Thursday, 26 October 2017

KU ANTAR KE GERBANG


Inilah sekelumit kisah asmara Soekarno dan Fatmawati. Begitu unik. Begitu membara. Begitu dalam. Berikut ini adalah sepenggal kalimat cinta Bung Karno kepada Fatmawati, melalui sepucuk surat cintanya tertanggal 11 September 1941.... o, Fatma, jang menjinarkan tjahja. Terangilah selaloe dijalan djiwakoe, soepaja sampai dibahagia raja. Dalam swarganya tjinta-kashimoe
Pertalian cinta terjadi saat Bung karno diasingkan di Bengkulu, setelah sebelumnya menjadi buangan di Ende, Flores, empat tahun lamanya. Ketika itu, tentu saja. bung Karno sudah beristrikan Inggit Garnasih dan tidak dikaruniai putra. Tetapi, bukan Bung Karno kalau tidak berjiwa ksatria. Meski harus mengorbankan hubungan yang begitu baik, tetapi niat menyunting gadis bernama asli Siti Fatimah itu, toh tetap diutarakan juga kepada Inggit.
Sepulang dari pengasingan di bengkulu, Bung Karno selalu murung. Ia benar-benar dilabrak demam cinta. Anak angkatnya, Ratna Juami dan suaminya, Asmara Hadi, mengetahui bahwa Bung Karno sedang demam cinta, demam rindu kepada Fatmawati nun di Bengkulu sana. Ratna dan Asmara Hadi pula yang memohon-mohon kepada Inggit agar merelakan Bung Karno menikahi Fatmawati.
Inggit keukeuh menolak dimadu, dia menyepakati perceraian. Pertikaian itu sudah terjadi saat keduanya di Bengkulu. Saat benih-benih cinta antara Bung Karno dan Fatma bersemi, Inggit turut merasakannya. Terlebih ketika dalam suatu massa, anak angkat mereka Ratna Juami terpaksa harus ke Jawa untuk melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Omi, begitu ia biasa dipanggil, melanjutkan sekolah ke perguruan Taman Siswa di Yogyakarta.
Adalah Inggit yang harus mengantar Omi ke Yogya. Sebab, Bung Karno sebagai seorang tahanan, tidak mungkin bisa meninggalkan Bengkulu. Nah, saat Inggit mengantar Omi ke Yogya, bahkan kemudian sempat singgah di Bandung menjumpai keluarganya, tanpa sadar jalinan kasih Bung Karno dan Fatma kian bersemi.
Hal itu dirasakan pula oleh Inggit sekembali dari tanah jawa. Sejumlah perabot rumah tangga sudah berubah posisi. Beberapa pembantu di rumah itu, memiliki tatapan aneh, seperti menyimpan suatu rahasia terkait hubungan asmara Bung Karno dan Fatma. Saat-saat seperti itukah sering terjadi pertengkaran hebat antara Bung Karno dan Inggit.
Pertengkaran mereka terbawa hingga ke Jakarta. Bung Karno bahkan tidak mengelak, sebaliknya justru menyatakan suatu keharusan baginya untuk menikah lagi. Sebab ia sangat mendambakan keturunan. Terkait Fatmawati, Bung Karno bahkan pernah berujar kepada Inggit, untuk mencarikan wanita yang menurut Inggit pas sebagai istrinya. Jika Inggit mencarikan istri buatnya, maka Bung Karno rela melupakan Fatmawati.
Alhasil, sama sekali tidak tercapai titik temu. Keduanya sepakat berpisah baik-baik. Inggit pun menyatakan niat dan keputusanya kembali ke Bandung. Hari terakhir bersama Bung Karno di Jakarta, Inggit menyempatkan diri ke dokter gigi. Bung Karno masih setia menemani. Bahkan ketika bertolak ke kota Kembang, Bung Karno pun turut serta mengantar. Setiba di Bandung, Bung Karno bahkan turut membngkar barang-barang Inggit. Setelah mengecek dan memastikan tidak ada sesuatu yang tertinggal, Bung Karno pun mengucapkan selamat tinggal kepadanya.
Bulan Juli 1943, Bung Karno menikahi Fatmawati. Sebuah pernikahan yag sangat unik. Bung Karno di Jakarta, sedangkan Fatmawati ada di Bengkulu. Bagaimana mungkin? Mungkin. Karena Bung Karno menikahi Fatmawati secara nikah wakil. Sebab, kalau harus mengurus perizinan ke Jakarta untuk Fatma dan seluruh keluarganya, pada saat itu, sangat musykil. Di sisi lain, karena tuntutan pergerakan dan perjuangan, Bung Karno pun tidak mungkin meninggalkan jakarta ke Bengkulu untuk menikah. Selain itu, Bung Karno merasa, tidak mungkin bisa menahan lebih lama lagi untuk menikahi Siti Fatimah yang kemudian diubah namanya oleh Bung Karno menjadi Fatmawati.
                                                         Bung Karno dan Fatmawati

Menurut hukum Islam, perkawinan dapat dilangsungkan, asal ada pengantin perempuan dan sesuatu yang mewakili mempelai laki-laki. Maka, Bung Karno segera berkirim telegram kepada seorang kawan akrabnya di Bengkulu dan memintanya menjadi wakil Bung Karno menikahi Fatmawati. Kawan Bung Karno ini pun bergegas ke rumah Fatmawati dan menunjukkan telegram dari Bung Karno. Orang tua Fatmawati, dalam hal ini hasan Din sang ayah, menyetujui gagasan itu.
Alkisah, pengantin putri dan seorang laki-laki yang menjadi wakil Bung Karno pergi menghadap penghulu. Mereka melangsungkan pernikahan, sekalipun Fatmawati ada di Bengkulu dan Bung Karno di Jakarta. Usai prosesi pernikahan, keduanya sudah terikat tali perkawinan. Sah dan resmi secara agama dan hukum negara.
Laksana takdir, jodoh di tangan Tuhan, maka itu pula yang terjadi terhadap pasangan ini. Benih-benih cinta yang bersemi di lokasi pembuangan. Cinta berpaut saat Jepang menggasak Belanda dan Belanda berniat mengungsikan Bung Karno ke Australia dan akhirnya, pernikahan terjadi saat Jepang berkuasa dan Bung Karno terlibat pergulatan yang intens menuju saat-saat Indonesia merdeka.
Kisah cinta Fatmawati dan Bung Karno pernah difilmkan oleh Guruh Soekarno Putra dengan judul Tjinta Fatma. Tayangan film TV berdurasi 90 menit itu, digarap dengan biaya Rp400 juta. Betapa pun, hubungan cinta Bung Karno dan Fatma, adalah perpaduan antara cinta bersemi yang natural, percintaan platonis yang klasik, serta “pernikahan telegram” yang unik.



No comments:

Post a Comment

PEMBANTAIAN MASSAL DI PABRIK GULA REJOSARI

Pada pukul 03:00 dini hari tanggal 18 September 1948, tangsi Polisi Gorang Gareng diserang beribu-ribu laskar FDR/PKI. Mereka membawa senj...