Friday, 27 October 2017

BUNG KARNO MELAMAR RAHMI TENGAH MALAM


Di Palestina ada Yasser Arafat, di Indonesia ada Mohamad Hatta. Keduanya sama-sama “wadat”, berikrar tidak akan menikah sebelum negaranya merdeka. Karenanya, Bung Karno, dalam suatu kesempatan yang rileks pasca kemerdekaan, menanyakan tentang calon pasangan hidup. Setidaknya karena dua alasan. Pertama, sudah merdeka. Kedua, usia Hatta tidak muda lagi, 43 tahun.
Hatta tidak menampik topik melepas masa lajang. Terlebih, Bung Karno pun menyatakan siap menjadi mak comblang, bahkan melamarkan gadis yang ditaksirnya. Ketika Bung Karno bertanya kepada Hatta ihwal gadis mana yang memikat hatinya, hatta menjawab, “Seorang gadis yang kita jumpai waktu kita berkunjung ke Institut Pasteur Bandung. Dia begini, begitu tapi saya belum tahu namanya.”
Usut punya usut, selidik punya selidik, gadis Parahyangan yang ditaksir hatta adalah putri keluarga Rahim (Haji Abdul Rahim). Maka, ketika kira-kira sebelum setelah proklamasi Bung Karno berkunjung ke Bandung, ia sempatkan mampir ke rumah keluarga Rahim di Burgermeester Koops Weg atau yang sekarang dikenal sebagai Jl. Pajajaran No 11. Di sana, Bung Karno bertamu hampir tengah malam, pukul 23:00 sebuah jam bertamu yang sangat tidak lazim.
Meski sempat diingatkan ihwal jam yang menunjuk tengah malam, tapi Bung Karno tetap keukeuh bertamu malam itu juga. Ia berdalih, tidak menjadi soal, karena ia kenal baik dengan keluarga Rahim. Persahabatan lama yang telah terjalin sejak Bung Karno kulaih di THS (sekarang ITB) Bandung. Apa lacur, setiba di rumah keluarga Rahim, ia disambut dampraatan dari Ny. Rahim. Sebuah dampratan antar teman, mengingat Bung Karno datang bertamu tidak kenal waktu.
Untuk mereda dampratan tadi, dipeluklah Ny. Rahim dan diutarakanlah niatnya. Mendapat pelukan bersahabat dari Bung Karno, serta tutur kata lembut dari sang tamu tengah malam, luluhlah hati Ny Rahim dan membiarkan Bung Karno dan rombongan kecilnya masuk dan duduk di ruang tamu.
“Saya datang untuk melamar,” kata Bung Karno. Nada bicaranya pelan, tetapi sangat serius dan atas pernyataan Bung Karno, Tuan dan Ny. Rahim bertanya serempak, “Melamar siapa? Untuk siapa?” memang tidak terucap, tapi bukan tidak mungkin keduanya sempat berpikir Bung karno naksir salah satu putri mereka dan berniat mengambilnya menjadi istri kedua.
Sebelum suasana menjadi kikuk dan salah paham, Bung Karno tersenyum simpatik sekali dan segera menjawab, “Melamar Rahmi untuk Hatta.” Dan benar, begitu Bung Karno mengutarakan niatnya, melamar putri Rahim untuk Hatta sahabatnya yang juga Wakil Presiden, suasana di ruang tamu memang menjadi cair.


Dalam kisah lain diceritakan, Rahmi kemudian dipanggil orangtuanya, serta diutarakanlah maksud dan tujuan Bung Karno datang, yakni melamarnya menjadi istri Hatta. Disebutkan, adik Rahmi, yang bernama Titi, sempat mmemengaruhi Rahmi supaya menolak lamaran Bung Karno, dengan alasan, Hatta jauh lebih tua dari Rahmi. Sampai pada titik ini, Rahmi dikabarkan sempat bimbang. Ragu antara mau dan tidak mau.
Namun, berkat “rayuan” Bung Karno pula akhirnya Rahmi menerima pinangan tadi. Dengan pilihan kalimat yang bijak, dengan pendekatan personal, Bung Karno meminta Rahmi melihat Fatmawati yang juga berbeda usia cukup jauh dengan Bung karno, tetapi toh mereka bahagia. Bahwa kebahagiaan tidak bisa diukur dari perbedaan usia antara suami dan istri. Panjang lebar Bung Karno meyakinkan Rahmi agar bersedia menerima cinta Hatta.

Akhirnya hati Rahmi menjadi luluh dan bersedia mengabdi menjadi istri yang setia bagi Mohammad Hatta. Meski dari dimensi religi, jelas jodoh mutlak ada di tangan Tuhan. Tidak ada satu manusia pun yang bisa menentukan takdir jodoh seseorang. Itu artinya, Bung Karno hanyalah perantara, namun bersandingnya Hatta dan Rahmi sebagai suami-istri mutlak karena takdir Tuhan Yang Mahakuasa.
Alkisah, Hatta dan Rahmi resmi menikah di Megamendung pada 18 November 1945. Pernikahan mereka hanya disaksikan keluarga besar Rahim, keluarga besar Bung Karno dan Fatmawati. Sebuah pernikahan yang sederhana untuk ukuran seorang Wakil Presiden dan putri keluarga Rahim yang terpandang di kota kembang.



Dari pernikahan itu, lahirlah putri pertama mereka, Meutia Farida yang lahir di Yogyakarta 21 Maret 1947. Nama Meutia datang dari neneknya yang asli Aceh. Sedangkan Farida diambil dari nama permaisuri Raja Farouk dari Mesir yang cantik jelita. Setelah itu, disusul kelahiran putri keduanya, Gemala dan putri ketiga Halida Nuriah.

No comments:

Post a Comment

PEMBANTAIAN MASSAL DI PABRIK GULA REJOSARI

Pada pukul 03:00 dini hari tanggal 18 September 1948, tangsi Polisi Gorang Gareng diserang beribu-ribu laskar FDR/PKI. Mereka membawa senj...