perdagangan dan komunikasi antara Mesir dan Syria. Namun Ascalon memilih untuk mempertahankan diri. Ascalon tidak mau tunuk kepada Shalahuddin. Maka, Shalahuddin pun menyeret Guy of Lusignan keluar dari penjara dan memaksanya untuk memerintahkan pasukan Ascalon untuk membuka gerbang kota. Namun usaha ini tidak membuahkan hasil.
Bahkan, pasukan pertahanan Ascalon justru menertawakan permohonan Guy tersebut. Lebih-lebih, saat mereka mengetahui bahwa penyerahan diri mereka hanya untuk menebus kebebasan pemimpin Frank tersebut. Karena pasukan pertahanan Ascalon tidak mau menyerah, Shalahuddin pun memerintahkan pasukannya untuk mulai meruntuhkan tembok Ascalon.
Namun, kenangan di Alexandria menghantui pikirannya. Meskipun di Ascalon ia bertindak sebagai pihak penyerang, shalahuddin tetap tidak suka terhadap peperangan yang berlarut-larut. Di sisi lain, para pemimpin Ascalon juga berpikir bahwa serangan dari Shalahuddin akan menyebabkan bahaya kelaparan dan pertumpahan darah yang tidak mungkin bisa mereka atasi.
Maka, ketika pasukan Shalahuddin mulai berupaya merobohkan tembok kota, para sesepuh Ascalon membuka gerbang kota dan memohon belas kasihan kepada shalahuddin. Dengan begitu, Ascalon telah menyerah kepada Shalahuddin dan membukakan gerbang menuju mesir.
Shalahuddin telah berhasil menyelesaikan masalah besar tersebut, namun masih ada satu lagi kesulitan yang menghadang langkahnya. Sebab, pasukan pertahanan Jerusalem tentu saja akan berjung lebih mati-matian daripada pasukan pertahanan Ascalon. Sebab, bagi umat Kristiani, jerusalem adalah “kota yang suci”. Sehingga, bila mereka menyerahkan Jerusalem tanpa perlawanan berarti mereka menyerahkan inti ajaran Kristiani.
Shalahuddin pun sangat memahami hal ini. Sehingga, ia menawarkan syarat-syarat penyerahan diri secara liberal kepada para penguasa kota tersebut. Maka, ketika para utusan dari Jerusalem datang ke kemahnya di luar kota Ascalon, Shalahuddin menyambutnya dengan ramah.
Shalahuddin mengatakan kepada para utusan ini bahwa pasukannya akan menyerang Jerusalem dari sekeliling Jerusalem. Namun, kegiatan sehari-hari di dalam tembok kota akan tetap dibiarkan berlangsung tanpa gangguan. Sehingga, para petani yang menyuplai kebutuhan pangan warga kota masih bisa beraktivitas tanpa rasa cemas. Shalahuddin pun meyakinkan kepada mereka bahwa penduduk Jerusalem tidak akan disakiti.
Sementara itu, apabila sampai musim semi berikutnya pasukan Frank tidak menyelamatkan mereka, penguasa jerusalem ahrus menyerahkan diri. Akan tetapi, para utusan dari jerusalem menolak tawaran tersebut. Mereka bersedia mati demi mempertahankan Jerusalem dari pada membiarkan jerusalem tunduk pada kekuasaan orang-orang Islam.
Mendengar jawaban itu, tetntu saja shalahuddin terkejut dan kecewa. Maka, tidak ada pilihan lain baginya, kecuali memerintahkan pasukannya untuk menyerang Jerusalem yang hanya berjarak satu hari perjalanan dari Ascalon. Pasukan shalahuddin pun bergerak menuju kota ini.
Setelah pasukan Shalahuddin tiba di depan tembok kota jerusalem, mereka segera mempersiapkan serbuan mereka untuk menggempur tembok kota. Sementara itu, sektar 6ribu orang prajurit yang dipimpin oleh Balian of Ibelin menunggu dalam fromasi bertahan di dalam benteng tersebut. Serangan yang dilakukan Shalahuddin berlangsung singkat, namun memakan banyak korban. Sehingga ia berhasil memaksa Balian untuk menyerahkan diri.
Maka, menurut kebiasaan masyarakat pada masa itu, mereka memiliki hak untuk mengumpulkan harta rampasan perang di sepanjang jalan kota yang telah ditaklukkan ini. Namun, Shalahuddin telah memutuskan untuk tidak melakukan pengrusakan dan hura-hura. Sebab, ia tidak ingin memperberat beban umat Kristiani pascaperang tersebut.
