Friday, 10 August 2018

REPUBLIK SOVIET INDONESIA


Jumat malam tanggal 18 September 1948, seperti biasa penduduk kota Madiun tidak bisa tidur nyenyak karena sejak beberapa hari sebelumnya keadaan Madiun genting. Hari mereka selalu diselimuti perasaan takut terhadap bahaya yang setiap kali dapat datang dengan tiba-tiba. Berita. Berita-berita tentang penculikan dan pembunuhan secara biadab sangat mempengaruhi perasaan hati masyarakat Madiun. Berkebalikan dengan kegelisahan penduduk dan suasana kota yang sunyi senyap. Markas Brigade 29 justru dipenuhi oleh kesibukan tidak biasa. Demikian pula di markas-markas kesatuan FDR lainnya. Mereka sibuk mempersiapkan perlengkapan dan senjata yang tentunya untuk keperluan dinas mereka yaitu perang, suatu tugas maut yang paling menarik pada masa revolusi fisik.
Di kantor komandan, para perwira tengah sibuk menentukan siasat yang paling jitu bagi pergerakan pasukannya. Sedang di luar kantor, para prajurit dan pemuda dalam jumlah besar menanti instruksi dengan perasaan gusar. Seluruh anggota pasukan yang ada di tempat tersebut berpakaian tempur lengkap. Mereka duduk berkelompok sembari berbicara dengan rekam di sekeliling. Beberapa pemuda dengan penuh semangat membicarakan aksi yang akan mereka lakukan. Satu dua di antaranya mondar-mandir dalam keasaan siaga. Mereka sedang diistirahatkan sebagai persiapan menjalankan tugas yang sangat penting. Demikian pula setiap kesatuan yang berada di bawah pengaruh FDR telah terkonsinyir seolah-olah Madiun akan mengalami serbuan musuh.
Menjelang pukul 02:00 malam hari pasukan-pasukan tersebut telah berada di tempat yang telah ditentukan. Semuanya siap dengan senjata di tanga. Suasanan masih tetap sunyi, hanya sebentar-sebentar dipecahkan oleh suara kendaraan yang melintas di jalan raya. Lonceng jam dinding berbunyi dua kali. Tiba-tiba terdengar suara tembakan dari laras pistol, kemudian disusul dengan tembakan-tembakan yang semakin gencar membuat penduduk yang sedang tidur terperanjat. Mereka bergegas bangun dari tempat pembaringannya sambil bertanya-tanya dalam hati apakah yang terjadi? Banyak penduduk yang mengira letusan senjata tersebut berasal dari senapan tentara-tentara Belanda karena saat itu terdengar kabar bahwa Belanda telah bersiap menyerang Republik. Namun, tidak satu pun tentara Belanda terlihat.
Malam itu yang tampak tentara Republik yang berbaris bersama pemuda-pemuda mondar-mandir di jalan dengan air muka menunjukkan kegeraman. Mereka menduduki perempatan-perempatan jalan, kantor-kantor pemerintah dan tempat-tempat strategis lainnya. Kecurigaan penduduk semakin tinggi setelah melihat tanda-tanda pengenal yang dipakai angkatan tesebut lain dari hari-hari sebelumnya. Sementara itu, banyak truk simpang siur kesana kemari mengangkut tentara dan pemuda-pemuda dengan tanda-tanda pengenal pita merah yang diikatkan di kepala, penggang atau lengan baju.
Sekitar pukul 09:00, beberapa batalion dari Brigade 29 antara lain Yon Mustofa, Yon Abdulrachman, Yon Mursit dengan bantuan sepenuhnya dari paasukan-pasukan Kolonel Dachlan, Mayor Jokosuyono menduduki Markas Pertahanan Jawa Timur, STC Madiun, Depot Yon CPM dan asrama-asrama Polisi Negara. 1 jam kemudian Soemarsono yang secara formal juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum I BPKPRI menggunakan pemancar Gelora Pemuda Madiun untuk menyiarkan pengumuman kekuasaannya. Sekitar pukul 13:00, PKI mengadakan penangkapan-penangkapan terhadap para staf Pertahanan Jawa Timur antara lain: Letkol Marhadi, Letkol Wiyono, Mayor Bismo, Kapten Sidik Purwoko, Kapten Kartijo. Sementara itu, Kapten Kartijo dan Cuk disergap ketika mendapat tugas dari atasannya Letkol Marhadi untuk pergi ke Sarangan guna mengawal anggota KTN dari Amerika, Australia dan Belgia yang sedang menjalankan tugas untuk menyelesaikan pertikaian Indonesia Belanda. Namun ketika mereka sampai di Maosapati, jalan ditutup oleh PKI sehingga keduanya kembali ke Madiun. Dalam perjalanan menuju Madiun, mereka dicegat PKI dan kemudian dibawa ke Markas Pasukan Jokosuyono yang terletak di pabrik gula dekat Stasiun Madiun.
Dalam waktu singkat, kota Madiun telah jatuh. Lasar merah yang didukung Musso masuk ke Madiun, yang sebelumnya telah dikuasai oleh pasukan Soemarsono. Gerakan ini segera menyebar keseluruh wilayah Karasidenan Madiun, bahkan hingga di luar karasidenan seperti Magetan, kediri, wonogiri, Sukoharjo dan Purwodadi, dikuasai oleh laskar merah.
Namun, tampaknya terjadi perdebatan dalam tubuh PKI. Soemarsono, yang mengkoornisasikan militer dan memprakarsai pengembilalihan Madiun, dituding Musso telah melakukan tindakan yang tergesa-gesa. Sebaliknya, Soemarsono sendiri memandang bahwa militer yang mendukung komunis dalam peristiwa di Solo tidak mampu menandingi kekuatan pasukan Siliwangi sehingga kemudian mendorongnya untuk mempercepat proklamasi pemerintahan baru di Madiun.
                                                                     Musso

