Thursday, 26 October 2017

KEMESRAAN BUNG KARNO DAN KENNEDY


Berikut sederet foto, sejumput kenangan, kemesraan Bung Karno dan John F. Kenndedy. Di mata Soekarno, hanya Kennedy presiden AS yang “mengerti” dan “menghormati” Indonesia, di saat Blok Barat dan Blok Timur tebar pesona meraih simpati dari negara-negara yang baru merdeka, termasuk Indonesia. Kepada Bung Karno di Amerika Serikat, Kennedy berjanji akan berkunjung ke Jakarta. Sayang, pembunuh keji telah memupus nyawa Kennedy, memupus sejaarah hadirnya Kennedy di Indonesia.
Sedikit mengilas balik hubungan Soekarno-Kennedy, makin intens karena di antara keduanya memang terjalin komunikasi yang intens dan positif. Bahkan, Kennedy menilai Soekarno bukan sebagai seorang “kiri” seperti dituduhkan presiden AS sebelumya.

Kennedy menilai Soekarno seorang nasionalis dan dunia memerlukan kekuatan nasionalis. Karena itu pula, Kennedy tampak mendukung semua kebijakan Bung Karno, termasuk dengan proyek non blok yang digalang Bung Karno dan mendapat dukungan negara-negara Asia dan Afrika.
Puncak dukungan AS terjadi pada KTT Non Blok tahun 1961 di Beograd, Yugoslavia. Pada akhir konferensi, KTT mengutus dua tokoh untuk menghubungi pemimpin dua negara adikuasa. Nehru, Perdana Menteri India diutus menemui pimpinan Rusia, Nikita Kruschev, sedangkan Soekarno, diutus KTT menemui J.F. Kennedy, presiden AS.

Alkisah, sebulan setelah pulang dari Beograd, Bung Karno kembali menyiapkan lawatan ke AS, demi memenuhi tugas KTT Non Blok, untuk menjumpai Kennedy dan menyampaikan hasil-hasil KTT. Tujuannya jelas, baik Nehru maupun Bung Karno adalah ingin mendapatkan “pengertian” dari Blok Barat dan Timur, bahwa di luar kedua blok dengan ideologi yang salinng bertentangan itu, terdapat satu kutub: Non Blok.
Ajudan bung Karno, Bambang Widjanarko menuturkan, kunjungan Bung Karno ke AS berjalan sangat mulus. Ia diterima di White House dengan sanagt terhormat. Kedua tokoh yang baru pertama kali bertemu itu, tampak langsung terlibat pembicaraan dalam suasana yang hangat dan akrab. Tak ayal, tujuan mendapatkan pengertian dari Kennedy, tak sulit buat didapat.

Singkatnya, Kennedy memahami benar semua hal yang disampaikan Bung Karno, terkait hasil-hasil KTT Non Blok di Beograd. Kennedy disebut-sebut Bung Karno sebagai seorang demokrat progresif. Karena itu pula Kennedy dapat menerima penjelasan Bung Karno dengan baik.
Di luar soal penjelasan hasil-hasil KTT Non Blok, ternyata Bung Karno juga melakukan apa yang diistilahkan “sambil menyelam minum air”. Dikisahkan, pembicaraan tentang KTT Non Blok disebut-sebut hanya seperempat bagian dari keseluruhan waktu pertemuan keduanya. Adapun tiga per empat lainnya, justru dimanfaatkan Bung Karno untuk kepentingan Indonesia.
Satu hal yang ketika itu coba di endorse Bung Karno adalah soal Irian Barat. Bung Karno menghendaki agar AS menekan Belanda. Secara prinsip,Bung Karno mendapatkan komitmen Kennedy, bahwa Irian barat harus kembali ke pangkuan RI. Kennedy menyetujui pendapat dan penjelasan Bung Karno dan menjanjikan akan berusaha ke arah tercapainya hal tersebut (kembalinya Irian Barat ke RI).
Hari-hari lawatan Bung Karno ke AS tahun 1961, sangat berbeda dengan nuansa kunjungan Bung Karno yang pertama ke AS tahun 1956 dan yang kedua tahun 1960, di masa kepemimpinan Presiden Dwight Eisenhower. Eisenhower terbilang angkuh dan memandang sebelah mata Bung Karno. Bahkan, Eisenhower mencurigai Soekarno sebagai “pro komunis”.
Sebaliknya, kunjungan Bung Karno tahun 1961 sangat memuaskan. AS dipimpin J.F. Kennedy dari Partai Demokrat, menggantikan Eisenhower dari Republik. Kebijakan politik Kennedy juga dinilai sangat bersahabat.

Karena itu pula, spontan Bung Karno mengundang Kennedy menjadi tamu pemerintah dan rakyat Indonesia. Atas undangan itu, Kennedy pun sudah menyatakan setuju. Waktunya, ditentukan kemudian.
Bung Karno begitu “jatuh hati” pada Kennedy yang bersahabat. Karenanya, sekembali dari lawatan ke AS, Bung Karno langsung memerintahkan sekretariat negara untuk membuat rencana pembangunan Guest house di dalam komplek Istana Jakarta.
Arsitek Darsono merupakan tangan kanan Bung Karno dalam perencanaan dan pembangunan Guest House itu. Bung Karno menyatakan secara terang-terangan keinginannya agar Presiden Kennedy menjadi tamu pertama yang menginap di Guest House Istana tersebut. Sebab, memang untuk dan karena Kennedy lah bangunan Guest House itu dibangun. Rupanya, Tuhan menghendaki lain. Belum sempat Kennedy berkunjung ke Indonesia, belum sempat ia menginap di Guest House yang dipersiapkan untuknya, ia terbunuh di Dallas, Texas, pada 22 November 1963, oleh seorang pembunuh yang bernama Lee harvey Oswald. Namun hingga kini, misteri pembunuhan Kennedy masih tebal menyelimuti. Tak heran bila yang berkembang adalah beberapa versi.
Cerita selanjutnya pun menjadi berbelok arah. Presiden Lindon B. Johnson pengganti Kennedy, memiliki pandangan dan strategi politik yang berlainan dengan Kennedy, meskipun keduanya berasal dari latar belakang politik yang sama, Partai Demokrat. Perbedaan pandangan dan sikap itu termasuk dalam soal Irian Barat, di mana Johnson justru lebih memihak Belanda. Inilah yang membuat Bung Karno gusar.


No comments:

Post a Comment

Kontroversi Seputar Kepemimpinan Soeharto

Soeharto memang penuh kontroversi. Dari mulai penyerahan Supersemar atau Surat Perintah 11 Maret di tahun 1966 sampai kemudian memang...