Shalahuddin memang telah membunuh musuh-musuhnya, namun ia tidak menikmati pembunuhan tersebut. Bahkan, ia selalu memerintahkan para prajuritnya untuk tidak membunuh orang-orang awam yang tidak bersalah sekalipun mereka adalah orang-orang kafir. Setelah ia menduduki Jerusalem dengan kekuatan bersenjata, ia kembali menunjukkan sikap belas kasihan yang tinggi tanpa kehilangan wewenang dan wibawa di hadapan para prajuritnya. Sementara itu, para petinggi dan prajuritnya menuntut agar Shalahuddin kekejaman orang-orang Kristen Eropa terhadap umat muslim pada waktu Perang Salib (1099). Selain itu, mereka juga menuntut supaya orang-orang Kristen dihukum dengan hukuman yang setimpal. Akhirnya, Shalahuddin menemukan jalan keluar untuk memuaskan keinginan para prajuritnya. Lalu, ia menetapkan kebijakan kepada penduduk Jerusalem untuk membayar uang tebusan. Kebijakan ini berlaku untuk seluruh populasi kota didasarkan pada skala naik turun. Artinya, orang-orang yang memiliki nilai lebih (status sosial tinggi) harus membayar lebih banyak daripada orang-orang yang berstatus sosial rendah. Sedangkan, orang-orang yang berstatus sosial rendah hanya diwajibkan membayar sesuai dengan kemampuan mereka.
Namun, terlepas dari status sosial mereka, semua warga kota yang mampu mengumpulkan uang tebusan tetap akan dibebaskan oleh Shalahuddin. Sementara itu, orang-orang yang tdak mampu membayar uang tebusan akan diborgol dan dijual di pasar sebagai budak. Dengan begiyu, Jerusalem bisa dikuasai oleh Shalahuddin secara penuh.
Selanjutnya, ia akan membangun kota tersebut dan menyembalikannya kepada kejayaan Islam. Ia pun berencana untuk merestorasi seluruh tempat suci dan memperbaiki sarana-sarana publik. Selain itu, ia juga akan membangun kembali benteng kota tersebut.
Pada 2 Oktober 1187, Shalahuddin memasuki Jerusalem. Saat itu, proses evakuasi di kota tersebut masih terus berlangsung. Maka, Shalahuddin pun tidak mengumbar suka-cita karena ia justru ikut larut dalam kesedihan.
Kemurahan hati Shalahuddin, dimanfaatkan oleh elit politik dan emuka agama Kristiani untuk menimbun kekayaan. Mereka tidak membayarkan uang tebusan untuk masyarakat miskin. Dengan demikian, pihak gereja lebih memilih memperkaya diri daripada membebaskan orang-orang yang lemah dari penderitaan mereka.
Melihat keadaan ini, para petinggi pasukan shalahuddin memaksa shalahuddin untuk melanggar kebijakan yang telah ia tetapkan. Mereka mengusulkan supaya Shalahuddin menghukum para pelaku penyalahgunaan tersebut dan membebaskan orang-orang miskin Jerusalem.
Di satu sisi, tindakan para pemuka gereja yang mengabaikan umatnya memang sangat mengganggu dan mengusik kehormatan Shalahuddin. Sebab, ia merasa sangat kasihan kepada para janda dan anak-anak dari para pejuang Kristen yang gugur di medan pertempuran. Sehingga, ia ingin membebaskan mereka tanpa uang tebusan. Bahkan, ia juga akan membebaskan warga miskin lainnya tanpa uang tebusan.
Namun, di sisi lain, shalahuddin adalah seorang sultan yang harus menepati janjinya. Maka, Shalahuddin pun menjelaskan kepada para petinggi pasukannya bahwa ia harus menaati kesepakatan yang sudah ia capai dengan pihak Balian. Oleh karena itu, ketika warga kota sudah tidak ada yang bisa mengumpulkan uang tebusan, Shalahuddin harus menyaksikan pasukannya menggiring 8ribu masyarakat miskin Jerusalem menuju perbudakan dengan penuh rasa penyesalan.
Pendudukan Shalahuddin terhadap Jerusalem membuktikan sifat sejati. Yaitu, sifat yang penuh perhatian, welas asih dan pengabdian terhadap Islam. Ia menentang keinginan para prajuritnya untuk mengancurkan Gereja Makam Agung maupun tempat peribadatan Kristiani lainnya. Bahkan, ketika orang-orang Yahudi dianiaya dan diusir oleh orang-orang Frank, ia mempersilahkan mereka kembali ke Jerusalem dengan ramah.
Kemudian. Shalahuddin merestorasi dan memperbarui masjid Al-Aqsa. Tentu saja, hal ini merupakan berita yang menggembirakan umat muslim di seluruh dunia. Akan tetapi, tidak semua niat baik akan mendatangkan hasil yang baik pula. Karena semasa evakuasi warga kota, ia tidak mencegah aliran kekayaan Jerusalem ke luar kota, Shalahuddin telah kehilangan sejumlah uang yang justru ia butuhkan untuk membangun Jerusalem yang baru.
Selain itu, keputusannya untuk melepaskan Balian merupakan sebuah kesalahan yang berakibat fatal. Sebab, sang musuh justru menjadi bebas berkeliaran dan menciptakan huru-hara. Bahkan sebuah pertanda buruk yang lain juga sedang menggelayuti kemenangan Shaalahuddin di Jerusalem.
Saat Shalahuddin sibuk merestorasi Jerusalem, benteng pertahanan orang-orang Kristen di Tyre semakin hari semakin kuat. Para pengungsi banyak berdatangan sehingga suplai logistik pun masuk ke sana. Bahkan, Tyre mulai menjadi titik sentral dari perlawanan dan serangan balik pasukan Frank.
Dengan begitu, kota-kota lain pun menjadi terinspirasi untuk memperkukuh dan mempersiapkan pertahanan mereka secara maksimal. Selain itu, strategi Shalahuddin semakin transparan sehingga musuh-musuhnya dapat mempersiapkan langkah untuk mengantisipasinya. Shalahuddin memang telah memenangkan Jerusalem, namun ia justru kehilangan inisiatifnya.

USAHA SHALAHUDDIN AL AYYUBI DALAM MEMPERSATUKAN ISLAM



Setelah Shalahuddin al ayyubi mengklaim kekuasaan terhadap Syria pada tahun 1174, banyak tantangan dan bambatan serius yang menghadang langkahnya. Sebab, sanak famili Nuruddin masih menguasai kota-kota penting di Syria seperti Mosul dan Aleppo. Di Mosul, keponakan Nuruddin, Saifuddin Ghazi, menduduki posisi terpenting, sedangkan keponakan Nuruddin yang lain, Imaduddin, menguasai kota strategis Sinjar. Selain itu, Nuruddin telah mewariskan benteng krusial di Aleppo ke tangan putranya yang masih muda, Al Malik al-Salih Ismail.
Oleh karena itu, Shalahuddin harus “merebut Hati” para pemimpin ini agar berpihak dan tunduk kepada dirinya. Setelah ia dapat menduduki kota Homs, ada sebuah benteng penting yang menolak mengakui kekuasaannya secara terang-terangan. Maka, ia pun memperbolehkan pasukannya untuk membunuh sesama muslim jika mereka benar-benar menghalang-halangi jihad untuk melawan orang-orang Kristen. Namun, ia juga menyampaikan penyesalannya karena harus ada pertumpahan darah antara sesama umat Islam. Namun, hal ini ia lakukan karena ia tidak memiliki pilihan lain.
Sementara itu, Shalahuddin ditolak dan diolok-olok oleh masyarakat Mosul dan Aleppo. Maka, ia pun berinisiatif untuk menyerang Aleppo. Karena merasa terancam, orang-orang Mosul dan Aleppo bersatu untuk menghadapi Shalahuddin.
                                                                shalahuddin al ayyubi
Pada 13 April 1175, kedua pihak yang bermusuhan ini bertemu di medan laga. Di medan pertempuran itu, Shalahuddin mampu tampil sebagai seorang komandan militer yang piawai. Akhirnya, pasukan gabungan Mosul dan Aleppo bertekuk lutut kepada Shalahuddin. Sebagai Sultan Mesir dan Syria, Shalahuddin berhasil menunjukkan kepribadian yang sangat mengesankan bagi kawan maupun lawannya. Sebab, ia bisa menunjukkan pengendalian diri yang luar biasa. Ia memerintahkan pasukannya untuk tidak melukai apalagi membunuh tawanan mereka.
Bahkan, ia juga melarang pasukannya melakukan pengejaran terhadap prajurit musuh yang melarikan diri dari medan pertempuran. Selain itu, ia memerintahkan pasukannya untuk membebaskan para tawanan yang kondisinya sehat. Pada intinya, ia meminimalkan jatuhnya korban. sehingga, ia pun berhasil mempersatukan Islam tanpa meninggalkan rasa benci dan dendam akibat pembantaian.
Walaupun Shalahuddin telah berhasil mempersatukan Islam, masih ada bahaya yang siap menikamnya kapan saja. sebab, Al-Malik al-Salih, pemimpin Mosul yang memiliki banyak pendukung menginginkan kematiannya. Maka ia pun menyewa para pembunuh bayaran (yang biasa disebut Assassin) untuk membunuh Shalahuddin.
Assassin adalah sebuah kelompok radikal Syi’ah yang menentang para Sultan Sunni. Di bawah pimpinan Rashiduddin Sinan yang jahat, kelompok ini menguasai wilayah di sepanjang Pesisir Timur Mediterania serta sebagian kawasan pedalaman. Kelompok itu menyambut tugas yang ditawarkan oleh pemimpin Mosul dengan senang hati.
Namun, terlebih dahulu Sinan ingin mengenal seluk-beluk sultan muda yang berdarah Kurdi tersebut. Apabila, ia mampu membujuk Shalahuddin untuk tidak menghukum Assassin, ia tidak akan membunuhnya. Maka, Sinan pun mengirim seorang utusan untuk berbicara empat mata dengan Shalahuddin. Untuk menjaga norma kesopanan, Shalahuddin pun mengistirahatkan pasukan pengawal pribadinya, kecuali dua tentara mamluk yang kesetiannya tak diragukan lagi.