Musso sendiri sebenarnya masih ingin mematangkan gagasannya merebut simpati hati rakyat dengan cara melancarkan kampanye di berbagai daerah dan ketika Soemarsono melaksanakan operasi perebutan kekuasaan di Madiun, Musso beserta beberapa tokoh politik PKI lainnya tengah berada di Purwodadi, sebelah timur kota Semarang, untuk mengadakan rapat umum besar-besaran. Rapat tersebut segera dibatalkan setelah terdengar bahwa Pemerintah Front Nasional Daerah Madiun telah terbentuk. Musso tidak menduga Pesinddo akan melakukan perjuangan dengan jalan kekerasan karena sebenarnya dia masih ingin melanjutkan oposisinya melalui Parlemen atau dengan jalan damai sembari terus menggalang dukungan dari masyarakat. Namun rencananya terus hancur gara-gara tindakan para tokoh militernya, sehingga ia terpaksa harus berbah haluan. Perjalanan kampanye yang telah dirintis selama 3 pekan terpsa dihentikan. Musso terpaksa kembali ke Madiun untuk mendukung gerakan yang telah dilancarkan oleh para pimpinan militernya, walau penuh risiko yang sangat berat. Tidak ada pilihan baginya. Seandainya pun Musso tidak membantu Soemarsono dan kawan-kawan, kegiatan partainya tetap akan terhenti karena dapat dipastikan Pemerintahan Hatta akan segera membekukannya. Oleh karena itu, ia pun melakukan perlawanan sambil menunggu kemungkinan-kemungkinan pengarahan dari gerakan Komunis Internasional.
Desa Rejoagung yang berada di sebelah timur laut Madiun memiliki posisi strategis. Tempat ini jauh dari pusat kota madiun dan agak terlindung. Markas ini sendiri tidak begitu luas, namun cukup memenuhi kebutuhan pasukan pemberontak. Di desa itu, Musso segera menggelar pertemuan dengan pemimpin pemberontakan, Soemarsono. Pertemuan ini bersifat laporan dan penjelasan apa yang telah dilakukan Soemarsono beserta para komandan FDR lainnya. Musso yang masih lelah mendengarkan uraian Soemarsono dengan muka masam. Dari raut mukanya tergambar bayang-bayang gelap. Merka benar-benar telah dihadapkan kepada suatu “fait accompli”.
Demikianlah, dengan penuh keraguan Musso terpaksa meneruskan perjuangan yang telah dibuka oleh kawannya di Madiun, yang kenyataannya telah cukup berhasil. Ia menyadari tanggung jawabnya sebagai seorang pemimpin tertinggi organisasi FDR/PKI sehingga harus konsekuen terhadap sumpahnya. Sebagai tindak lanjut dari keputusan tersebut, dia memerintahkan pihak Soemarsono dan kawan-kawannya,  terus giat melancarkan operasi-operasi pembersihan terhadap mereka yang menentang kehendak mereka dan melakukan serangan-serangan untuk memperluas daerah kekuasaannya. Sementara itu, di lain pihak, jenderal Mayor Jokosuyono menyeru, melalui panggilan radio, komandan TNI untuk berunding guna membebaskan Madiun dari tangan kaum pemberontak. Tipu muslihatnya yang licik itu tidak dihiraukan oleh para Perwira TNI.
Sementara itu, Musso terus berupaya menggalang dukungan masyarakat dan berseru kepada seluruh rakyat Indonesia agar bersedia diajak menggulingkan Pemerintahan Soekarno-Hatta untuk kemudian membangun negara baru. Seruan Musso ini diucapkan melalui pidato radio sehari setelah coup dilancarkan yang kemudian juga dimuat dalam harian Front Nasional, sebuah harian resmi yang terbit di Madiun. Pada tanggal 18 September 1948, harian tersebut menyatakan bahwa penduduk kota Madiun telah mengambil oper kekuasaan negara di tangan mereka. Dengan kekuasaan tersebut rakyat Madiun telah melaksanakan kewajiban mereka dalam revolusi yang sebenarnya. Revolusi harus dipimpin oleh rakyat dan tidak boleh yang lain.
Hanya kurang lebih dalam tempo satu pekan, seluruh Keresidenan madiun telah jatuh ke tangan rezim PKI/Musso. Penjagaan yang dilakukan dengan ketat dan operasi-operasi pembersihan yang terus-menerus dilancarkan mengakibatkan suasana kota Madiun dan sekitarnya mencekam. Di sana sini hanya terlihat pasukan-pasukan Pesindo dengan pemuda-pemuda Komunis yang berkeliaran di jalan-jalan serta menjaga tempat-tempat strategis. Mereka menggunakan pakaian seragam hijau, hitam, cokelat dan mengenakan tanda-tanda pengenal khas orang-orang Komunis, ikat kepala merah atau ikat pinggang merah.
Seiring dengan dilancarkannya operasi-operasi di Madiun, beratus-ratus tentara dan rakyat yang dianggap memusuhi PKI ditangkap dan ditawan. Tanpa banyak bicarak semua yang dicurigai dibawa ke Markas Jokosuyono yang juga Markas Besar Pasukan Merah, yaitu pabrik Gula dekat Stasiun kereta api Madiun. Para tawanan dari tempat ini ditampung di dekat apotek dekat Hotel Merdeka di kota Madiun. Tidak ada di antara para tawanan yang dapat lolos dari hukuman mati yang dilakukan di Desa Kresek, di sebelah Timur Gunung Wilis kira-kira 15km dari Madiun. Mereka diperiksa, kemudian dibawa ke suatu tempat yang terpencil dan di sana dikumpulkan di dalam sebuah rumah dengan muka tertutup dan tangan diikat di belakang kemudian digiring ke tempat penembakan.
Sikap tentara FDR dan pemuda-pemuda merah ini tentu saja tidak mengundang simpati masyarakat. Kekejaman dan kesewenangan yang mereka lakukan justru membuat antipati masyarakat terhadap orang-orang komunis dan ideologinya makin meningkat. Masyarakat hanya bersedia tunfuk karena takut terhadap kekejaman orang-orang komunis. Suasana menjadi lesu kehidupan masyarakat sehari-hari macet, pasar menjadi sepi, toko-toko, sekolah-sekolah dan kantor-kantor pemerintah sebagian besar tutup. Meski demikian, masaih ada segolongan masyarakat yang menunjukkan sikap anti pati dan bermusuhan terhadap kekuasaan PKI Musso. Mereka itu tidak lain golongan pelajar yang sejak timbulnya pergerakan kebangsaan telah memberikan andil yang tidak sedikit.
Saat itu, organisasi pelajar merupakan perkumpulan yang tidak berhaluan dan berpendirian tegas: “Berjuang demi nusa bangsa”. Para pelajar Madiun yang tergabung dalam TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar), TGP (Tentara Geni Pelajar), TP (Tentara Pelajar) menunjukkan sikap permusuhan terhadap kekuasaan PKI Musso. Tentu saja sikap tegas para pelajar ini mengundang reaksi dari laskar merah. Pada tanggal 22 September 1948 sekitar jam 15:00 satu Seksi Tentara Pesindo beraksi di asrama TRIP untuk melucuti percenjataan mereka. Namun para pelajar yang loyal terhadap pemerintah itu melawan. Akibatnya, timbul banyak korban sementara yang selamat ditahan.
Peristiwa ini membawa akibat negatif bagi kelangsungan hidup rezim PKI.Musso. kekalahan tersebut tidak menyurutkan tekad para pelajar untuk terus melancarkan perlawanan. Para pelajar membentuk sebuah organisasi baru yang bernama PAM (Patriot Anti Musso). Dari namnya saja mereka mengakui bahwa Republik sebagai penguasa yang sah dan menolak pemerintahan Musso, bahkan berusaha keras untuk menghabcurkannya. Usaha aparat pemerintahan Musso untuk merangkul mereka dengan janji dan harapan-harapan tidak mengubah sedikit pun sikap dan pendirian para pelajar Madiun ini sehingga hubungan mereka semakin meruncing. Sikap para pelajar kota Madiun ketika itu merupakan cermin dari pendirian rakyat Indonesia terhadap pemberontakan PKI/Musso di Madiun.
Setelah Madiun dikuasai, Musso sebagai pimpinan negara baru, segera membentuk apa yang disebut sebagai “Pemerintahan Front Nasional” dan menunjuk orang-orangnya untuk mengisi berbagai jabatan agar roda pemerintahan berjalan. Kolonel Soemarsono menduduki jabatan sebagai Gubernur Militer Madiun. Jenderal Mayor Jokosuryono menduduki jabatan Komandan Militer Madiun. Untuk Gubernur Sipil ditunjuk Soepardi. Demi kelancaran pemerintahan, Residen Abdul Mutholib mengangkat kurang lebih 15 pejabat Front Nasional. Mutholib segera menertibkan bidang tugasnya dengan mengeluarkan peraturan-peraturan yang menghapus pajak pendapatan, pendaftaran barang-barang perhiasan, harta kekayaan dan sebagainya.

No comments:

Post a Comment

PEMBANTAIAN MASSAL DI PABRIK GULA REJOSARI

Pada pukul 03:00 dini hari tanggal 18 September 1948, tangsi Polisi Gorang Gareng diserang beribu-ribu laskar FDR/PKI. Mereka membawa senj...