BELANDA MENYERAH KEPADA JEPANG

October 12, 2022 0 Comments

 


Di tengah berkecamuknya perang di Eropa sejak tahun 1939, pada 7 Desember 1941, Jepang mulai melancarkan agresi militer ke Asia Timur dan Asia Tenggara. Admiral Isoruku Yamamoto, Panglima Angkatan Laut Jepang, mengembangkan strategi perang yang sangat berani, yaitu mengerahkan seluruh kekuatan armada di bawah komandonya untuk dua operasi besar. Dalam ekspedisi ini seluruh potensi Angkatan Laut Jepang dikerahkan, yaitu mencakup 6 kapal induk, 10 kapal perang besar, 18  kapal penjelajah berat, 20 kapal penjelajah ringan, 4 kapal pengangkut perlengkapan, 112 kapal perusak (destroyer), 65 kapal selam serta 2.274 pesawat tempur.

Kekuatan pertama, yaitu 6 kapal induk, 2 kapal perang, 11 kapal perusak serta lebih dari 1.400 pesawat tempur menyerang basis Armada Pasifik Amerika Serikat di Pearl Harbor, kepulauian Hawaii secara mendadak pda tanggal 7 Desember 1941. Admiral Chuichi Nagumo dipercayakan memimpin armada tersebut. Sebanyak 353 pesawat tempur dan pesawat pembawa torpedo diberangkatkan dalam dua gelombang. Sebelumnya, 31 kapal selam kelas Midget telah diberangkatkan menuju Pearl Harbor dan telah siap menunggu komando untuk penyerangan. Serangan mendadak tersebut mengakibatkan kerugian yang sangat besar di pihak Amerika.

Sedangkan kekuatan kedua, sisa kekuatan Angkatan Laut yang mereka miliki, mendukung Angkatan Darat dalam Operasi Selatan, dalam penyerangan ke wilayah Filipina dan Malaya termasuk Singapura yang akan dilanjutkan ke Jawa. Kekuatan yang dikerahkan ke Asia Tenggara adalah 11 Divisi Infantri yang didukung oleh 7 resimen tank serta 795 pesawat tempur. Seluruh operasi direncanakan selesai dalam 150 hari.

Menghadapi ncaman Jepang, pada bulan Januari 1942 Sekutu membentuk ABDACOM (America, British, Dutch, Australian Command), yang kerjasamanya di Indonesia masih eksis sampai sekarang.

Melihat serbuan balatentara Dai Nippon yang nyaris tak terbendung, Gubernur Jenderal Belanda ke 64 dan yang terakhir, Tjarda van Starckenborgh-Stachouwer menugaskan gubernur Jawa Timur Charles Olke van der plas, untuk membangun jaringan bawah tanah guna melawan pendudukan tentara Jepang.

Tanggal 11 Januari 1942, Jepang menyatakan perang terhadap Belanda. Kekuasaan Jepang di India-Belanda diawali dengan pendaratan tentara mereka di Tarakan pada tnggal 11 Jnuri 1942. Pd 16 Februari, secara berturut-turut Jepang menyerang ambon, Makassar dan Banjarmasin. Kemudian Bli berhasil diduduki pada tanggal 18 Februari dan tanggal 24 Februari tentara Jepang telah menguasai Timor, seiring dengan penyerbuan ke Singapura, tanggal 13 Februari Jepang menerjunkan pasukan payung di Palembang. Dalam waktu 3 hari, mereka berhasil menguasai wilayah ini.

                                                    tentara Belanda menyerah kepada Jepang

Setelah hampir seluruh wilayah India-Belanda jatuh ke tangan tentara Jepang, sasaran terakhir dan terpenting adalah Pulau Jawa di mana pusat Pemerintahan India-Belanda dan pusat opersi militer Sekutu, ABDACOM berada. Dalam rangka pendaratan tentara Jepang di Jawa, penyerbuan diawali dengan pertempuran di Laut Jawa pada 27 Februari dan di Selat Sunda pada 28 Februari 1942. Direncanakan, pendaratan dilakukan di Teluk Banten, Eretan Wetan (dekat Cirebon), dan di Kragan (dekat pelabuhan Rembang).

27 Februari 1942, dalam pertempuran di Laut Jawa (The Battle of Java Sea) yang berlangsung selama tujuh jam, kekuatan armda laut Sekutu berhasil dilumpuhkan. Mereka harus kehilangan lima kapal perangnya, sementara armada Jepang hanya menderita kerusakan kecil dan akhirnya pda 1 Maret 1942 pukul 02:00, kapal-kapal pengangkut tentara Jepang berlabuh di Teluk Banten sesuai jadwal. Menjelang subuh, Panglima Tentara ke-16 Letnan Jenderal Hitoshi Imamura telah mendirikan Pos Komando di Ragas, 3 km utara Bojonegara. Sore harinya dia memindahkan Pos Komandonya ke Serang, tempat ia bermarkas sampai tanggal 7 Maret 1942.

Di tanggal 7 Maret 1942, Batavia telah jatuh ke tangan tentara Jepang. Dengan demikian, hanya dalam waktu satu minggu dan nyaris tanpa perlawanan yang berarti tentara Jepang berhasil menguasai seluruh kota-kota besar di Jawa.

Dibawah ncaman pemusnahan total oleh armada Jepang, akhirnya pada 9 Maret 1942 di Pangkalan Udara Kalijati, Letnan Jenderal Hein ter Poorten, Panglima Tertinggi Tentara India Belanda yang bertindak mewakili Gubernur Jenderal menandatangani dokumen pernyataan menyerah tanpa syarat. Maka, bukan saja de facto, melainkan juga de jure, seluruh wilayah bekas India-Belanda berda di bawah kekuasaan dan dministrasi Jepang. Dan pada hari itu juga Jenderal Hein ter Poorten memerintahkan kepada seluruh tentara India-Belanda untuk menyerahkan diri kepada balatentara Kekaisaran Jepang.

Menyerahkan Belanda terhadap Jepang yang nyaris tanpa perlawanan sama sekali, dengan sendirinya menghancurkan citra superior yang selama ratusan tahun dibanggakannya. Bangsa Belanda (termasuk Eropa pada umumnya) yang konon tidak terklahkan kini bersimpuh dan mengangkat tangan kepada tentara Jepang yang ada di mata mereka tergolong ras rendahan.

Sang penguasa yang telah ratusan tahun menikmati dan menguras bumi Nusantara serta menindas penduduknya, kini menyerahkan jajahannya ke tangan penguasa lain. Di atassecarik kertas, Belanda telah melepaskan segala hak dan legitimasinya atas wilayah dan penduduk yang dikuasainya kepada penjajah baru, yang ternyata tidak kalah kejam dan rakus. Oleh karena itu, tanggal 9 Maret 1942 sesungguhnya dapat pula ditetapkan sebagai tanggal berakhirnya penjajahan Belanda di Bumi Nusantara.

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard.

0 Comments: