Masa Kecil Nelson Mandela

September 24, 2020 0 Comments

 


Rolihlahla Mandela lahir pada tanggal 18 Juli 1918 di transkei, Afrika Selatan. Ayah Mandela memiliki empat orang istri. Ibu Mandela yang bernama Nosekeni Fanny adalah istri yang ketiga. Saat Mandela berumur sembilan tahun, ayahnya meninggal dunia. Sepeninggal ayahnya, ia diasuh oleh seorang kepala suku yang mempunyai kedudukan tinggi yang memasukkan Mandela pendidikan pada layanan sipil. Di perguruan tinggi inilah Mandela mengembangkan posisinya sebagai seorang nasionalis dan mulai membela hak-hak warga kulit hitam Afrika. Ia ditangkap dan dipenjarakan selama dua puluh tujuh tahun oleh rezim apartheid. Ketika pemerintah kulit putih Afrika Selatan diguncang dengan berbagai tekanan politik dari dunia Internasional, saat itulah Mandela dibebaskan dari penjara. Sekembalinya Mandela ke dunia bebas, ia mulai bekerja sama dengan pemeritah kulit putih Afrika Selatan untuk memulai transisi kekuasaan dari yang semula dikuasai mayoritas kulit putih ke tangan kulit hitam Afrika. Bersamaan dengan itu, Mandela terus meningkatkan seruannya tentang anti apartheid.

Ada sedikit cerita tentang awal kehidupan Nelson Mandela yang menunjukkan bahwa kelak ia akan menjadi pemimpin gerakan kemerdekaan dan yang akhirnya menjadi presiden negaranya. Ia lahir sebagai Rolihlahla Mandela di Afrika Selatan, tepatnya di sebuah pedesaan di desa kecil Mvezo yang terletak di tepi sungai Mbashe di provinsi Transkei. “Rolihlahla” dalam bahasa Xhosa secara harfiah diartikan sebagai “menarik cabang pohon,” tetapi maknanya lebih sering ditujukan pada arti “pembuat onar.”

Ayahnya ditakdirkan untuk menjadi kepala dan selama bertahun-tahun menjabat sebagai penasihat bagi kepala suku. Tapi selama sengketa dengan hakim kolonial setempat, ia kehilangan gelar dan kekayaannya. Rolihlahla hanya seorang bayi pada saat itu dan hilangnya status ke Qunu, desa yang terletak di utara dan lebih kecil dari desa Mvezo. Desa itu terletak di sebuah lembah berumput yang sempit. Tidak ada jalan utama yang besar, hanya jalan kaki yang menghubungkan padang rumput di mana ternak merumput. Keluarga Mandela tinggal di sebuah gubuk dan makanan sehari-hari keluarga itu berupa hasil tanaman panen yang ditanam juga oleh mayoritas penduduk desa, yaitu jagung, sorgum, labu dan kacang-kacangan. Kebutuhan air penduduk desa bersumber dari mata air dan sungai di pinggiran desa. Keluarga Mandela dan kebanyakan penduduk desa desa Qunu mengambil air dari mata air dan sungai tersebut untuk memasak dan kebutuhan sehari-hari. Aktivitas memasak bagi sebagian bear penduduk desa Qunu dilakukan di luar rumah.

Nelson kecil memainkan permainan anak laki-laki, memerankan skenario permainan laki-laki dengan mainan buatan sendiri dari bahan-bahan alami yang tersedia di sekitar rumahnya, seperti cabang-cabang pohon dan tanah liat. Atas saran dari salah satu teman ayah Rolihlahla, ia dibaptis dalam gereja  Metodis dan menjadi yang pertama dalam keluarganya untuk bersekolah. Sebagaimana kebiasaan pada waktu itu dan mungkin karena bias dari sistem pendidikan Inggris di Afrika Selatan, gurunya mengatakan kepadanya bahwa Rolihlahla akan diberikan nama baru depan nama Mandela, yaitu “Nelson.”