Sebab, Shalahuddin merasa aman dan sangat mempercayakan keselamatan nyawanya kepada tentara ini. Di tengah-tengah perbincangan, utusan Sinan mengalihkan perhatiannya kepada kedua prajurit mamluk yang mengawal Shalahuddin. Maka, ia bertanya, “Jika saya memerintahkan kalian untuk membunuh Sultan ini, apakah kalian bersedia melakukannya?”
Kedua pengawal itu pun menjawab, “ Keinginan anda adalah perintah bagi kami”.
Shalahuddin pun sangat terkejut karena ia tidak pernah menyangka jika Assassin mampu menyusupkan orang-orang mereka menjadi pengawal kepercayaannya. Sehingga, ia pun berkesimpulan bahwa Assassin merupakan kelompok yang perlu diatasi dengan lebih hati-hati. Maka, ia pun meyakinkan utusan tersebut bahwa ia akan menghentikan tekanannya terhadap Sinan dan para pengikutnya.
Dari peristiwa ini, Shalahuddin menyerap pelajaran yang teramat penting. Ia menjadi sadar bahwa persoalan domestik di dalam kekuasannya membutuhkan perhatian yang sama porsinya dengan perhatiannya terhadap orang-orang Frank. Sejak saat itu, kekuasaannya sama sekali tidak bisa dianggap remeh. Terlepas dari persoalan para pemberontak, Assassin dan hambatan lain yang ia hadapi, Shalahuddin merasa saat itu merupakan waktu yang cukup aman baginya untuk menghadapai lawan sejatinya, yaitu orang-orang Kristen Eropa.


PERANG MELAWAN ORANG-ORANG FRANK JALAN MENUJU HATTIN
Pada usianya yang ke-45 tahun, Shalahuddin menguasai wilayah luas yang membentang dari barat sampai timur, Mesir-sungai Euphrates dan dari utara sampai selatan, Turki-Teluk Persia. Dengan begitu, kekuasaannya meliputi kota-kota besar dan kaya sebagai pusat perdagangan, pelabuhan terbaik dan tanah pertanian yang paling subur. Sehingga, pada masa itu, Shalahuddin memimpin populasi muslim terbesar di dunia.
Karena ketaatan dalam menjaga Islam, Shalahuddin pun mengandikan dirinya untuk memerangi sikap orang-orang Kristen. Maka, mau tidak mau, ia harus berhadapan dengan orang-orang Frank. Sementara itu, orang-orang Kristen telah memainkan peran mereka dengan sangat baik. Mereka tidak pernah puas dengan kedudukan mereka di Tanah Suci sehingga orang-orang Kristen Eropa ini mengganggu dan melakukan penjarahan terhadap tetangga-tetangga mereka, kaum muslim. Bahkan, mereka merampok dengan cara menyerang karavan kaum muslim.
Selain itu, para prajurit Perang Salib Eropa telah melancarkan gangguan di perbatasan barat Kerajaan Islam. Padahal, umat Islam telah berusaha menjauh dari mereka. Maka, Shalahuddin pun ingin menyelesaikan masalah ini dengan tuntas. Pada saat yang bersamaan, orang-orang Frank dengan tolol dan sombong justru ingin melakukan provokasi terhadap dirinya.
Salah satu provokator dari pasukan Perang Salib bernama Reginald of Chatillon. Tokoh ini berusaha memancing kemarahan Shalahuddin secara brutal dan ambisius. Bahkan, di kalangan teman-temannya sendiri, ia memiliki reputasi sebagai biang kerok. Sebab, ia suka membuat ulah.
Reginald pun mengajak Shalahuddin untuk berperang dengan cara menempati sebuah kastil di kerak. Dari ketinggian Kerak ini, Reginald menjarah karavan orang-orang muslim yang melintas dan merampas kargo berharga milik mereka. Selain itu, ia juga mencemoh Shalahuddin sebagai pimpinan yang tidak bica menjaga wilayah kekuasaannya.
Reginald pun berusaha mencari-cari kesempatan untuk mempermalukan dan memprovokasi umat muslm. Maka, ia pun melakukan tindak yang nekat, yakni menjarah kota Madinah. Bahkan, ia berniat untuk mencuri jenazah Nabi Muhammad Saw., sebagai sebuah penistaan terhadap seluruh dunia.
Shalahuddin tidak bisa menoleransi tindakan Reginald yang impulsif dan gegabah itu. Saat berita tentang upaya penjarahan kota Madinah tersebut sampai telinga Shalahuddin, Sultan Syria dan Mesir ini sangat murka. Meskipun ia dikenal sebagai orang yang penuh pertimbangan dan pengendalian diri yang baik, ia tetap tidak bisa membiarkan hinaan keji terhadap agamanya. Sebab, baginya agama merupakan telah menjadi substansi yang mendorong eksistensi Shalahuddin.
Reginald berhasil lolos dari tangan Shalahuddin, namun kaki tangannya berhasil ditangkap oleh pasukan Shalahuddin. Oleh karena itu, ia melampiaskan kemarahannya kepada mereka. Kemudian, ia memerintahkan pasukannya untuk menangkap seluruh pelaku penjarahan kota Madinah.
Pasukan Shalahuddin pun berhasil menangkap para pelaku penjarahan kota Madinah yang seluruhnya berjumlah 170 orang. Selanjutnya, mereka didudukkan di atas unta dan menghadap ke belakang. Kemudian, mereka diarak melalui jalan-jalan di Alexandria, Makkah, Madinah dan Kairo. Selanjutnya, Shalahuddin memerintahkan agar para tawanan tersebut menebus harga final penistaan yang mereka lakukan dengan dihukum pancung.
Karena perintah ini sangat jauh dari karakteristik Shalahuddin, sampai-sampai bawahannya menolak untuk melaksanakan perintah tersebut. Bahkan, saudaranya, Saifuddin al-Adil, meragukan keputusan Shalahuddin ini. Maka, ia pun memaksa Shalahuddin untuk menuliskan sebuah surat untuk menjelaskan keputusannya itu.
Kemudian, Shalahuddin menuliskan surat yang berisi penjelasan keputusan hukuman mati tersebut. Menurutnya, para pelaku penjarahan kota Madinah harus dihukum mati karena dua alasan. Pertama, mereka nyaris berhasil menjejakkan kaki di salah satu kota suci umat Islam tanpa terdeteksi. Maka, apabila mereka dibiarkan untuk tetap hidup, tentu saja mereka akan kembali melewati rute yang sama dengan membawa pasukan yang lebih besar dan nekat. Kedua, cara itu dilakukan untuk membela dan menjaga kehormatan islam.
Bagi Shalahuddin, serangan umat Kristiani ini merupakan tindakan yang paling keji dalam sejarah Islam. Oleh sebab itu, ia tidak bisa membiarkan orang-orang kafir mengolok-olok Islam dan lolos tanpa balasan. Bahkan, sejak masih remaja, ia telah berikrar untuk mengabdi dan menjadi tentara Allah. ia pun berpedoman bahwa kesejahteraan Islam merupakan bagian dari tanggung jawabnya. Oleh karena itu, ia menyikapi hal ini dengan sangat serius.
Setelah orang-orang Frank dieksekusi, pada tahun 1183, Shalahuddin melancarkan serangan ke Kerak. Namun, usahanya itu belum berhasil karena Reginald mampu mempertahankan diri di Kerak. Sementara itu, beragam persoalan di Jerusalem mengarah pada kondisi terburuk.
Pada tahun 1183, Raja Jerusalem yang maasih muda, Baldwin V, meninggal dunia secara mendadak. Kerajaan  utama pasukan Perang Salib berada dalam kekosongan kepemimpinan. Maka, para bangsawan yang serakah pun mulai berdatangan ke Jerusalem dan berebut untuk menggantikan posisi Baldwin.
Diantara para bangsawan yang memperebutkan kekuasaan di Jerusalem, ada dua orang tokoh yang paling berpengaruh di kalangan bangsa Frank, yaitu Guy of Lusignan dan Raymond of Tripoli. Guy mampu mengakali Raymond dengan cara menikahi ibunda Baldwin dan mengklaim kepemilikan Jerusalem.
Tentu saja, Raymond merasa dicurangi oleh Guy. Sebab, ia merasa telah lama mengabdi menjadi wali Baldwin. Bahkan, ia juga bertindak sebagai raja atas nama Baldwin. Oleh karena itu, setelah kematian sang raja muda, seharusnya singgasana itu diserahkan kepadanya. Karena merasa dipermalukan, ia pun marah dan menarik diri menuju kastilnya di Tiberias yang berada di dekat Laut Galilee.
Sementara itu, Guy tidak memikirkan apapun selain kebenciannya kepada Islam. Sehingga, Shalahuddin pun membaca isyarat ini dan memprediksikan bahwa perang semakin dekat. Lalu, ia segera mempersiapkan pasukannya untuk menghadapi orang-orang kristen. Di sisi lain, Reginald, justru berasumsi bahwa Shalahuddin akan melakukan manuver militer saat perebutan kekuasaan di Jerusalem menyita perhatian semua orang. Maka, ia pun menyerang umat Islam. Pada awal tahun 1187, Reginald menjarah sebuah kafilah Arab yang bertolak dari Mesir menuju Damaskus.
Pasukan prajurit Perang Salib didikan Reginald yang bengal merompak barang-barang dagangan  kafilah yang diangkut dengan unta. Bahkan, mereka menemukan adik perempuan Shalahuddin di antara para musafir tersebut. Ketika adik perempuan Shalahuddin dan para musafir menuntut agar dibebaskan, Reginald hanya menertawakan permintaan mereka secara blak-blakan.
Ketika Shalahuddin mendengar kabar tentang perampokan ini, Reginald pun kembali murka. Bahkan, Shalahuddin bersumpah akan membunuh Reginald dengan tangannya sendiri. Maka, ia pun memerintahkan untuk mengibarkan bendera perang. Dengan demikian, ia meyakini bahwa perang melawan orang-orang Kristen merupakan bagian dari suratan takdirnya.
Selanjutnya, Shalahuddin meminta bantuan kepada kawan lama yang juga orang Frank, yakni Raymond of Tripoli yang merupakan saingan Guy of Lusignan. Tidak seperti Guy, Raymond justru menjalani seluruh hidupnya di Palestina. Sehingga, ia mampu berbahasa Arab dengan fasih dan mengagumi prinsip serta ajaran Islam. Selain itu, ia juga memiliki penghormatan yang tinggi  kepada Shalahuddin.
Pada tahun 1184, raymond dan Shalahuddin telah berdamai dengan menandatangani sebuah gencatan senjata. Sejak saat itu, mereka berdua menjalin hubungan baik dan harmonis. Bahkan, Raymond pernah meminta bantuan Shalahuddin saat ia terlibat dalam pertikaian dengan sesama orang Frank.
Dengan pertimbangan tersebut, Shalahuddin sangat yakin bahwa sang penguasa Tiberias akan memberikan bantuan kepadanya untuk menjatuhkan Guy dan Reginald. Dengan bantuan Raymond, Shalahuddin berharap mampu menaklukkan Palestina kembali. Maka, Shalahuddin pun meminta izin kepada Raymond untuk meewati kekuasaannya. Raymond pun memberikan izin tersebut, namun ia menetapkan beberapa syarat antara lain Shalahuddin dan pasukannya hanya diberi waktu sehari untuk melintasi daerah kekuasaan (yaitu pada siang hari). Dan ia pun harus berjanji untuk tidak melakukan penjarahan terhadap perkampungan Frank di sepanjang jalur aman itu. Shalahuddin pun menerima Syarat-syarat yang diajukan oleh Raymond dengan senang hati. Maka, di bawah pimpinan putranya, Al-Afdal, pasukan Shalahuddin bergerak untuk menaklukkan Palestina.
Tetntu saja, para pengikut Raymond menvonis penguasa Tiberias ini sebagai pengkhianat bagi rakyatnya dan Kristus. Maka, pasukan Hospitaller dan Templat, kelompok biarawan tentara yang mengabdi pada Raymond, segera melakukan pemberontakan. Sebab, mereka telah menghabiskan waktu di sepanjang hidup mereka untuk membela para pengikut Kristiani guna melawan umat Islam.
Namun, mereka seolah-olah dipaksa untuk diam ketika harus menyaksikan pasukan Islam berlalu di depan mereka dengan aman. Mereka menganggap hal itu sebagai sebiah hinaan. Oleh karena itu, tanpa meminta izin atasannya, pasukan Hospitaller dan Templar menyerang pasukan Shalahuddin di Cresson, sebuah tempat yang berada  sekitar dua mil di sebelah utara Nazareth.
Meskipun Kesatria Hospitaller dan Templar merupakan prajurit-prajurit yang penuh keberanian, mereka hanya  memiliki peluang kecil untuk mengusir pasukan Shalahuddin. Dalam waktu singkat, mereka pun dapat dikalahkan oleh pasukan Shalahuddin, kekalahan orang-orang Kristen di Cresson ini memkasa raymond untuk turun tangan.
Di satu sisi, ia telah berjanji untuk melindungi Shalahuddin, namun disisi lain, ia ingin membantu saudaranya sesama umat Kristiani. Maka Raymond menyelinap keluar dari Tiberias secara diam-diam. Lalu, ia mengumumkan keputusannya untuk berangkat ke Jerusalem dan memberikan dukungannya kepada Guy of Lusignan.
Pembelotan Raymond itu membuat Shalahuddin merasa sangat terluka. Selanjutnya, ia membawa pasukan yang berjumlah 24 ribu orang tentara menuju Kastil Raymond di Tiberias. Ia ingin menghukum Raymond sekaligus memancing Guy agar bertindak “prematur”.
Kemudian, ia mulai menyusun rencana untuk menarik pasukan Franks ke sebuah medan pertempuran yang sudah ditentukan. Sehingga, ia berharap mampu mengatasi pasukan Kristen dan mengalahkan mereka secara menyakitkan. Dengan begitu, Gerbang Palestina pun akan terbuka bagi pasukan Islam dan kemenangan umat Islam pun berada di depan mata.

KEMENANGAN SHALAHUDDIN

Pada pagi hari di awal musim panas tahun 1187, saat Shalahuddin masih berada di Tiberias, ia mendengar kabar bahwa pasukan Frank telah bergerak meninggalkan Jerusalem. Maka, ia segera mengatur strategi dan mempersiapkan pasukannya untuk menghadang pasukan lawan dari okasi yang menguntungkan bagi pasukannya.
Shalahuddin pun menemukan sebuah daratan terpencil dan sunyi yang bernama Lubiya. Tempat ini terletak beberapa mil di sebelah selatan Tiberias. Tempat ini berupa dataran yang luas dan terbuka sehingga memberi keuntungan tersendiri bagi pasukan Shalahuddin. Sebab, pasukan pemanah berkuda yang ia miliki mobilitaas tinggi.
Selain itu, kawasan ini merupakan daerah yang kering kerontang sehingga pasukan musuh akan kehausan. Sebab, mereka tidak menemukan sumber air yang bisa digunakan untuk mengobati dahaga mereka. Dengan demikian, Lubiya menawarkan sebuah pemandangan suram bagi pertempuran yang sebentar lagi akan terjadi. Hanya ada dua tempat yang menghiasi dataran sepi tersebut, yaitu desa Hattin dan serangkaian bukit rendah yang dikenal dengan nama perbukitan Horns.
Sementara itu, Guy merespon langkah Shalahuddin ke Palestina dengan karakteristiknya yang khas, yakni sembrono dan gegabah. Sehingga, ia memilih jalur yang melewati hamparan pasir dan kerikil dataran Lubiya yang panas. Walaupun ia menyadari bahwa pasukannya akan terpanggang dalam baju zirah mereka. Ia tetap menggiring mereka menuju sebuah tempat yang sama sekali tidak cocok untuk taktik pertempuran khas Eropa. Bahkan, jalur tersebut jauh dari sumber air yang melimpah, yakni Laut Galilee.
Rute yang ditempuh oleh Guy bukan hanya menguntungkan pihak Shalahuddin, melainkan juga mendatangkan kesalahan fatal yang tak bisa diperbaiki lagi oleh pasukannya. Pasukan Frank dilengkapi dengan pasukan kavaleri yang sangat disegani. Pasukan ini berkonvoi dalam penjagaan “tembok hidup” pasukan infanteri. Sehingga, mereka dapat menampilkan sebuah pemandangan yang sangat mengesankan.
Akan tetapi, mereka terkesan sangat lamban dan kikuk dalam barisan konvoi mereka. Baju zirah yang berat, pedang besar, topi baja dan lembing besi yang mereka kenakan benar-benar menguras tenaga mereka. Selain itu, teriknya sinar matahari semakin terasa sangat menyengat karena mereka mengenakan berbagai macam atribut yang terbuat dari benda logam.
Sementara itu, pasukan Guy dapat dilacak oleh pasukan pengintai shalahuddin dengan mudah. Sehingga, pasukan ini dapat dihadang dan dikepung oleh pasukan shalahuddin dengan mudah. Kemudian, pasukan pemanah berkuda Shalahuddin yang gesit dan lincah menghujanu mereka dengan anak-anak panah. Pasukan Guy menjadi semakin menderita sehingga mereka tidak memiliki pilihan lain kecuali melanjutkan perjalanan dengan susah payah.
Shalahuddin mengetahui bahwa pasukan Guy salah dalam menerapkan strategi. Maka, ia pun segera menempatkan pasukan yang membawa air di antara pasukan Kristen. Selanjutnya, ia mengirim pasukan sayap, yang terdiri atas pasukan pemanah berkuda menuju kedua sisi pasukan Guy. Pasukan ini seolah-olah akan memandu para prajurit Frank menuju sebuah lokasi yang menguntungkan.
Selain itu, Shalahuddin juga menugaskan sekelompok pasukan infanteri untuk menguntit di belakang pasukan pemanah berkuda. Pasukan ini bertugas memproteksi barang bawaan dan suplai logistik sekaligus menjadi titik awal dan akhir serangan pasukan Islam. Pasukan infanteri yang bersenjatakan tombak dan busur itu diberi mandat untuk menghabisi pasukan musuh.
Setelah Shalahuddin mengatur posisi dan komposisi pasukannya, para komandan perangnya mulai membentang bendera yang beraneka warna. Bendera-bendera tersebut berkibar diterpa angin. Selain itu, genderang pun mulai bergema, bunyi terompet mulai bersahut-sahutan dan simbal-simbal mulai bergemerincing mengisyaratkan keberadaan pasukan Shalahuddin kepada pasukan guy.
Guy merasa terusik oleh pasukan pemanah musuh dan terik matahari yang sangat menyengat. Maka, ia pun memerintahkan pasukannya untuk berhenti dan mendirikan kemah. Keesokan harinya, Guy menyadari bahwa hari itu akan menjadi hari yang melelahkan bagi diri dan pasukannya.
Lalu, ia mulai mengumpulkan pasukannya untuk menemukan mata air dan bersiap menghadapi musuh. Sementara itu, pasukan pemanah berkuda Shalahuddin yang telah mendeteksi pergerakan pasukan Guy, mulai merangsek maju. pasukan saya ini mulai menghujani pasukan Franks dengan anak panah. serangan Mereka pun semakin meningkat, baik dari segi frekuensi maupun tingkat keganasannya.
Kemudian, Shalahuddin memerintahkan pasukannya untuk menyalakan api guna menghambat pergerakan pasukan Guy. Kobaran api itu menaikkan suhu yang sudah sedemikian panas akibat teriknya sinar matahari. Selain itu, kobaran api tersebut juga menghasilkan kabut asap tebal yang membutakan pandangan akan menyengat mata pasukan Frank.
Kebingungan segera menyelimuti pasukan Perang Salib Kristen. Para kesatria mereka tak mampu melihat arena pertempuran dan pihak lawan dengan jelas. Kuda-kuda mereka pun mundur dan hany berputar-putar di tempat. Anak panah beterbangan dari segala arah. Seiring dengan kian berkorbarnya api yang mengelilingi mereka, pasukan Kristen pun semakin cemas.
Para prajurit Kristen pun terjebak dalam kepanikan akibat teror yang sanagt mencekam itu. Barisan mereka terpecah-pecah dan para prajurit mulai berhamburan ke semua penjuru. Sehingga, setiap orang hanya memikirkan dirinya sendiri. Maka, Shalahuddin pun menggunakan kesempatan ini untuk melancarkn serangan kepada pihak musuh. Pasukan lembing dan pemanahnya berhasil memojokkan pasukan Franks hingga tak berdaya. Pasukan itu berjuang keras untuk keluar dari perangkap tersebut, namun usaha mereka hanya berakhir sia-sia. Akhirnya, mereka pun menyerah kepada Shalahuddin.
Setelah itu Shalahuddin segera memerintahkan pasukannya untuk mengumpulkan para tawanan. Kemudian, para prajuritnya menyematkan kalung di leher yang menyatu dengan borgol di tangan para tawanan tersebut. Selanjutnya, mereka di giring menuju pasar-pasar di Damasskus dan dijual sebagai budak.
Karena jumlah tawanan di ibu kota Syria sangat banyak, harga budak pun menurun secara drastis. Maka, orang-orang Frank pun tidak bisa mendapatkan harga yang layak. Bahkan, dikisahkan seorang pembeli bisa mendapatkan seorang prajurit Frank hanya dengan menukarkan sepasang sandal usangnya. Dengan demikian, nasib buruk siap menyapa setiap prajurit Kristen yang tertangkap di Pertempuran hattin.
Tak lama setelah pertempuran usai, Shalahuddin memerintahkan agar Guy dan Reginald dihadapkan kepadanya. Guy tidak mampu menyembunyikan kegugupannya, ia pun mempertanyakan nasibnya kepada Shalahuddin. Shalahuddin merespons pertnyaan tersebut dengan menyerahkan semangkuk air mawar sejuk yang telah dibubuhi bubuk serbat. Menurut tradisi yagn berkembang di kalangan masyarakat Arab, jika seorang pemenang memberikan semangkuk air penyegar kepada pihak yang dikalahkan, berarti ia masih mengampuni nyawa musuhnya.
Maka, Guy pun menyerahkan mangkuk yang ditawarkan oleh shalahuddin kepada Reginald, namun Sultan Syria dan Mesir ini menghalangi tindakan Guy ini dengan tangannya. Sebab, Shalahuddin menuntut permintaan maaf dari Reginald atas perbuatannya yang sudah melampaui batas.
Akan tetapi, Reginald justru menjawab tuntutan Shalahuddin dengan sinis. Menurutnya, ia tidak memiliki alasan apa pun untuk meminta maaf kepada Shalahuddin.
“Para raja selalu melakukan tindakan seperti yang telah aku lakukan, “ jelasnya.
Shalahuddin berhenti sejenak sebelum kemarahannya meledak. Kemudian ia pun berkata, “Kau adalah tawananku, tetapi kau menjawab permintaanku dengan penuh kesombongan.”
Seorang pengawal segera menggiring kedua pemimpin bangsa Frank supaya menyingkir dari hadapan Shalahuddin. Namun, tak lama kemudian, Reginald diminta untuk kembali menghadap Shalahuddin. Lalu, Shalahuddin mengundang Guy ke tendanya. Tepat pada saat raja Jerussalem tersebut masuk ke tenda Shalahuddin, seorang budak menyeret jenazah Reginald dalam keadaan tanpa kepala.
Dengan lutut yang bergetar, Guy menatap Shalahuddin. Tiba-tiba, Sultan Syria dan Mesir tersebut berbicara dengan suara yang menyejukkan, “Raja sejati tidak saling membunuh.”
“ia bukan raja dan ia pun sudah melampaui batas,” lanjut Shalahuddin.
Sebelum dikirim ke tenda khusus bagi para tahanan, Guy kembali merasakan aura kesopansantunan Shalahuddin. Lagi-lagi, Shalahuddin memberinya semangkuk air mawar sejuk yang telah dibubuhi bubuk serbat.