Friday, 27 October 2017

BUNG KARNO VS EISENHOWER


Sikap Bung Karno yang tegas dalam politik luar negeri, membuat AS tidak nyaman. Karena itu pula, dalam sejarah perjalanan bangsa di bawah kepemimpinan Bung Karno, hubungan Indonesia dan AS bisa diilang tidak mesra. Pada dasarnya, Bung Karno sendiri anti kapitalisme-liberalisme, tetapi dia juga bukan seorang komunis. Soekarno hanyalah seorang nasionalis, bahkan ultra nasionalis.
Dalam hubungan disharmonis antara Indonesia-Amerika Serikat, tergambar dalam ketegangan hubungan antara Presiden Soekarno dan Presiden Dwight D. Eisenhower (1953-1961). Suatu hari di tahun 1960, Bung Karno diundang ke Wasington. Tapi apa yang terjadi? Sesampai di Washinngton, Eisenhower tidak menyambutnya di lapangan terbang. Bung Karno Cuma membatin, “Baiklah.” Bahkan ketika Bung Karno samapi di gedung putih, Einsenhower pun tidak menampakkan batang hidungnya. Untuk itu pun, Bung Karno masih membatin, “Baiklah.”
Akan tetapi, ketika Eisenhower membuat Bung karno menunggu di luar, di ruang tunggu, menanti dalam waktu yang tak pasti, hati Bung Karno terbakar “keterlaluan” gumam Bung Karno, geram. Tapi  toh Bung Karno, sebagai tamu negara, Negara Adi Kuasa, masih bisa bersabar. Meski amarah membuncah, tetapi emosi tetap terkendali.

Menit terus bergulir, melampaui angka yang ke-60. Itu artinnya, sudah lebih satu jam Bung Karno menunggu di ruang tunggu, tanpa tahu kepastian kapan Presiden Eisenhower akan datang menemui tamunya. Habis sudah kesabaran Bung Karno. Ia bangkit dari duduk dan sendiri menghampiri kepala protokol dan berkata tajam, “Apakah saya haru menunggu lebih lama lagi? Oleh karena, kalau harus begitu, saya akan pergi sekarang juga!”
Kepala bagian protokol Gedung Putih itu pucat dan memohon Bung Karno menahan barang satu-dua menit. Sejurus kemudia, keluarlah Eisenhower. Apakah itu melegakan hati Bung Karno? Tidak sepenuhnya.
Bung Karno masih kecewa. Rasa kecewa itu makin dalam, ketika Eisenhower sama sekali tidak meminta maaf. Bahkan ketika mengiringkan Bung Karno masuk ke ruang utama Gedung Putih, tidak ada juga kata maaf dari Eisenhower kepada tamu negara dari RI, Soekarno yang sedang memendam perasaan dongkol.
Itu kali pertama Bung Karno merasakan “dihina” Presiden Eisenhower. Rupanya tidak berhenti di situ. Ada peristiwa kedua yang dianggap Bung Karno merupakan penghinaan yang lain, yaitu ketika Eisenhower berkunjung ke Manila, Filipina dan dia menolak untuk bekunjung ke Indonesia. “Boleh dikata dia sudah berada di tepi pagar rumahku, dia menolak mengunjungi Indonesia,” ujar Bung Karno, seperti dituturkan kepada Cindy Adams.
Karenanya, Eisenhower bukan “sahabat” yang baik di mata Soekarno. Dalam penuturan di otobiografinya, Bung Karno pun secara tersirat dan tersurat menampakkan hubungan yang tidak harmonis, antara dirinya dan Eisenhower. Contoh kecil, manakala pembicaraan politik dan hubungan bilateral kedua negara dirasa tidak produktif, keduanya justru ngobrol tentang film dan aktor-aktris kesayangan masing-masing. Sebuah indikasi yang jelas, keduanya memang “tidak nyambung”. Keduanya berada pada kutub yang berbeda dalam banyak hal.
Dalam dua kali kunjungan Bung Karno ke Amerika di era Eisenhower. Yang tampak memang sebuah ketimpangan. Bung Karno menawarkan persahabatan, tetapi Amerika menjabatnya separuh niat. Ketika Bung Karno melanjutkan lawatan ke Blok Timur, pers Amerika langsung menuding, “Lihat, Bung Karno mendekati negara komunis!”

Sejarah juga mencatat, di bawah kepemimpinan Eisenhower, dengan Menlu dan Direktur CIA dua “Dulles” kakak-beradik, kebijakan Amerika Serikat kepada Indonesia memang terasa timpang. Indonesia dicap sebagai sebuah negara yang condong ke komunis. Stigma itu diperkuat oleh laporan Direktur CIA, Allen Welsh Dulles dan Menteri Luar Negeri AS, John Foster Dulles kepada Eisenhower. Dua petinggi Amerika kakak-beradik itu pula yang secara langsung paling bertanggung jawab atas dukungan terhadap aksi pemberontakan di tanah Air. Atas kebijakan kedua Dulles itu pula, Amerika Serikat mendukung aksi makar PRRI/Permesta dan berbagai aksi pemberontakan di Tanah Air dengan tujuan menggulingkan Soekarno.

Bung Karno tahu betul taktik licik Amerika Serikat. Terlebih setelah penerbangan CIA, Allen Pope berhasil ditembak jatuh. Dialah penerbang Amerika yang ikut menyerang sejumlah instalasi vital di Tanah Air. Pope adalah warga negara Amerika, menerbangkan pesawat tempur Amerika, berangkat dari pangkalan militer Amerika di Filipina, dengan tujuan membantu PRRI/Permesta.

No comments:

Post a Comment

PEMBANTAIAN MASSAL DI PABRIK GULA REJOSARI

Pada pukul 03:00 dini hari tanggal 18 September 1948, tangsi Polisi Gorang Gareng diserang beribu-ribu laskar FDR/PKI. Mereka membawa senj...