Ayah Nelson Mandela meninggal karena penyakit paru-paru ketika Nelson berumur sembilan tahun. Dari titik itu, hidup Nelson Mandela kecil berubah secara dramatis. Di diadopsi oleh kepala Jongintaba Dalindyebo, seorang Bupati yang memimpin rakyat Thembu. Tindakan adopsi ini dilakukan sebagai bentuk bantuan untuk ayah Nelson yang pada tahun sebelumnya telah direkomdasikan Jongintaba untuk menjadi kepala. Sepeninggal ayahnya, Nelson kecil meninggalkan kehidupannya yang riang di Qunu dan dia takut tidak akan pernah melihat desanya lagi. Dia bepergian dengan motorcar ke Mqhekezweni, ibukota provinsi Thembuland, ke kerajaan kediaman kepala itu. Meskipun ia tidak pernah bisa melupakan desa Qunu yang amat dicintainya, ia dapat dengan cepat beradaptasi dengan lingkungannya yang baru, lingkungan yang lebih canggih di Mqhekezweni.

                                                             Nelson Mandela Semasa Kecil

Mandela diberi status dan tanggung jawab yang sama sebagai dua anak bupati lainnya, yaitu justice sebagai anak yang tertua dan putri bupati yang bernama Nomafu. Mandela mengambil kelas di sekolah yang bertempat di sebelah istana. Sekolah Mandela hanya mempunyai satu ruangan. Di sekolah ini Mandela kecil dengan tekun dan penuh antusiasme mulai belajar bahasa Inggris, Xhosa, sejarah dan geografi. Selama periode ini mandela mengembangkan minatnya yang besar dalam sejarah Afrika mulai dari kepala-kepala suku tua yang datang ke Great Palace dalam rangka berbisnis.

Ia mendengar bagaimana orang-orang Afrika telah hidup relatif penuh aman dan damai sampai kedatangan orang kulit putih ke tanah mereka. Sebelum itu, para tetua mengatakan, anak-anak Afrika Selatan hidup sebagai saudara. Mereka hidup dengan tenang di tanah mereka sendiri. Tidak ada pertikaiaan maupun perselisihan yang berarti di antara anak-anak itu. Mereka bebas bermain bersama di ladang-ladang, sungai dan padang rumput bersama ternak-ternak mereka. Sepanjang hari anak-anak bermain dengan merdeka. Mereka bermain bersama dengan alam, menggunakan semua sarana bermain yang diberikan oleh alam sekitarnya.

Tetapi kedatangan orang kulit putih menghancurkan persaudaraan ini. Pria kulit hitam berbagi tanah, udara dan air dengan orang kulit putih, tetapi orang kulit putih mengambil semua ini untuk dirinya sendiri.

Banyak orang yang mengatakan bahwa Mandela adalah orang yang memang telah dipersiapkan menjadi pemimpin sejak belia. Richard Stengel, penulis biografi yang lama menemani Mandela di Transkei, selalu diingatkan oleh orang-orang di sekeliling Mandela, “Anda harus ingat bahwa dia dipersiapkan untuk menjadi pemimpin.”

Ternyata hal itu tidak sepenuhnya benar. Ada sedikit kekeliruan dalam pandangan orang-orang di sekeliling Mandala tersebut. Seperti yang telah diuraikan sebelumnya, bahwa ayah Mandela adalah seorang kepala yang ditunjuk. Dia bukan orang yang mempunyai darah asli kepala suku dan pada kenyatannya Nelson tidak akan menjadi kepala suku. Mandela tidak dalam garis langsung suksesi, disebabkan ibunya adalah istri ketiga dari ayahnya. Jadi dia tidak benar-benar seorang kepala seperti yang dipikirkan orang-orang, tetapi dia berasal dari keluarga yang akan menjadi semacam aristokrat, keluarga yang termasuk dalam golongan kelas menengah ke atas. Ketika Mandela diadopsi oleh raja dan pindah ke lingkungan desanya, ia mampu mengamati semua hal tersebut.

Tetapi ada semacam “kearistokratan” alami dalam diri Nelson Mandela dan bagian mengagumkan itu muncul ketika ia melihat pada kenyataan dan pengamatannya pada penduduk Transkei. Pribadi Mandela benar-benar sebagai aristokrat alami ketika mengamati cara mereka berjalan, cara mereka membawa diri, seperti apa cara mereka berpakaian dan apa yang mereka kenakan. Di satu sisi, Mandela adalah raja yang alami. Seluruh postur tubuhnya secara luar biasa menunjukkan bakat alaminya sebagai raja.

