Wednesday, 25 October 2017

RAPAT GELAP BUNG KARNO-TAN MALAKA


Hingga hari ini Tan Malaka tetap menyimpan misteri. Tidak satu pun catatan sejarah yang menafikan peran Tan Malaka dalam perjuangan memujudkan Indoensia merdeka. Bahkan sejarah juga mengungkap, Tan Malaka lah tokoh progresif revolusioner pertama yang mencatatkan gagasann Indonesia Merdeka pada tahun 1925, melalui tulisan berjudul Naar de Republiek Indonesia (menuju Republik Indoenesia). Itu artinya, gagasan dia mendahului ide merdeka yang ditulis Mohammad Hatta, dalal artikel berjudul Indonesia Vrije (Indonesia Merdeka) sebagai pleidoi di depan pengadilan Belanda di Den Haag (1928). Bahkan, jauh mendahului ide “merdeka” Bung Karno, yang menulis Menuju Indonesia Merdeka pada tahun 1933.
Yang menarik, sejumlah kalangan menganggaap, Tan Malaka sebagai Che Guevara-nya Indonesia. Dia pula yang berperan besar menggerakkan massa pada rapat akbar di lapangan Ikada pasca proklamasi kemerdekaan, tepatnya 19 September 1945. Sekalipun, tokoh-tokoh pemuda revolusioner “Menteng 31” seperti Chaerul Saleh, BM Diah, Sukarni, Sjarif Thajeb, Wikana dan lain-lain. Sejak itu, garis pro kemerdekaan dan pro status quo jadi tampak nyata. Gerakan menentang Jepang pun marak di mana-mana. Api revolusi, euforia kemerdekaan menyeruak di setiap dada pemuda Indonesia.
Dari suatu catatan sejarah, tertoreh catatan adanya “rapat gelap” empat mata antara Bung Karno dan Tan Malaka, awal September 1945, di malam takbiran, menjelang Idul Fitri pertama pasca kemerdekaan. Saksi penutur adalah Dr. R. Soeharto, yang tak lain adalah dokter pribadi Bung Karno. Kebetulan, rumah Soeharto di Jl. Kramat Raya 128 Jakarta Pusat itu pula yang dijadikan ajang pertemuan dua tokoh kemerdekaan kita.
Wanti-wanti Bung Karno kepada Soeharto adalah, selama pertemuan berlangsung, semua lampu harus dimatikan. Benaar-benar rapat gelap dalam arti harfiah. Intinya, pertemuan itu sangat dirahasiakan. Anehnya, Soeharto sendiri tidak tahu, siapa “lawan rapat gelap” Bung Karno. Sebab ketika datang diantar Sayuti Melik, si tokoh itu memperkenalkan diri sebagai Abdulrajak dari Kalimantan.
Setahun kemudian, 1946, Soeharto baru tahu bahwa Abdulrajak adalah Tan Malaka dan rapat malam itu ternyata membahas sesuatu yang penting dalam catatan sejarah pergerakan. Sebab, pertemuan keduanya membahas tentang siapa yang akan memegang pimpinan nasional, seandainya Bung Karno dan Bung hatta secara fisik tidak dapat melanjutkannya karena dibunuh atau ditawan pihak Jepang, Belanda atau Sekutu.
Dalam kegelapan malam, Tan Malaka usul kepada Bung Karno, agar dirinyalah yang ditunjuk sebagai pewaris tunggal. Bung Karno dalam beberapa kesempatan, secara terbuka memuji Tan Malaka sebagai tokoh yang mahir dalam pergerakan revolusi serta melakukan pergerakan-pergerakan dan penggalangan massa. Sekalipun begitu, ia tidak serta-merta menyetujui Tan Malaka. Sekalipun begitu, Bung Karno juga sadar, bahwa “pewaris revolusi” harus disiapkan, guna melanggengkan proklamasi 17 Agustus 1945, guna melanggengkan gerakan perjuangan mempertahankan kemerdekaan, guna tegaknya sang saka merah putih berkibar di Bumi Indonesia.
Kesimpulan rapat di kegelapan malam itu adalah, Bung Karno akan membuat testamen berisikan penunjukkan siapa yang akan meneruskan pimpinan nasional, jika terjadi hal-hal seperti dikhawatirkan di atas, itu artinya, Soekarno menyadari dan menyetujui gagasan Tan Malaka ihwal pewaris revolusi, jika terjadi Bung Karno-Bung hatta dibinasakan Belanda. Mengingat pertemuan itu tidak tuntas, maka diputuskanlah pertemuan kedua.
Pertemuan kedua dilangsungkan di rumah Mr. Subardjo, yang memasang sudah dikenal baik oleh Tan Malaka. Dalam kesempatan itu, Bung karno tidak datang sendiri, melainkan mengajak serta Wakil Presiden Bung Hatta. Setidaknya kita bisa menangkap pesan yang jelas, bahwa “pewaris jalannya revolusi jika sewaktu-waktu dwitunggal terbunuh, memang diperlukan demi kelangsungan Republik Proklamasi 17 Agustus 1945.
Akhirnya, dalam rapat kedua itu diputuskan dan disepakati empat nama penerus tampuk pimpinan nasional, jika Bung Karno-Bung Hatta terbunuh, ditawan atau tidak dapat menjalankan tugasnya sebagai presiden dan wakil presiden. Adapun keempat nama itu adalah: Tan Malaka, Mr. Iwa Kusuma Sumantri, Sjahrir dan Mr. Wongsonegoro.
Masuknya nama Sjahrir dan Wongsonegoro atas usul hatta, alasannya Sjahrir penya pengaruh di kalangan terpelajar, di samping memang bersahabat dekat dengan Hatta. Sedangkan Wongsonegoro dikenal kalangan pangreh praja atau dikenal luas di kalangan birokrasi. Nama Iwa Kusumasumantri atas usul Mr. Subardjo, karena tokoh Pasundan ini memang dikenal berpengaruh luas di kalangan buruh dan suku Sunda.
Di kemudian hari, Bung Hatta mengakui ihwal hubungan personalnya dengan Tan Malaka yang disebutnya sebagai “tidak baik”. Karenanya, atas statemen Tan Malaka yang mengatakan bahwa ia tidak bersahabat dengan hatta, memang dibenarkan oleh Hatta. Bisa jadi, karena itu pula, Bung Karno dan Bung Hatta tidaklah mungkin menyerahkan kekuasaan pimpinan nasional kepada tan Malaka seorang.
                                                                                 


No comments:

Post a Comment

PEMBANTAIAN MASSAL DI PABRIK GULA REJOSARI

Pada pukul 03:00 dini hari tanggal 18 September 1948, tangsi Polisi Gorang Gareng diserang beribu-ribu laskar FDR/PKI. Mereka membawa senj...