Friday, 27 October 2017

NYARIS DIBANTAI NICA, BUNG KARNO DISELAMATKAN TENTARA INDIA


Pasca proklamasi, suasana Ibukota dari hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan terasa kian genting. Keterpurukan Jepang dari Sekutu, serta belom adanya perintah menyerah dari Kaisar, membuat serdadu Jepang yang ada di Indonesia frustasi. Dalam situasi seperti itu, Sekutu kembali mendarat di Bumi Pertiwi, hendak mengoyak-ngoyak kemerdekaan yang sudah diproklamirkan Bung Karno dan Bung Hatta, atas nama rakyat Indonesia, pada 17 Agustus 1945.
Syahdan, sebelum Bung Karno dan Bung Hatta akhirnya memutuskan hijrah ke Yogyakarta tahun 1946, sebelumnya telah dipicu oleh sebuah peristiwa upaya pembantaian terhadap Bung Karno oleh para tentara Sekutu gabungan di Jl. Kramat, Jakarta Pusat. Seperti pada serpihan sejarah yang lain, bahwa tekad Belanda setelah mendarat kembali ke bumi Indonesia dengan membonceng Sekutu, adalah  meringkus Bung Karno, hidup atau mati.

Peristiwa bermula ketika pada suatu hari, Bung Karno hendak mengunjungi dokter pribadinya, dr. R. Soeharto yang beralamat di Jl. Kramat 128, jakarta Pusat. Apa lacur, ketika hendak mencapai tujuan, sekelompok tentara Sekutu mencegat mobil Oldsmobile yang membawa Bung Karno. Mereka langsung mengepung dan mengarahkan senapan berbayonet ke arah mobil Soekarno. Senapan itu telah dikokang sebelumnya. Itu berarti, peluru setiap saat bisa dimuntahkan guna membinasakan proklamator kita.
Peristiwa itu, sontak menggegerkan masyarakat di sekitar Kramat yang melihatnya. Kabar tersebar begitu cepat, laksana tertiup angin. Salah satu menerima kabar adalah Tabib Sher seorang tabib asal asal India yang membuka praktik di Jl. Senen Raya, tak jauh dari Jl. Kramat Raya. Kebetulan, saat kabar diterima oleh dia, di situ tengah berkumpul para serdadu Sekutu yang beretnis India muslim.
Tabib Sher yang memang pro-kemerdekaan Indoneai dan juga pendukung Soekarno, kontan mengajak para serdadu Sekutu India Muslim dan sejumlah pejuang, menuju TKP. Moral ajakan Tabib Sher cukup jelas, yakni meminta bantuan para serdadu Sekutu keturunan India muslim, untuk mencegah rekan tentara Sekutu yang sedang mengancam nyawa Soekarno.
Maka yang terjadi adalah sebuah pemandangan sengit, ketika tentara Sekutu India Muslim menodongkan senapannya ke arah rekan tentara Sekutu gabungan Inggris dan Belanda. Tentara Sekutu Belanda dan Inggris diperintahkan meletakkan senapan dan mengangkat tangan. Perang mulut tak terhindarkan di antara sesama pasukan Sekutu tetapi beda kewarganegaraan. Sekutu Belanda-Inggris semula bersikukuh hendak menghabisi, setidaknya merangsek, menangkap Bung Karno sebagai “musuh nomor satu”.
Akan tetapi, tentara Sekutu etnis India Muslim mengokang senapan dan siap berbaku tembak. Ciut nyali serdadu Belanda-Inggris, dan  mereka mundur teratur  sambil melontarkan sumpah serapah. Mundurnya tentara Sekutu Belanda-Inggris tadi, diikuti gerakan serdadu Muslim dengan tetap menodongkan senapannya agar menjauh...makin jauh...makin jauh dari posisi mobil berisi Bung Karno.

Dr. Soeharto yang menyaksikan dari depan rumahnya, segera menghambur menjemput Soekarno dari dalam mobil, manakala dilihat tentara Nica mundur teratur. Bung Karno segera keluar mobil dan menuju rumah dr. Soeharto yang tak jauh dari lokasi kejadian. Setelah situasi mereda, diketahuilah, bahwa tentara-tentara Nica yang jengkel dan kecewa karena digagalkan merengsek Soekarno, melampiaskan amarahnya pada mobil Bung karno. Kaca dipecah, ban ditusuk bayonet, body dibuat penyok dan amukan-amukan lain tertuju pada mobil tak berdosa.
Adalah Tabib Sher pula yang kemudian menderek mobil Bung Karno yang dirusak tentara Sekutu Belanda-Inggris tadi, memperbaikinya dan menyerahkan kembali kepada Bung Karno melalui dr. Darmasetiawan yang waktu itu menjabat Sekjen kementerian Penerangan dan berkantor di Jl. Cilacap, Menteng, Jakarta Pusat. Begitulah seorang tabib berkebangsaan India yang dengan berani bersikap mendukung Indonesia merdeka. Mendukung Soekarno-Hatta sebagai Presiden dan Wakil Presiden.

Sementara itu, mobil yang dirusak diperbaiki atas tanggungan Tabib Sher dan saat mobil diperbaiki, Bung Karno sendiri dikabarkan sudah berada di Yogyakarta. Benar, Bung Karno beserta keluarga dan sejumlah pengikut maupun elite negeri hijrah ke Yogyakarta naik kereta api luar biasa. Tak lama sesampai di yogya, dimaklumatkan bahwa ibukota pemerintahan Republik Indonesia dipindah dari Jakarta ke Yogyakarta. Jakarta benar-benar sudah tidak aman buat Bung Karno dan para pejabat negara.
Contoh kasus seperti Bung Karno diadang tentara Sekutu, bisa terjadi terhadap pejabat mana pun. Sebab, dalam praktik memupus proklamasi, mereka melakukan tindakan-tindakan yang tidak nalar. Mereka menangkap orang sembarangan, menembak orng serampangan, menahan orang dengan ngawur, bahkan menggeledah rumah orang semau-mau mereka. Setiap hari pasti terjadi insiden di jalanan ibukota. Tentara Sekutu menggeledah penumpang bus, menahan orang di pasar, menembak orang yang sedang berjalan kaki dan berbagai insiden lain yang semua itu bertujuan mengendorkan spirit rakyat yang tengah dilanda euforia kemerdekaan.




No comments:

Post a Comment

PEMBANTAIAN MASSAL DI PABRIK GULA REJOSARI

Pada pukul 03:00 dini hari tanggal 18 September 1948, tangsi Polisi Gorang Gareng diserang beribu-ribu laskar FDR/PKI. Mereka membawa senj...