Apa yang membuatnya menjadi orang besar adalah keadaan yang membuat martabatnya tersinggung sepanjang waktu. Penindasan, pelecehan dan penghinaan yang dilakukan kolonial kulit putih kepada kaum kulit hitam Afrika membangkitkan nuraninya untuk melawan. Bahwa ketika ia pergi ke dunia yang lebih besar, itu tidak cocok dengan konsepsinya tentang dirinya sendiri dan ia menyadari, “jika saya merasa begitu sangat ditolak dan semuanya begitu sangat tidak adil bagi saya, pikirkan bagaimana itu harus terjadi untuk semua orang Afrika, yang tidak dapat bertahan seperti saya.” Dan itu adalah motor penggerak yang memicu jiwa Mandela. Keadaan di Afrika lah awal mula pemicu yang menggerakkan mandela untuk menjadi pemimpin besar di Afrika.

Mandela memiliki sifat kepemimpinan, mengayomi, kasih sayang dan peduli terhadap sesama. Tetapi hal itu tidak pernah benar-benar diketahui darimana sumbernya dan apa yang sebenarnya mendorong orang untuk melakukan hal hal semacam ini. Mandela muda pernah mengalami saat yang mengerikan dalam perjalanan hidupnya saat ia memiliki anak-anak kecil ketika mereka berada di Soweto. Dia akan meninggalkan anak-anaknya setiap malam atau pergi untuk jangka waktu yang lama. Ketika Mandela akan pergi, anak anaknya selalu berkata, “Ayah kenapa tidak ada disini. Aku merindukanmu. Aku kesepian.” Dia harus selalu mengatakan kata-kata buruk yang tragis kepada mereka, “Nak, ada anak-anak lain di luar sana yang kesepian dan sedih dan mereka tidak memiliki ayah yang baik. Saya juga harus memikirkan mereka, Nak.”

Apa yang membuat seorng pria mengatakan bahwa kepada anaknya, sebagai lawan kepada orang lain yang mengatakan, “aku tidak bisa meninggalkan anak saya?” dan apa yang mendorongnya merasakan itu? Hal itu adalah sedikit yang kita bicarakan dal halnya cinta kepada sesamanya, martabatnya menjadi tersinggung. Tapi itu lambat, proses yang lambat. Butuh waktu lama baginya untuk berevolusi dari orang yang merasa martabatnya tersinggung, kepada seseorang yang akan memberikan semangat kepada bangsanya yang juga merasakan ketersinggungan yang sama dengan dirinya.

Sejumlah orang mengatakan bahwa pada hari-hari awal periode umur 20 tahun, saat kedatangannya di Johannesburg ke Rivonia, Mandela awalnya sedikit udik, atau ndeso adalah salah satu kata yang sering dikatakan orang kampungan, kata seorang wanita di Soweto. Sedangkan sebagian yang lain mengatakan bahwa sebenarnya dia itu dandy.

Mandela memiliki keyakinan diri yang besar, tetapi dalam waktu yang sama dia juga memiliki beberapa perasaan ketidaksamaan yang berasal dari pengalamannya ketika masa kana-kanak dan ketika ia pertama kali pergi ke Johannesburg. Jadi ini dua hal yang saling bekerja sama. Dia memahami betul janis-jenis bujuk rayu dan sanjungan, karena sebenarnya dia sangat rentan terhadap sanjungan dan pujian yang diberikan kepadanya. Ini adalah jenis rudal yang tepat mengarahnya, dengan menyanjungnya, karena menegaskan dengan cara rasa harga diri. Jadi dia sangat pandai menggunakannya dan melepaskan diri pada waktu yang sama.

Mandela pernah bercerita kepada Stengel tentang asal muasal perasaan ketidakamanan dalam dirinya. Ketika dia masih kanak-kanak di Qunu, ada toko kulit putih di perbukitan di sekitar kota. Pada suatu hari Mandela kecil pernah datang ke sana untuk membeli sesuatu untuk ayahnya dan dia berkata kepada Stengel, “Oh, orang kulit putih, pemilik toko bagaikan dewa bagiku.” Dapatkah anda bayangkan Nelson Mandela mengatakan bahwa beberapa pemilik toko orang kulit putih miskin di Transkei seperti dewa baginya? Tapi dia berkata tulus tentang hal itu. Perasaan ketidakamanan Mandela berasal dari masa kanak-kanak tersebut dan tidak ada bahkan dewa sekalipun akan memiliki perasaan tidak aman jika dibesarkan dalam situasi yang sama seperti Mandela, dimana ia diperlakukan sebagai sesuatu yang paling rendah dan paling hina. Jadi percampuran antara harga diri dan kepercayaan diri ini diseimbangi oleh beberapa perasaan ketidakamanan yang ada pada diri Mandela.

 

 

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard.

0 Comments: